Showing posts with label Nu Online. Show all posts
Showing posts with label Nu Online. Show all posts

Tuesday, March 14, 2017

Asad: Indonesia Sedang Alami Liberalisasi

Kudus, Habib Syech Bersholawat. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Asad Said Ali mengingatkan kepada warga NU untuk mengantisipasi paham-paham liberal baik di sektor ekonomi maupun agama. Paham tersebut, menurutnya, telah menyiapkan skenario terjadinya perang peradaban.

"Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU) harus menjadi ujung tombak untuk melakukan pembenahan-pembenahan organisasi. Jangan sampai kita kemasukan paham-paham seperti itu dan dianggap sebagai liberal," katanya saat menjadi pembicara kunci dalam acara Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) yang diselenggarakan PC Lakpesdam Kudus bekerja sama dengan PP Lakpesdam di Pesantren Raudlatul Mutaallimin, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (20/3).

Asad: Indonesia Sedang Alami Liberalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad: Indonesia Sedang Alami Liberalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Asad: Indonesia Sedang Alami Liberalisasi

Asad menyatakan belakangan ini bangsa Indonesia telah mengalami gerakan liberalisasi pada sektor ekonomi. Menurutnya, kekayaan negara sudah dikuasai pihak asing sehingga berdampak pada masyarakat menjadi terpinggirkan.

Untuk melawan liberalisasi ekonomi itu, ia menegaskan NU harus bisa mengembangkan etos kewirausahaannya dan menciptakan banyak pedagang andal dan besar untuk kemajuan Nahdaltul Ulama.

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

"NU harus membangun kembali Nahdlatut Tujjar untuk menjadikan seorang saudagar maupun pedagang. Bukan berbentuk koperasi, karena koperasi terlalu lama," ujarnya.

Di samping pada sektor ekonomi, kata Asad, agama juga ingin diliberalkan. Kelompok liberal menyebarkan konsep tasamuh (toleransi) ala Barat yang membolehkan menghujat agama lain.

"Indonesia mau diadakan untuk menjadi liberal terkait penistaan agama yang UU-nya mau dihapuskan. Termasuk contoh lain membolehkan pernikahan sejenis. Kita harus perhatikan hal ini," tandas Asad.

Asad menilai pemahaman tentang toleransi masih terjadi perbedaan pandangan di antara kelompok. Karenanya keduanya perlu dirumuskan terlebih dahulu. "Sekarang ini belum ada rumusannya terhadap orang yang menyebarkan dakwah secara pura-pura, menyinggung perasaan orang dan mengkafir-kafirkan," tegasnya.

Ia menengarai ada upaya kelompok lain yang ingin selalu memprovokasi NU agar orang-orang NU melakukan kekerasan. "Maka harus kita hadapi dengan dialog dan memperkuat pengetahuan kita tentang dalil-dalil agama yang kuat untuk menghadapi mereka," ungkapnya.

Kegiatan PPWK ini berlangsung mulai Jumat-Ahad (20-22/3) dan diikuti 45 peserta dari kalangan kiai muda pengasuh pesantren se-Kabupaten Kudus. Selain H Asad Said Ali (Wakil Ketum PBNU), turut hadir sebagai narasumber H. Abdul Ghafur Maimun (Pengasuh Pesantren Sarang, Rembang), H. Abudl Munim DZ (Wakil Sekjen PBNU), H Abu Hafsin (ketua PWNU Jateng), serta dari tim PP Lakpesdam NU, yakni Yahya Mashum, Marzuki Wahid, dan Ahmad Baso. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58348/as039ad--indonesia-sedang-alami-liberalisasi

Monday, February 27, 2017

Kiai Gholib, Lampu Terang di Bambu Seribu

Keberadaan KH Gholib di daerah bambu seribu atau Pringsewu, Provinsi Lampung membawa "lampu yang terang". Begitu H. A Musa Achmad pada tahun 1973 menggambarkannya. Lampu adalah madrasah, penerang anak-anak dengan pendidikan agama Islam.

Berikut kisah KH Gholib dalam perjuangan di bidang agama, pendidikan dan sosial yang dituturkan Dr. Dra. Hj. Farida Ariyani, M.Pd, cucu KH Gholib, di Pringsewu, Jumat (14/11).

"Madrasah didirikan simbah kakung sederhana dan cukup untuk belajar 20 orang, terdiri atas tiga lokal berlantai tanah, berdinding geribik dan beratap genteng," ujar Farida.

Kiai Gholib, Lampu Terang di Bambu Seribu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Gholib, Lampu Terang di Bambu Seribu (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Gholib, Lampu Terang di Bambu Seribu

Guru pertama di madrasah KH Gholib bernama H.M Nuh, berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Pada tahun 1942, di masa penjajahan Jepang, lembaga pendidikan KH Gholib tetap berjalan terus dan mengalami kemajuan sangat pesat.

Habib Syech Bersholawat

Madrasah semakin maju ditandai dengan banyaknya santri dan juga hadirnya para guru madrasah baik dari Jawa maupun dari Lampung. Dengan keadan itu, ia mendirikan pesantren. Kondisi itu menarik minat belajar, mencapai 1.000 murid berasal dari Lampung, Palembang, Bengkulu dan Jambi.

Habib Syech Bersholawat

Kompetensi yang dikembangkan di madrasah itu antara lain: bahasa Arab, nahwu, shorof, membaca Quran dengan fasih dan lagu yang merdu, memelihara waktu ibadah (tiba waktu sholat siswa dan guru harus sholat berjamaah di masjid).

"Lalu di malam Jumat dilakukan pembacaan Berzanji dan marhaban. Hal itu yang menjadi beberapa sebab madrasah dan Pondok Pesantren KH Gholib menjadi maju pada saat itu," papar Farida lagi.

Di madrasah itu, semua siswa belajar dengan gratis. Semua kebutuhan guru dijamin KH Gholib itu sendiri. Kekayaan KH Gholib juga disediakan untuk kemajuan madrasah dan pesantren.

Kemudian jika guru dan keluarganya sakit, berobat di poliklinik tanpa biaya. Banyak pula tamu yang datang dan memohon doa barokah dari Allah melalui beliau, bahkan ada yang menginap sampai beberapa malam," tuturnya.

Berdirinya lembaga pendidikan Islam di Pringsewu juga berdampak positif, seperti tidak ada pencurian di sekitar desa Pringsewu.

KH Gholib juga disegani oleh masyarakat dan tidak memperbedakan antara golongan, serta sayang pada fakir-miskin dan yatim piatu serta bergaul dengan masyarakat sekitar.

KH Gholib lahir di Mojosantren, Sidoarjo, Jawa Timur, 1899. Ayahnya K Rohani bin K Nursihan telah meninggalkannya sejak dirinya masih kecil karena peperangan. Muksiti, ibunya, yang mengasuh Gholib hingga dewasa.

Di masa kecilnya, ujar Farida lagi, KH Gholib memperoleh pendidikan agama langsung dari orang tuanya dan dari bangku sekolah Madrasah Ibtidaiyah di desa kelahirannya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55746/kiai-gholib-lampu-terang-di-quotbambu-seribuquot

Habib Syech Bersholawat

Thursday, February 23, 2017

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh

Setiap manusia normal tentu memiliki sisi baik dan sisi buruk. Terdengar klise memang, tetapi sering kali kita melupakan hal ini sehingga kita menjadi fanatik cinta dan fanatik benci. Tengoklah para pelaku sejarah, kehebatan ataupun kejelekannya tergantung siapa yang menuliskannya. Yang mengagumi tentu memujanya, dan yang membencinya tentu rajin mencari-cari kesalahannya.

Ambil contoh Amru bin Ash. Saya pernah datang ke Masjid Amru bin Ash di Mesir. Beliau seorang sahabat Nabi yang memeluk Islam pada tahun kedelapan Hijriah. Berkecamuk perasaan: saya membaca buku sejarah bagaimana siasat yang digunakan Amru bin Ash dalam peristiwa tahkim yang menyudahi perang siffin antara Khalifah Ali dan Gubernur Muawiyah. Singkat cerita, beliau seorang politisi yang menyalahi kesepakatan.

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)


Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh

Namun buku sejarah juga bercerita bagaimana sumbangsihnya yang luar biasa terhadap Islam. Rasulullah mengirimnya ke Oman dan berhasil mengislamkan pemimpin di sana. Khalifah Abu Bakar mengirimnya ke Palestina dan setelah merebut kota suci itu dari Byzantium lalu menjadi Emir di sana. Khalifah Umar mengirimnya membebaskan Mesir dan menjadikannya Gubernur. Masjid Amru bin Ash yang saya ziarahi tahun 2012 itu merupakan lokasi tempat beliau berkemah di kota Fustat, Mesir, dan itu adalah Masjid pertama yang berdiri di Afrika.

Bagaimana kemudian saya harus menilai Amru bin Ash: seorang politisi busuk atau seorang pahlawan Islam? Saya menyudahi kebimbangan saya dengan menunaikan shalat di Masjid Amru bin Ash yang sangat bersejarah itu seraya mendoakan kebaikannya.

Habib Syech Bersholawat

Bagaimana pula dengan al-Hajjaj bin Yusuf, Gubernur Iraq pada masa Dinasti Umayyah berkuasa? Inilah Panglima Perang yang memborbardir Mekkah dengan panah api ketika terjadi bentrokan dengan Abdullah bin Zubair. Tindakan al-Hajjaj bukan saja membunuh banyak penduduk Mekkah, namun juga turut membakar Kabah.

Habib Syech Bersholawat

Saat al-Hajjaj menjadi Gubernur diangkat oleh Khalifah Marwan, sejarah mencatat berbagai kekejian dan kekejaman yang dilakukannya. Selain membunuh sahabat Nabi Abdullah bin Zubair, al-Hajjaj juga membunuh 2 sahabat lainnya: Jabir bin Abdullah, Kumail bin Ziad dan satu ulama besar yaitu Said bin Jubair. Pada gilirannya, wafatnya al-Hajjaj disambut suka cita oleh para ulama dan rakyat. Mereka lega bisa terbebas dari kekejaman al-Hajjaj.

Namun demikian dikabarkan bahwa al-Hajjaj itu sangat bagus hafalannya terhadap al-Quran. Bukan cuma itu sejarah juga mencatat jasanya yang menambahkan baris tanda baca dalam mushaf al-Quran sehingga memudahkan kita semua sampai sekarang. Itu artinya, setiap Muslim yang membaca mushaf al-Quran pahalanya akan mengalir sampai ke al-Hajjaj. Subhanallah.

Al-Hajjaj juga berjasa mengirim jenderal dan pasukannya memperluas wilayah kerajaan Islam. Beliau juga memperhatikan soal ekonomi dengan mencetak mata uang sendiri, dan tidak lagi menggunakan mata uang peninggalan Byzantium dan Sasanid. Dia juga menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi di Iraq, menggantikan bahasa Parsi. Ekspedisi militer, konsolidasi ekonomi umat dan penguatan bahasa merupakan sumbangsih al-Hajjaj.

Sekali lagi, sejarah selalu menceritakan sisi baik dan sisi buruk. Pelajari hal-hal baik dari para tokoh besar di masa lampau, dan jangan ulangi kekeliruan yang telah mereka lakukan.

Dan bagaimana nasib para tokoh seperti Amru bin Ash dan al-Hajjaj kelak di akhirat? Tentu itu hak prerogatif Allah untuk menentukannya. Bukan wilayah kita untuk memberikan keputusan. Lebih baik kita fokus pada keburukan kita sendiri ketimbang sibuk membicarakan keburukan orang lain. Ngaca yuk...

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77317/sisi-baik-dan-sisi-buruk-para-tokoh

Habib Syech Bersholawat

Sunday, February 19, 2017

Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU

Blitar, Habib Syech Bersholawat. Lailatul Ijtima yang diselenggarakan MWCNU Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu malam (27/7) berlangsung beda dengan kegiatan serupa sebelumnya. Setelah istighotsah yang dipimpin oleh KH Dimyati Zaini, biasanya langsung taushiyah, tapi tadi malam tidak.

Taushiyah pada kegiatan yang dirangkai Halal bihalal tersebut diganti dengan paparan napak tilas sejarah para pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama. Para pendiri tersebut mulai dari KH Hasyim Asyary, KH Bisri Sansuri, KH Wahab Hasbullah, KH Asnawi, KH Ridwan. Tidak ketinggalan juga sejarah pengurus PWNU Jawa Timur.

Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU

Uraian sejarah disampaikan oleh Musytasar MWCNU Udanawu KH Syaikuddin Rohman. Menurut Kiai Cikut, panggilan akrabnya, perjalanan dakwah Islam mulai dari Nabi Muhammad SAW dan sahabat Nabi hingga Wali Songo berlangsung sekitar 7 abad (700 tahun). Sementara dakwah dari Wali Songo hingga NU berdiri dan saat ini, juga sekitar 7abad (700 tahun) lamanya.

Jadi perjalanan agama Islam mulai Nabi Muhammad SAW hingga sampai ke kita semua ini sekitar 14 abad atau 1400 tahun. Sedangkan NU umurnya hingga saat ini hampir seabad, ungkap Kiai Cikut.

Habib Syech Bersholawat

Cerita Kiai Syaikuddin Rohman tentang tokoh-tokoh ulama NU ini sangat menarik para hadirin peserta lailatul ijtima yang terdiri para pengurus ranting se-Udanawu, Muslimat NU, Ansor dan Fatayat NU. Karena, kiai Cikut tidak hanya bercerita saja. Namun didukung dan dilengkapi dengan audio visual gambar-gambar para kiai dan ulama melalui proyektor. Sehingga menambah gayeng cerita yang dipaparkan. Ini gambar Hadrotussyekh KH Hasyim Asyari. Mbah Hasyim ini kakeknya Gus Dur, ungkap Kiai Cikut.

Habib Syech Bersholawat

Ini, lanjutnya, gambar KH Bisri Sansuri. Ini juga kakeknya Gus Dur. Kalau Mbah Hasyim itu kakek dari ayahnya Gus Dur. Mbah Bisri ini kakek dari ibu Gus Dur karena Mbah Hasyim dari Tebuireng dan Mbah Bisri dari Denanyar besanan, jelas Kiai Cikut.

Ia menambahkan, dengan menunjuk foto KH Wahab Hasbulloh. Menurut Kiai Cikut, Kiai Wahab ini adalah kinasih Kiai Hasyim sebab kepandaiannya. Karena Kiai Wahab orangnya alim, cerdik dan pandai, zaman Bung Karno dia diajak kemana-mana.

Mbah Wahab ini orang kecil, tapi semangat berdakwahnya luar biasa. Pernah beliau dalam kondisi sakit tidak bisa berjalan diundang ke Pondok Lirboyo.Karena tidak bisa berjalan, maka beliau dibopong untuk naik ke panggung. Ajaibnya, meski sakit, di atas podium beliau tetap lantang dalam berceramah, ungkapnya.

Semua tokoh NU Jawa Timur juga dipaparkan oleh Kiai Cikut sehingga yang hadir pada acara bulanan NU Udanawu itu gamblang.

Semoga kita para pengurus NU ini bisa meneladani model dakwah dan berjuangnya mulai Nabi Muhammad SAW hingga para pejuang NU tadi. Dan kita dapat barokah dari paparan ini, tutupnya. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70026/kiai-cikut-paparkan-sejarah-islam-dan-tokoh-nu

Habib Syech Bersholawat

Saturday, January 14, 2017

5000 Orang Tabuh Hadrah di Tambakberas

Jombang, Habib Syech Bersholawat. Sekitar 5000 orang akan menabuh hadrah pada peringatan Haul ke-43 al-maghfurlah KH A Wahab Chasbullah di halaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Jumat malam ini (5/9) selepas berjamaah Shalat Isya.

Menurut salah seorang panitia Haul, Mujtahidur Ridho, para penabuh hadrah itu tergabung pada Ikatan Seni Hadarah Indonesia (Ishari). Mereka berasal dari 25 kabupaten Jawa Timur.

5000 Orang Tabuh Hadrah di Tambakberas (Sumber Gambar : Nu Online)
5000 Orang Tabuh Hadrah di Tambakberas (Sumber Gambar : Nu Online)


5000 Orang Tabuh Hadrah di Tambakberas

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama menambahkan mereka akan tampil secara bergiliran. Modelnya meraka tampil per shaf. Sekali tampil sekitar 300 orang. Satu kelompok bisa tampil setengah jam, terangnya ketika ditemui Habib Syech Bersholawat di Pameran Biografi Kh Wahab Chasbullah, Jumat sore (5/9).

Dengan jumlah peserta dan durasi seperti itu, lanjut pria yang akrab disapa Gus Edo ini, acara bisa berlangsung sampai pukul 02.00 atau bahkan 03.00 dini hari.

Habib Syech Bersholawat

Lebih lanjut Edo mengatakan, hadrah adalah salah satu kesenian NU yang harus dilestarikan. Untuk itu, dulu, diprakarsai Kiai Wahab untuk membuat organisasi yang mewadahinya, Ishari ini salah satu khazanah NU yang dulu mendirikan Mbah Wahab, tambahnya. (Abdullah Alawi)

Habib Syech Bersholawat

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54273/5000-orang-tabuh-hadrah-di-tambakberas

Habib Syech Bersholawat

Saturday, January 7, 2017

PCINU Brunei Darussalam dan Buruh Migran Peringati Haul Gus Dur

Jakarta, Habib Syech Bersholawat. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Brunei Darussalam bekerja sama dengan Garda Buruh Migrant Indonesia memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Bersamaan dengan itu, mereka juga berzikir bersama dalam rangka memperingati haul ke-5 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Acara diselenggarakan secara berturut-turut pada Sabtu (10/1) dan Ahad (10/11) di dua distrik berbeda; distrik Brunei Muara dan distrik Kuala Belait. Peringatan ini disambut meriah oleh WNI yang tinggal di Brunei Darussalam.

PCINU Brunei Darussalam dan Buruh Migran Peringati Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Brunei Darussalam dan Buruh Migran Peringati Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


PCINU Brunei Darussalam dan Buruh Migran Peringati Haul Gus Dur

Koordinator yang terdiri atas Ahmad Makhfudin, Inmas Santi, dan Moh Ifan mengatakan, "Acara ini baru pertama digelar dalam sejarah buruh migrant Indonesia di Brunei Darussalam. Selain menjalin ukhuwah antarburuh migran, acara ini juga sebagai cikal bakal persatuan buruh migran untuk peningkatan martabat dan pemberdayaan buruh migrant Indonesia di Brunei Darussalam.

Habib Syech Bersholawat

Dalam pertemuan ini, penyampai taushiyah menanamkan nilai Aswaja di tengah gempuran ideologi ekstrem Islam trans nasional. Tampak hadir beberapa pejabat Kedubes RI untuk Brunei Darussalam dan sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Ketua PCINU Brunei Darussalam Ust H Ahmad Dhofier mengatakan, "Sambutan hari lahir Nabi Muhammad SAW adalah tradisi baik untuk mencapai tujuan baik yang patut dilestarikan."

Sementara Ketua Umum Garda Buruh Migrant Indonesia Abdurahman Duladi Aldi menegaskan, "Peringatan maulid Nabi haruslah membawa semangat perubahan. Nabi SAW dahulunya adalah juga seorang buruh, tetapi bukan sembarang buruh. Sebelum masa bitsah, baginda Nabi sering menggembalakan kambing milik orang-orang Mekah. Beliau sosok buruh teladan, yang mampu menginternalisasikan sifat pengabdian sejati sehingga derajatnya sangat dekat dengan Allah SWT.

Habib Syech Bersholawat

Sementara Ketua PKB cabang Brunei Darussalam Jauhar Ahmad mengajak WNI untuk meneladani keluhuran sifat Rasulullah. "Gus Dur adalah sosok umat yang meneladani kepribadian Rasul secara utuh. Di masa hidup, Gus Dur rela dicaci dan dicela bahkan dikafirkan hanya karena ingin mewujudkan misi rahmatan lil alamiin.

Gus Dur, kata Jauhar, selalu hadir mendampingi orang-orang yang terancam eksistensinya. Ia memberikan pelajaran berharga kepada masyarakat bagaimana meneladani Rasulullah secara benar. Hal ini dibuktikan Gus Dur mulai dari kesederhanaannya, rasa empatinya, bahkan pembelaannya kepada kemanusiaan.

Selain sambutan-sambutan, acara juga dimeriahkan oleh tembang-tembang sholawat Lir Ilir, Tombo Ati dan Zaman Wis Akhir oleh Gatot Music bersama grup paduan suara dari gabungan buruh migrant. (Red Alhafiz K)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/56992/pcinu-brunei-darussalam-dan-buruh-migran-peringati-haul-gus-dur

Thursday, December 15, 2016

Mimbar Masjid Jami Lasem ini Berusia 420 Tahun

Rembang, Habib Syech Bersholawat. Mimbar khutbah masjid Jami Lasem diyakini berusia lebih dari420 tahun, kata pengamat sejarah dan sekaligus pengurus masjid jami Lasem Abdullah Hamid, Jumat (18/7). Ia menambahkan dari mimbar itu pula, menjadi saksi bisu perlawanan terhadap penjajah Belanda, yang berpusat di wilayah Kecamatan Lasem.

Mimbar yang berukuran sekitar panjang 3 meter dan lebarnya 1 meter ini, di tempatkan di sebelah utara pengimaman masjid Lasem dan masih sering digunakan untuk aktifitas khutbah setiap hari jumah. jika dilihat dari bentuknya, memang terlihat mulai dari pahatan hingga desain menggunakan alat pada zaman dahulu, yang terbuat dari kayu jati tua, yang dipunuhi dengan motif ukiran.

Mimbar Masjid Jami Lasem ini Berusia 420 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Mimbar Masjid Jami Lasem ini Berusia 420 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)


Mimbar Masjid Jami Lasem ini Berusia 420 Tahun

Menurut Abdullah, masjid Jami Lasem biasanya Masjid kuno memiliki mimbar semacam itu. Kalau Masjid zaman sekarang, bentuknya lain. Ia menganggap mimbar tersebut sebagai salah satu aset peninggalan yang harus selalu dijaga.

Habib Syech Bersholawat

Abdullah menambahkan, mimbar telah mengiringi sejarah sejak zaman perang Lasem sampai sekarang. Dalam cerita Babad Lasem dikisahkan Mbah Joyo Tirto atau Kiai Baedlawi kerap berkhutbah di mimbar tersebut, untuk menggelorakan semangat nasionalisme masyarakat, berjihad melawan penjajah Belanda sekira tahun 1742 Masehi.

Habib Syech Bersholawat

Puncaknya, pejuang pribumi menyerang markas Belanda di Rembang. Masa telah berganti, mimbar lebih banyak berfungsi untuk mengingatkan keislaman umat. Ulama ulama sekelas Kiai Maksoem, Kiai Kholil, Kiai Imam Sofwan dan Kiai muda Sihabudin Ahmad, pernah berkhutbah dari balik mimbar.

Ketika ada peziarah dari luar daerah singgah ke Masjid Jami Lasem, rata rata perhatian mereka tertuju pada mimbar khutbah. Ia mengakui memang tersirat kharisma tersendiri.

Dari kharisma para pendahulu pula, harapannya mampu menular kepada jemaah. Giat memakmurkan masjid dan khusyuk beribadah, menunaikan perintah illahi robbi.

Selain itu, di area masjid ini menjadi area pemakaman para tokoh ulama Lasem tak terkecuali salah seoarang yang merupakan pendiri jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) Mbah Masoem Lasem. Di sekeliling masjid itu juga terdapat makam para tokoh kerajaan kuno Lasem, Bupati Lasem yang akrap disebut mbah Srimpet. (Ahmad Asmui/Anam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53357/mimbar-masjid-jami-039lasem-ini-berusia-420-tahun

Habib Syech Bersholawat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock