Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Thursday, February 23, 2017

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh

Setiap manusia normal tentu memiliki sisi baik dan sisi buruk. Terdengar klise memang, tetapi sering kali kita melupakan hal ini sehingga kita menjadi fanatik cinta dan fanatik benci. Tengoklah para pelaku sejarah, kehebatan ataupun kejelekannya tergantung siapa yang menuliskannya. Yang mengagumi tentu memujanya, dan yang membencinya tentu rajin mencari-cari kesalahannya.

Ambil contoh Amru bin Ash. Saya pernah datang ke Masjid Amru bin Ash di Mesir. Beliau seorang sahabat Nabi yang memeluk Islam pada tahun kedelapan Hijriah. Berkecamuk perasaan: saya membaca buku sejarah bagaimana siasat yang digunakan Amru bin Ash dalam peristiwa tahkim yang menyudahi perang siffin antara Khalifah Ali dan Gubernur Muawiyah. Singkat cerita, beliau seorang politisi yang menyalahi kesepakatan.

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)


Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh

Namun buku sejarah juga bercerita bagaimana sumbangsihnya yang luar biasa terhadap Islam. Rasulullah mengirimnya ke Oman dan berhasil mengislamkan pemimpin di sana. Khalifah Abu Bakar mengirimnya ke Palestina dan setelah merebut kota suci itu dari Byzantium lalu menjadi Emir di sana. Khalifah Umar mengirimnya membebaskan Mesir dan menjadikannya Gubernur. Masjid Amru bin Ash yang saya ziarahi tahun 2012 itu merupakan lokasi tempat beliau berkemah di kota Fustat, Mesir, dan itu adalah Masjid pertama yang berdiri di Afrika.

Bagaimana kemudian saya harus menilai Amru bin Ash: seorang politisi busuk atau seorang pahlawan Islam? Saya menyudahi kebimbangan saya dengan menunaikan shalat di Masjid Amru bin Ash yang sangat bersejarah itu seraya mendoakan kebaikannya.

Habib Syech Bersholawat

Bagaimana pula dengan al-Hajjaj bin Yusuf, Gubernur Iraq pada masa Dinasti Umayyah berkuasa? Inilah Panglima Perang yang memborbardir Mekkah dengan panah api ketika terjadi bentrokan dengan Abdullah bin Zubair. Tindakan al-Hajjaj bukan saja membunuh banyak penduduk Mekkah, namun juga turut membakar Kabah.

Habib Syech Bersholawat

Saat al-Hajjaj menjadi Gubernur diangkat oleh Khalifah Marwan, sejarah mencatat berbagai kekejian dan kekejaman yang dilakukannya. Selain membunuh sahabat Nabi Abdullah bin Zubair, al-Hajjaj juga membunuh 2 sahabat lainnya: Jabir bin Abdullah, Kumail bin Ziad dan satu ulama besar yaitu Said bin Jubair. Pada gilirannya, wafatnya al-Hajjaj disambut suka cita oleh para ulama dan rakyat. Mereka lega bisa terbebas dari kekejaman al-Hajjaj.

Namun demikian dikabarkan bahwa al-Hajjaj itu sangat bagus hafalannya terhadap al-Quran. Bukan cuma itu sejarah juga mencatat jasanya yang menambahkan baris tanda baca dalam mushaf al-Quran sehingga memudahkan kita semua sampai sekarang. Itu artinya, setiap Muslim yang membaca mushaf al-Quran pahalanya akan mengalir sampai ke al-Hajjaj. Subhanallah.

Al-Hajjaj juga berjasa mengirim jenderal dan pasukannya memperluas wilayah kerajaan Islam. Beliau juga memperhatikan soal ekonomi dengan mencetak mata uang sendiri, dan tidak lagi menggunakan mata uang peninggalan Byzantium dan Sasanid. Dia juga menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi di Iraq, menggantikan bahasa Parsi. Ekspedisi militer, konsolidasi ekonomi umat dan penguatan bahasa merupakan sumbangsih al-Hajjaj.

Sekali lagi, sejarah selalu menceritakan sisi baik dan sisi buruk. Pelajari hal-hal baik dari para tokoh besar di masa lampau, dan jangan ulangi kekeliruan yang telah mereka lakukan.

Dan bagaimana nasib para tokoh seperti Amru bin Ash dan al-Hajjaj kelak di akhirat? Tentu itu hak prerogatif Allah untuk menentukannya. Bukan wilayah kita untuk memberikan keputusan. Lebih baik kita fokus pada keburukan kita sendiri ketimbang sibuk membicarakan keburukan orang lain. Ngaca yuk...

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77317/sisi-baik-dan-sisi-buruk-para-tokoh

Habib Syech Bersholawat

Sunday, October 30, 2016

Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas

Jakarta, Habib Syech Bersholawat. Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengancam akan mengakhiri persatuan dengan Hamas jika gerakan Islam tersebut tidak memungkinkan pemerintah beroperasi dengan baik di Jalur Gaza.

Pernyataan itu disampaikan pada malam pembicaraan di Kairo dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi setelah hampir dua minggu gencatan senjata yang mengakhiri konfrontasi besar selama 50 hari dengan Israel di Gaza, seperti dilaporkan oleh Al Arabiya.

Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas (Sumber Gambar : Nu Online)


Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas

"Kami tidak akan menerima situasi dengan Hamas terus seperti itu saat ini," kata Abbas pada saat kedatangan di ibukota Mesir pada Sabtu malam, dalam sambutannya yang dipublikasikan oleh kantor berita resmi Palestina WAFA.

"Kami tidak akan menerima kemitraan dengan mereka jika situasi terus seperti ini di Gaza di mana ada pemerintah bayangan ... menjalankan wilayah," katanya.

Habib Syech Bersholawat

"Pemerintahan konsensus nasional tidak dapat berbuat apa-apa di lapangan," katanya.

Habib Syech Bersholawat

Menurut ketentuan kesepakatan rekonsiliasi yang ditandatangani pada bulan April, Palestina sepakat untuk membentuk pemerintah konsensus interim yang dijalankan oleh para teknokrat, yang mengakhiri tujuh tahun pemerintahan saingan di Tepi Barat dan Gaza.

Kesepakatan tersebut berusaha untuk mengakhiri tahun pahit dan kadang-kadang berdarah akibat persaingan antara gerakan Hamas dan Fatah, yang mendominasi Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat.

Kabinet baru, yang berbasis di Ramallah, mulai menjabat pada tanggal 2 Juni, pada saat yang sama pemerintah Hamas di Gaza secara resmi mengundurkan diri. Meskipun telah terjadi serah terima, Hamas tetap memiliki kekuatan secara de facto di Gaza. (mukafi niam) foto: reuters

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54315/presiden-palestina-ancam-akhiri-persatuan-dengan-hamas

Habib Syech Bersholawat

Saturday, January 9, 2016

STAI Al-Anwar Rembang Menuju Juara Umum Porseni Se-Jateng

Rembang, Habib Syech Bersholawat. Sebanyak 24 kontingen dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang mengikuti perhelatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat Perguruan Tinggi Keagamaan se-Jawa Tengah yang diselenggakan 26 hingga 28 Agustus 2016 di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

Muhammad Afif, bagian urusan teknis tim STAI Al-Anwar Sarang mengatakan, dari 24 kontingen yang diturunkan ada 7 cabang lomba yang diikuti, yaitu futsal, bulutangkis (tunggal dan ganda putra-putri), tenis meja (tunggal dan ganda putra-putri), catur (putra-putri), debat ilmiah, MTQ dan MQK (Musabaqah Qiraatil Kutub).

STAI Al-Anwar Rembang Menuju Juara Umum Porseni Se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
STAI Al-Anwar Rembang Menuju Juara Umum Porseni Se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)


STAI Al-Anwar Rembang Menuju Juara Umum Porseni Se-Jateng

Sementara ini kampus yang digawangi oleh Dr KH Abdul Ghofur Maimoen, putra dari KH Maimoen Zubair (Mustasyar PBNU) ini telah berhasil meraih 3 emas dan 1 perak. Jumlah ini imbang dengan capaian tuan rumah, Unwahas, yang mendapat 3 emas.

Habib Syech Bersholawat

Mendali tersebut diraih oleh tim STAI Al-Anwar, antara lain Amel Saadah (cabang catur putri), Wail Muklis (MQK putra), Umairul Habib (cabang bulu tangkis tunggal putra). Sedangkan 1 perak didapat oleh Anisatul Khoiriyah dari cabang MQK putri.

"Dari hasil ini, sangat memungkinkan kontingen STAI AL-Anwar merebut juara umum pada kejuaraan kali ini. Tiga emas dan satu perak ini imbang dengan tuan rumah Unwahas. Dan nanti malam (Sabtu malam) akan berlangsung lomba debat ilmiah yang dapat menentukan siapa yang mendapat juara umum," terangnya kepada Habib Syech Bersholawat saat dihubungi via telepon, Sabtu (27/8) malam.

Dalam Porseni Perguruan Tinggi Keagaaman kali ini diikuti sebanyak 39 Perguruan Tinggi yang ada di Jawa Tengah. Diantaranya dua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) yang berada di Kabupaten Rembang. Yakni STAI Al-Anwar dan STAI Al-Kamal Sarang Rembang.

Habib Syech Bersholawat

Pihaknya mengatakan, bahwa ini merupakan buah hasil dari semua elemen. Sehingga sampai saat ini STAI Al-Anwar berhasil memperoleh 3 emas dan 1 perak. Sehingga masih besar kemungkinan untuk mendapatkan juara umum pada kejuaaran ini.

"Di STAI Al-Anwar tidak hanya meningkatkan kualitas akademiknya saja, tetapi juga skill lain, baik olahraga maupun keahlian yang lainnya. Ini wujud dari semangat dan kerjasama semua elemen" ujar Pembantu Ketua 3 STAI Al-Anwar tersebut. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70780/stai-al-anwar-rembang-menuju-juara-umum-porseni-se-jateng

Habib Syech Bersholawat

Friday, June 12, 2015

Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran

Boyolali, Habib Syech Bersholawat. Usai dilepas secara simbolis oleh ketua tanfidziyah, rombongan takbir keliling MWCNU Sawit Boyolali Jawa Tengah, mulai berjalan dari lapangan Gombang menyusuri kampung-kampung, Sabtu (5/10) kemarin.

Pantauan Habib Syech Bersholawat, rombongan tersebut diikuti ratusan orang, dari anggota NU dan Banom. Rombongan berjalan beriringan pelan, dengan mengendarai mobil dan sepeda motor.

Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran (Sumber Gambar : Nu Online)
Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran (Sumber Gambar : Nu Online)


Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran

Menurut salah satu panitia, Munshorif, acara takbir keliling ini diselenggarakan untuk memeriahkan malam Idul Adha 1435 H. Ditambahkan olehnya, kegiatan takbir keliling ini diikuti oleh 11 ranting.

Alhamdulillah, pesertanya bertambah lebih banyak dibanding tahun lalu. Kali ini kita keliling ke sejumlah desa di kecamatan Sawit, terangnya.

Habib Syech Bersholawat

Ketua PAC Ansor Sawit tersebut menambahkan tujuan acara ini, yakni sebagai syiar Islam dan NU. Agar NU di Sawit juga semakin dikenal oleh masyarakat, ujarnya.

Habib Syech Bersholawat

Sebelum berangkat, tak lupa mereka berdoa terlebih dahulu, dipimpin oleh Rais Syuriyah MWCNU Sawit Kiai Joko Parwoto. Seakan tak mau kalah dengan yang lain, Kiai Joko pun ikut dalam rombongan pawai dengan memasang bendera merah putih dan NU di depan mobil. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54915/keliling-kampung-nu-sawit-ajak-warga-takbiran

Habib Syech Bersholawat

Tuesday, November 12, 2013

Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah)

Habib Syech Bersholawat - Rasulullah SAW adalah sosok pribadi yang tidak lepas dari cintanya kepada tanah air dan kampung halamannya. Hal ini terbukti dari ekspresinya ketika ia memasuki kota Madinah sepulang dari luar kota. Melihat perbukitan Madinah, beliau mempercepat ontanya.

Sementara, setiap kali melihat Kakbah, Rasulullah SAW mengangkat tangan dan mendoakannya. Ini menunjukkan cinta Rasulullah SAW pada tanah airnya. Berikut ini doanya.

Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah) - Habib Syech Bersholawat
Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah) - Habib Syech Bersholawat


Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah)

اَللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا، وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً

Habib Syech Bersholawat

Allâhumma, zid hâdzal baita tasyrifan, wa ta‘zhîman, wa takrîman, wa mahâbatan.

Artinya, “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kemegahan, dan kewibawaan untuk rumah (Kakbah) ini.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Imam As-Syafi’i dalam Musnad-nya. Doa ini dibaca Rasulullah SAW ketika memasuki kota Mekah dan melihat Kakbah. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/bukti-rasulullah-cinta-tanah-air.html

Habib Syech Bersholawat

Saturday, September 15, 2012

Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii

Buku Manhaj Salafi Imam Syafi’i (MSIS) ditulis oleh Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu, dengan kata pengantar Dr Arifin Baderi dan Dr Nur Ihsan dari Jember. Berikut tanggapan kami dengan narasi dialog agar mudah difahami.

WAHABI: Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga. (Buku MSIS hlm 60).

SUNNI: Jelas tidak benar. Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga. Demikian pula ulama-ulama salaf yang lain, tidak pernah menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga.

Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii - Habib Syech Bersholawat
Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii - Habib Syech Bersholawat


Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii

Karena yang pertama kali melakukan pembagian tauhid menjadi tiga, justru Ibnu Taimiyah, ulama yang hidup pada abad kedelapan Hijriah. Lalu pembagian tauhid tiga ini disebarluaskan oleh kaum Wahabi sejak abad kedua belas Hijriah.

WAHABI: Yang menunjukkan pembagian tersebut, cukuplah di antaranya ucapan Imam al-Syafi’i tatkala berkata:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ … وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

Habib Syech Bersholawat

“Segala puji hanya bagi Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya kemudian orang-orang kafir menyimpang … Dan orang-orang yang menyifatkan hakikat keagungan-Nya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.” (Al-Imam al-Syafi’i, al-Risalah, hlm 101).

Ucapan beliau “yang menciptakan langit dan bumi” adalah tauhid rububiyyah.

Ucapan beliau “kemudian orang-orang kafir menyimpang” adalah tauhid uluhiyyah, karena penyimpangan mereka bukan pada tauhid rububiyyah, melainkan dalam uluhiyyah..

Habib Syech Bersholawat

Ucapan beliau “orang-orang yang menyifatkan tentang keagungan-Nya” adalah tauhid asma’ wa shifat. (MSIS hlm 62).

SUNNI: Kutipan dari Imam al-Syafi’i di atas justru bertentangan dengan tauhid tiga wahabi yang Anda bawakan. Anda juga telah mentahrif (melakukan distorsi) terhadap pernyataan Imam al-Syafi’i di atas. Berikut kami jelaskan bukti-bukti kesalahan Anda yang fatal dalam mengartikan perkataan Imam al-Syafi’i di atas.

Pertama, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ

“Segala puji hanya bagi Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya”

Sebagaimana dimaklumi, perkataan al-Imam al-Syafi’i di atas adalah iqtibas (petikan) dari ayat al-Qur’an Surah al-An’am. Dalam ayat di atas, lafal Allah, yang berarti Uluhiyyah, dikaitkan dengan penciptaan langit-langit, bumi, kegelapan dan cahaya. Dengan demikian, seharusnya ayat tersebut dikaitkan dengan tauhid uluhiyyah, agar selaras dengan lafal Allah. Tetapi Anda dengan semborononya mengaitkannya dengan tauhid rububiyyah. Ini jelas kesalahan fatal.

Kedua, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

“kemudian orang-orang kafir menyimpang”

Terjemahan Anda terhadap ayat tersebut adalah tidak benar. Para ulama menerjemahkan ayat tersebut dengan:

“namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”

Jadi lafal ya’diluun, oleh para ulama diartikan mempersekutukan dan menyamakan Tuhan dengan selain Tuhan, bukan diartikan menyimpang.

Dalam ayat tersebut, lafal rabbihim, yang berarti rububiyyah, dikaitkan dengan kemusyrikan orang-orang kafir. Dengan demikian, seharusnya, kalau Anda sebagai Wahabi konsisten dengan kalimat di atas, ayat tersebut berkaitan dengan tauhid rububiyyah, bukan uluhiyyah, agar selaras dengan lafal rabbihim dalam ayat tersebut. Tetapi Anda, justru memahaminya sebagai tauhid uluhiyyah. Jadi Anda membolak-balik pernyataan ulama selevel Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, agar sesuai dengan pembagian tauhid Wahabi.

Dan apabila Anda konsisten mengikuti pernyataan Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu secara benar, maka batallah pembagian tauhid menjadi tiga ala wahabi yang Anda sebarkan. Dan nyatalah kebohongan Anda kepada umat Islam.

Ketiga, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

“Dan orang-orang yang menyifatkan hakikat keagungan-Nya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.”

Fragmen tersebut sebenarnya memberikan pengertian bahwa al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu beri’tiqad bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bukan benda yang tersusun (jisim) dan bukan pula menetap pada suatu arah. Karena seandainya Allah itu berupa benda atau menetap pada suatu arah, tentu orang-orang yang menyifati-Nya akan bisa sampai pada hakikat keagungan-Nya. Ternyata di sini Imam al-Syafi’i, menegaskan bahwa orang-orang yang menyifati-Nya tidak akan sampai pada hakikat keagungan-Nya, sebagaimana Dia menyifati diri-Nya, dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya. Pernyataan tersebut sekaligus membatalkan terhadap konsep akidah Wahabi yang meyakini bahwa Tuhan bertempat di Arasy, dan bentuknya seperti seorang laki-laki yang masih muda dan tanpa jenggot. Allah Maha Suci dari menyerupai apapun. Para ulama salaf berkata:

كُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ لَيْسَ كَذَلِكَ

Setiap apa yang terlintas dalam pikiranmu, maka Allah tidak seperti itu.

Keyakinan bahwa wujudnya Allah tanpa tempat dan arah, adalah kesepakatan Ahlussunnah Wal-Jama’ah sejak generasi salaf yang saleh. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh seorang ulama salaf, yaitu al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi dalam al-‘Aqidah al-Thahawiyyah:

تَعَالَى (يَعْنِىْ اللهُ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالْغَايَاتِ وَاْلأَرْكَانِ وَاْلأَدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.

Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, sehingga Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti tangan, wajah dan anggota badan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang), tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut. (Al-‘Aqidah al-Thahawiyyah).

Pernyataan al-Imam al-Thahawi tersebut merupakan ijma’ (konsensus) para sahabat dan ulama salaf yang saleh, karena al-Imam al-Thahawi menulis kitabnya, al-‘Aqidah al-Thahawiyyah sebagai rangkuman dari akidah-akidah yang menjadi keyakinan seluruh sahabat dan ulama salaf yang saleh. Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi juga mengatakan:

وَأَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَانٌ.

Ahlussunnah Wal-Jama’ah juga bersepakat, bahwa Allah itu tidak diliputi oleh tempat dan tidak dilalui oleh zaman. (Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tanpa tahun, hlm. 256).

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak berakidah seperti Wahabi, yang membagi tauhid menjadi tiga, rububiyyah, uhuliyyah dan asma’ wa shifat.

WAHABI: Sebagai bukti bahwa Imam al-Syafi’i meyakini tauhid uluhiyyah ala Wahabi, adalah larangan beliau membuat bangunan di atas kuburan.

SUNNI: Anda pasti salah fatal lagi.

WAHABI: Kok salah fatal sih. Coba lihat dalam kitab al-Umm, al-Imam al-Syafi’i berkata:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً … وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك فَإِنْ كانت الْقُبُورُ في اْلأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى في حَيَاتِهِمْ أو وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لم يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى منها وَإِنَّمَا يُهْدَمُ أن هُدِمَ ما لَا يَمْلِكُهُ أَحَدٌ فَهَدْمُهُ لِئَلاَّ يُحْجَرَ على الناس مَوْضِعُ الْقَبْرِ فَلاَ يُدْفَنُ فيه أَحَدٌ فَيَضِيقُ ذلك بِالنَّاسِ

Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dibangun… Aku mendapati para imam di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan aku tidak mendapati para ulama mencela hal itu. (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm juz 1 hlm 277). (DIKUTIP DARI MSIS hlm 68).

SUNNI: Itu bukti ketidakjujuran Anda. Mengapa demikian?

Pertama, al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak suka membangun kuburan, bukan karena berkaitan dengan kesyirikan dan pelanggaran tauhid uluhiyyah seperti yang digembar-gemborkan Wahabi Anda. Tetapi karena faktor, kuburan itu bukan tempat perhiasan dan kesombongan, sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam al-Syafi’i sendiri dalam pernyataan di atas.

Kedua, Anda melakukan kesalahan dalam menerjemahkan perkataan al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu di atas. Harusnya Anda terjemahkan, aku mendapati sebagian wali (penguasa) di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan di atas kuburan tersebut.

Ketiga, Anda telah membuang perkataan Imam al-Syafi’i yang tidak sesuai dengan selera hawa nafsu Anda. Perkataan al-Imam al-Syafi’i yang Anda buang menjadi bukti bahwa perobohan bangunan di atas kuburan tersebut, ketika kuburan itu milik umum, bukan milik pribadi. Jadi masalah pembongkaran kuburan tersebut tidak ada kaitannya dengan syirik dan tauhid uluhiyyah ala Wahabi. Perkataan tersebut selengkapnya begini:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً … وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك فَإِنْ كانت الْقُبُورُ في اْلأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى في حَيَاتِهِمْ أو وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لم يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى منها وَإِنَّمَا يُهْدَمُ أن هُدِمَ ما لَا يَمْلِكُهُ أَحَدٌ فَهَدْمُهُ لِئَلاَّ يُحْجَرَ على الناس مَوْضِعُ الْقَبْرِ فَلاَ يُدْفَنُ فيه أَحَدٌ فَيَضِيقُ ذلك بِالنَّاسِ

Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dibangun… Aku mendapati para imam di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan aku tidak mendapati para ulama mencela hal itu. APABILA KUBURAN YANG DIBANGUN ITU HAK MILIK SI MATI KETIKA MASIH HIDUPNYA ATAU AHLI WARIS MEREKA SETELAH KEMATIANNYA, MAKA BANGUNAN ITU TIDAK BOLEH DIROBOHKAN. BANGUNAN KUBURAN YANG DIROBOHKAN HANYALAH YANG BUKAN HAK MILIK SESEORANG. MEROBOHKANNYA AGAR TIDAK MENGHALANGI ORANG LAIN UNTUK DIMAKAMKAN DI KUBURAN TERSEBUT, SEHINGGA MEMBUAT SEMPIT BAGI BANYAK ORANG. (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm juz 1 hlm 277)

HATI-HATI baca buku terjemahan, banyak yang disunat demi sesuatu.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/01/membongkar-dusta-buku-manhaj-salafi.html

Tuesday, August 7, 2012

Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai

Habib Syech Bersholawat - Seorang Gus dari desa memiliki kesempatan untuk belajar di Arab, di sebuah kota yang cukup sekuler. Selama ini dia hidup di tengah-tengah relijiusitas yang kuat. Dia menjadi muslim yang taat, dan itu dia jalani sebagai sesuatu yang sangat wajar. Ketaatan berlangsung begitu saja, tanpa perjuangan yang pantas untuk diceritakan. Semua yang dia kenal juga kira-kira seperti itu adanya. Memang tidak maha taat, tapi cukup lah untuk disebut ‘alim’.

Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai
Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai


Tapi kini dia hidup di lingkungan yang berbeda. Negara yang dia diami memang kategori negara Islam, bahkan salah satu kiblat negara Islam. Tapi lingkungan yang menaunginya sekarang berbeda sekali. Dahulu dia sangat jarang—tepatnya sulit untuk—salat subuh telat. Orang-orang dan suasana di sekelilingnya tak banyak memberi kesempatan kepada dia untuk telat subuh.

Tapi kini, dia melihat orang-orang sedang lelap-lelapnya ketika azan Subuh dikumandangkan. Mula-mula dia merasakan kejanggalan. Minggu-minggu berikutnya dia terbiasa. Dan bulan-bulan selanjutnya bahkan mulai mengikutinya, sebelum kemudian ikut “menikmatinya”.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari ABG telat. Dandannya, gaya hidupnya, dan model pakaiannya adalah style ABG kesiangan. Yang lebih nggirisi, perubahan itu tidak hanya pada luarnya saja, tapi juga pada batinnya: jiwanya benar-benar menikmati itu. Gaya dan jiwa seorang Gus pesantren banyak tereduksi.

Beruntung sekali, meski terseok-seok, studinya akhirnya rampung juga. Saatnya dia harus pulang kampung, kembali ke pesantren. Sungguh di luar dugaan, dia disambut oleh “umatnya” bak seorang pangeran yang berhasil merampungkan uji kamukten. Dia tidak saja dianggap telah menguasai “ilmu kulit”, tapi juga mampu meresapi “ilmu biji”. Tangan yang acap dia gunakan untuk memetik senar gitar tiba-tiba saja berubah menjadi seperti tangan suci kekasih Allah yang dibuat rebutan untuk diciumi.

Gus sudah kembali seperti semula. Tak lagi dia menjemur Subuh di bawah terik matahari, dan juga tak lagi ber-ABG yang tidak pantas. Bahkan sekarang dia punya tugas baru, yaitu menjadi imam salat rawatib dan mengajar kitab-kitab kuning, sehingga beberapa kalangan sudah menyebutnya dengan kyai. Salah satu kitab favoritnya adalah “Hikam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari”, karena sebenarnya lebih merupakan petuah-petuah untuk dirinya ketimbang untuk santri-santrinya.

Suatu pagi dia meneruskan pengajian Hikamnya:

“laa tashhab man laa yunhidhuka haaluh-u wa laa yadulluka ala Allaah-i maqaaluh-u”

“Jangan jadikan sebagai sahibmu seseorang yang tindak-tanduknya tidak membangkitkan dirimu dan tutur-katanya tidak mengantarkan dirimu kepada Allah.”

“Banyak yang mengira, kyai adalah yang menjaga santri-santrinya. Demikian ini tidak sepenuhnya benar. Banyak kyai yang justru dijaga oleh santri-santrinya. Kalau dia hidup terpisah dari santri-satrinya boleh jadi dia tidak akan khusyuk dan alim seperti biasanya. Saya termasuk kyai kategori ini. Oleh karena itu saya sangat suka dengan santri-santri dan akan selalu menjadikan mereka sebagai sahib-sahib yang mengingatkan diriku kepada Allah.

Seorang mursyid waskita suatu ketika ditanya oleh seorang muridnya:

“Apa rahasianya Tuan Guru begitu dekan dengan Allah SWT ..?”

Beliau menjawab:

“Itu hanya perasaanmu saja .. yang hebat adalah mereka-mereka itu. Aku hanya ditunjuk saja untuk memimpin ..”

Mungkin Guru Waskita itu merasa, bahwa andai benar dia dekat dengan Allah maka itu tak lain adalah karena murid-murid itu yang menjaganya.” [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/putra-kiai-bergitar-yang-dijaga-santrinya-hingga-jadi-kiai.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock