Showing posts with label Aswaja. Show all posts
Showing posts with label Aswaja. Show all posts

Sunday, October 30, 2016

Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas

Jakarta, Habib Syech Bersholawat. Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengancam akan mengakhiri persatuan dengan Hamas jika gerakan Islam tersebut tidak memungkinkan pemerintah beroperasi dengan baik di Jalur Gaza.

Pernyataan itu disampaikan pada malam pembicaraan di Kairo dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi setelah hampir dua minggu gencatan senjata yang mengakhiri konfrontasi besar selama 50 hari dengan Israel di Gaza, seperti dilaporkan oleh Al Arabiya.

Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas (Sumber Gambar : Nu Online)


Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas

"Kami tidak akan menerima situasi dengan Hamas terus seperti itu saat ini," kata Abbas pada saat kedatangan di ibukota Mesir pada Sabtu malam, dalam sambutannya yang dipublikasikan oleh kantor berita resmi Palestina WAFA.

"Kami tidak akan menerima kemitraan dengan mereka jika situasi terus seperti ini di Gaza di mana ada pemerintah bayangan ... menjalankan wilayah," katanya.

Habib Syech Bersholawat

"Pemerintahan konsensus nasional tidak dapat berbuat apa-apa di lapangan," katanya.

Habib Syech Bersholawat

Menurut ketentuan kesepakatan rekonsiliasi yang ditandatangani pada bulan April, Palestina sepakat untuk membentuk pemerintah konsensus interim yang dijalankan oleh para teknokrat, yang mengakhiri tujuh tahun pemerintahan saingan di Tepi Barat dan Gaza.

Kesepakatan tersebut berusaha untuk mengakhiri tahun pahit dan kadang-kadang berdarah akibat persaingan antara gerakan Hamas dan Fatah, yang mendominasi Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat.

Kabinet baru, yang berbasis di Ramallah, mulai menjabat pada tanggal 2 Juni, pada saat yang sama pemerintah Hamas di Gaza secara resmi mengundurkan diri. Meskipun telah terjadi serah terima, Hamas tetap memiliki kekuatan secara de facto di Gaza. (mukafi niam) foto: reuters

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54315/presiden-palestina-ancam-akhiri-persatuan-dengan-hamas

Habib Syech Bersholawat

Tuesday, November 12, 2013

Adakan Pertemuan Siluman Dengan 35 Kiai NU, GP Ansor Kayen Bubarkan Acara HTI

Habib Syech Bersholawat - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendapatakan perlawanan dari PAC GP Ansor Banser dan Pagar Nusa Kecamatan Kayen, Pati, pada saat mereka mengadakan pertemuan di Gedung Haji, Kec. Kayen, Kab. Pati, Jateng, Ahad (13/11/2016) pagi.

Awalnya, Ketua PAC GP Ansor Kayen mendapatakan selebaran yang isinya akan ada kegiatan mengatasnamakan HTI di daerah tersebut yang kabarnya mengundang tokoh-tokoh NU di 21 desa se Kecamatan Kayen. Setelah ditelusuri, ternyata informasi tersebut benar adanya.

Mengingat situasi politik di Jakarta yang belum padam, Ansor langsung berkoordinasi dengan Pagar Nusa (PN) untuk mendatangi acara. Informasi yang diterima Duta Islam menyebutkan, ada 20 anggota HTI dan 35 tokoh NU yang hadir di acara. Ini yang menurut Ansor harus diwaspadai.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Ketua PAC Ansor, Sunoto, menetapkan siaga 1 wahabi di daerahnya atas digelarnya acara HTI, yang terkesan sembunyi-sembunyi dengan misi politis mempengaruhi tokoh-tokoh kiai sepuh NU.

Dipimpin langsung oleh Sunoto, pagi itu juga sekitar jam 10.00 WIB, 30 orang terdiri atas Ansor, Banser dan Pagar Nusa, bergerak menuju Gedung Haji Kayen. Dalam pertemuan tersebut, HTI mengajak bergabung kepada para kiai NU karena umat Islam disebut sudah bersatu sejak demo 411 di Jakarta.

"Umat Islam sekarang sudah bersatu. Hal ini dibuktikan dengan acara demo 4 November 2016 yang diikuti hampir semua ormas Islam. Oleh karena itu, mari NU juga bersama-sama ormas Islam yang lain untuk menjaga persatuan antar umat Islam yang semakin nyata," kata salah satu anggota HTI, dikutip Duta Islam dari laporan Joko Buono, anggota Pagar Nusa Pati, kemarin (13/11/2016).

Melihat agenda HTI yang main colong kepada sesepuh NU di wilayahnya, Ansor, Banser dan Pagar Nusa memberikan kesempatan pertemuan HTI tersebut hingga pukul 11.30 WIB, sebagaimana rencana awal. "Kalau jam 11.30 tidak bubar, maka akan dibubarkan paksa," demikian ultimatum Ketua Ansor. Redaksi Habib Syech Bersholawat belum menerima laporan lebih lanjut atas berita ini. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/adakan-pertemuan-siluman-dengan-35-kiai-gp-ansor-kayen-bubarkan-hti.html

Tuesday, September 3, 2013

Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong!

Habib Syech Bersholawat - Umat Islam yakin seyakin-yakinnya bahwa para sahabat adalah sekelompok manusia mulia yang tidak diragukan kadar cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Pertanyaan muncul, mengapa kita saat ini melakukan Maulid Nabi, padahal sahabat tidak melakukannya. (Silakan dikorekasi jika ternyata ada riwayat sahabat merayakan maulid Nabi).

Apakah peringatan maulid yang dilakukan umat Islam saat ini bisa jadi tolak ukur cintanya kepada Nabi Muhammad? Bahkan ditanyakan juga, apakah cinta sebagian umat Islam yang ikut memeringati Maulid Nabi saat ini melebihi cinta para sahabat yang pernah hidup bersama Nabi, hanya karena umat saat ini memperingati kelahiran Nabi, sedang sahabat tidak?

Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong! - Habib Syech Bersholawat
Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong! - Habib Syech Bersholawat


Sahabat Nabi Tidak Rayakan Maulid, Bidah Dong!

Jawabannya, justru karena umat saat ini yang tak pernah berjumpa dengan Nabi itulah yang seharusnya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara membaca kembali kisah hidup perjuangan beliau, sejak lahir hingga wafat.

Apakah salah kita membaca kisah hidup sang Nabi akhir zaman kekasih Allah ini? Harusnya, kita wajib membaca dan mempelajari sejarah hidup Nabi Muhamad SAW, agar tumbuh cinta dan sayang kapada Nabi.

Bukankah peribahasa mengatakan, tak kenal maka tak sayang? Lalu dengan cara apa lagi kita bisa mengenal Nabi jika tidak pernah membaca sejarah hidup beliau, akhi? Maka sangat patut dan harus membacanya, sebagaimana banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitab sirah dan kitab maulid seperti Simtud Duror karangan Assayyidil Habib Ali bin Muhammad Alhabsy, Barzanji, Addiba’i dan juga Qashidah Burdah karya Assyekh Abi Abdillah Muhammad Albushiry.

Habib Syech Bersholawat

Kita yang tidak pernah hidup dan melihat langsung Nabi Muhammad Saw. inilah yang harus dibangkitkan cintanya. Adapun para sahabat Nabi adalah saksi yang melihat langsung bagaimana Nabi Muhammad SAW berjuang dan berdakwah, sehingga tidak diragukan lagi rasa cintanya kepada Nabi.

Habib Syech Bersholawat

Disamping itu, buku-buku tentang kisah hidup Nabi ditulis jauh masanya setelah para sahabat meninggal. Bahkan buku-buku kisah Nabi itu bersumber dari keterangan lisan para sahabat yang kemudian ditulis oleh para ulama.

Allah juga memerintahkan kepada kita untuk mempelajari kisah hidup para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, sebagaimana ayat-ayat berikut ini:

1. Surat Maryam ayat 41:  “Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.”

2. Surat Maryam ayat 51: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.

3. Surat Maryam ayat 54: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.

4. Surat Maryam ayat 56: Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.

Coba perhatikan ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menceritakan kisah para Nabi terdahulu dalam rangka menguatkan iman dan islamnya para sahabat ketika itu. Mengapa? Karena para sahabat tidak pernah tahu apalagi melihat langsung kehidupan Nabi terdahulu.

Karena itulah kisah hidup perjuangan Nabi Muhammad SAW patut juga kita pelajari dan baca kembali, melalui berbagai media apapun, termasuk dengan cara membaca Kitab Maulid seperti sudah disebutkan di atas.

Jika masih ada saja yang membenci perayaan maulid Nabi, melarangnya, bahkan mensyirikkannya, maka firman Allah di bawah ini rasanya tepat dijadikan jawaban,

Artinya: "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (QS. al-Qoshos: 55). Wallahu’alam. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/sahabat-nabi-tidak-rayakan-maulid-bidah-dong.html

Sunday, October 21, 2012

Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas

Pringsewu, Habib Syech Bersholawat. Dalam mencari Ilmu, seseorang harus memperhatikan sumber ilmu yang didapatnya berupa silsilah keilmuan atau sanad. Hal ini sangat berperan penting dalam keshahihan dan keberkahan ilmu yang didapat.

Hal ini disampaikan Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah KH Ahmad Chalwani Nawawi saat menyampaikan Mauidzotul Hasanah pada Wisuda Tahfidz Al Quran 30 Juz dan khotmil kutub pondok pesantren Pesantren Salafiyah Tahfidzul Quran Miftahus Salam Jatirejo Pringsewu.

Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)


Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas

"Sebagai Santri, kita harus ngaji pada kiai yang jelas gurunya siapa? Ilmunya sumbernya dari mana, harus jelas," tegas Kyai Chalwani yang Juga Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah ini dihadapan jamaah yang memenuhi halaman Pesantren setempat, Selasa (13/4).

Ia mengingatkan kepada jamaah untuk mengaji kepada kiai yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas, yang alim serta dapat dirunut silsilah sumber ilmunya sampai pada Rasulullah SAW. Hal ini ditujukan agar terhindar dari maraknya aliran menyimpang yang belajar ilmu agama secara instan dari internet dengan sanad yang tidak jelas.

Habib Syech Bersholawat

"Mari kita didik putra-putri kita di Pesantren, kita titipkan pada kiai. Kita gerakkan generasi kita untuk mondok," tegasnya. Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa pondok-pondok pesantren dibawah bimbingan para kiai dalam sejarahnya telah terbukti berkontribusi dalam mencetak ulama dan santri sekaligus menjadi benteng pertahanan keutuhan NKRI.

"Kalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan," tegas Kiai Chalwani mengutip pernyataan Douwes Dekker, agen Belanda yang berbalik berpihak pada Indonesia di zaman pergerakan kemerdekaan.

Habib Syech Bersholawat

Disamping kegiatan khotmil kutub, pada acara tersebut juga dilaksanakan pelantikan pengurus Idaroh Ghusniyah Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mutabaroh An Nhdliyyah (JATMAN) Kecamatan Pagelaran dan Ambarawa. Pelantikan tersebut dilakukan oleh Mudir Idaroh Wustho JATMAN Provinsi Lampung Habib Yahya Assegaf.

Hadir pada acara tersebut Bupati Pringsewu H Sujadi yang juga Mustasyar PCNU Pringsewu, Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim, para kiai dan Pengasuh Pondok Pesantren di Kabupaten Pringsewu serta Pengurus MWCNU Kecamatan Pagelaran. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67260/agar-shahih-dan-berkah-penting-miliki-sanad-keilmuan-yang-jelas-

Saturday, June 23, 2012

Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid

Habib Syech Bersholawat - KH Hasyim Asy’ari pernah menulis sebuah artikel dalam majalah Suara Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 M, beberapa bulan setelah NU didirikan.

Dalam artikel tersebut, beliau mengajukan argumentasi tentang hukum menggunakan kenthongan. Karena kentongan tidak disebutkan dalam hadis Nabi, maka tentunya diharamkan dan tidak dapat digunakan untuk menandakan waktu shalat. Demikian pendapat Mbah Hasyim.

Sebulan setelah dipublikasikan, seorang kiai senior lainnya, yakni Kiai Faqih Maskumambang (Guru Kyai Zubair Sarang) menulis sebuah artikel untuk menentang artikel Kiai Hasyim itu. Beliau berpendapat, Kiai Hasyim dianggap salah karena prinsip yang digunakan dalam masalah ini adalah masalah qiyas, atau kesimpulan yang didasarkan atas prinsip yang sudah ada. Atas dasar ini, maka kentongan di Asia Tenggara memenuhi syarat untuk digunakan sebagai penanda masuknya waktu shalat.

Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid - Habib Syech Bersholawat
Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid - Habib Syech Bersholawat


Ketika KH Hasyim Asyari Mengharamkan Kenthongan Masjid

Habib Syech Bersholawat

Sebagai tanggapannya, Kiai Hasyim mengundang ulama Jombang untuk bertemu dengan beliau di rumahnya dan kemudian meminta agar kedua artikel itu dibaca keras. Ketika hal itu dilakukan, beliau mengumumkan kepada mereka yang hadir.

“Anda bebas mengikuti pendapat yang mana saja, karena kedua-duanya benar. tetapi saya tekankan bahwa di pesantren saya kentongan tidak digunakan,” kata Kiai Hasyim.

Beberapa bulan kemudian, Kiai Hasyim diundang untuk menghadiri perayaan Maulid Nabi di Gresik. Tiga hari sebelum tiba, Kiai Faqih yang merupakan kiai senior di Gresik, membagikan surat kepada semua masjid dan mushalla untuk meminta mereka menurunkan kentongan demi menghormati Kiai Hasyim dan tidak menggunakannya selama kunjungan Kiai Hasyim di Gresik.

Habib Syech Bersholawat

Ulama dulu telah memberikan tauladan bagaimana pola pikir saat menyikapi perbedaan. Perbedaan bukan media pertengkaran dan permusuhan, tetapi sebagai perekat ukhuwah dan memupuk sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain.

Sungguh indah jika para pemimpin dan elit politik di negara kita tercinta ini bisa meneladani pesan moral dari kisah di atas. Kisah ini dikutip dari Biografi Gus Dur karya Greg Barton. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/ketika-kh-hasyim-asyari-mengharamkan-kenthongan-masjid.html

Sunday, March 11, 2012

Ribuan Kader Fatayat NU Hijaukan GOR Kertajaya Surabaya

Surabaya, Habib Syech Bersholawat. Ribuan anggota dan simpatisan Fatayat NU tampak berduyun-duyun mendatangi Gedung Olah Raga (GOR) jalan Kertajaya Indah Timur Surabaya, Sabtu (19/9). Secara bergelombang, ibu-ibu muda Nahdliyin ini berramai-ramai ke arena pembukaan Kongres Ke-15 Fatayat NU.

Mereka tampak bersemangat menduduki gedung olahraga tempat pembukaan kongres salah satu badan otonom NU ini. "Kami pagi-pagi sudah ke sini ini karena cinta Fatayat, cinta NU," ujar utusan Fatayat asal Salatiga, Jawa Tengah.

Ribuan Kader Fatayat NU Hijaukan GOR Kertajaya Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Kader Fatayat NU Hijaukan GOR Kertajaya Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)


Ribuan Kader Fatayat NU Hijaukan GOR Kertajaya Surabaya

Pantauan Habib Syech Bersholawat, kedatangan para pengurus Fatayat dari seluruh Indonesia mengalami eskalasi tinggi menjelang pembukaan kongres pukul 10.00 WIB pagi ini. Jajaran pengurus Fatayat di tingkat cabang yang berseragam khusus membawa serta anggotanya menggunakan armada bus, elf, dan kendaraan roda empat.

Habib Syech Bersholawat

Di sepanjang arteri Surabaya, baliho dan spanduk bergambar Ketum Fatayat Hj Ida Fauziah dan Sekjen Anggia Ermarini tampak melambai-lambai menyapa warganya. Ucapan selamat dan karangan bungan dari berbagai instansi maupun perorangan dijejer rapi di pintu masuk GOR.

Aparat kepolisian dibantu satuan pengamanan dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU Jawa Timur tampak berjaga-jaga di sejumlah sudut. Menurut salah seorang anggota Banser pengaman di GOR, hanya 70 orang yang diturunkan. "Selebihnya berjaga-jaga di arena kongres di asrama haji," katanya.

Habib Syech Bersholawat

Kongres yang mengusung tema "Ikhtiar perempuan NU untuk Indonesia yang Berkeadaban" ini dijadwalkan selama lima hari, 18-22 September 2015. Kongres digelar di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jawa Timur. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dijadwalkan membuka kongres secara resmi.

Hingga berita ini ditulis, kongres Fatayat masih diwarnai acara pemutaran lagu-lagu semangat pagi diselingi beberapa pengumuman dari panitia. (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62284/ribuan-kader-fatayat-nu-hijaukan-gor-kertajaya-surabaya

Habib Syech Bersholawat

Thursday, July 28, 2011

Menyikapi Perbedaan dengan Berdialog

Fenomena konflik kekerasan yang terjadi selama ini, pengafiran, klaim sesat dan lain sebagainya, banyak yang ditengarai karena kurang adanya dialog yang produktif dan sikap toleran dalam memandang pendapat orang atau kelompok lain yang berbeda.

Sikap fanatik dan memandang kelompok lain salah sungguh tidak dapat dibenarkan sama sekali. Apalagi jika sampai memerangi dan memusuhi orang yang berlainan dengan pahamnya. Munculnya berbagai mazhab seharusnya tidak menjadi penyebab perpecahan, saling berseberangan, saling membenci dan mencaci. Tetapi, adanya banyak mazhab tersebut hendaknya dijadikan sebagai penyebab fleksibilitas, penguat hubungan, pemahaman argumen dan memperluas wawasan.

Menyikapi Perbedaan dengan Berdialog (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyikapi Perbedaan dengan Berdialog (Sumber Gambar : Nu Online)


Menyikapi Perbedaan dengan Berdialog

Maka, di sinilah sebetulnya pentingnya membangun budaya dialog yang kini sudah mulai tergeser oleh budaya otot dalam menyikapi perbedaan. Baik dialog interreligius maupun intrareligius. Dalam sejarahnya, Rasulullah SAW tidak menutup pintu dialog dengan orang musyrik, orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Bahkan beliau melakukan dialog dengan golongan-golongan ini di tengah-tengah Masjid Nabawi. Beliau menyambut dan berdialog dengan semuanya.

Budaya dialog juga tumbuh subur di kalangan ulama-ulama klasik. Bahkan, tak jarang terjadi perdebatan sengit di antara mereka dalam mempertahankan pendapatnya. Akan tetapi, perbedaan pandangan dan pemikiran tidak menghalangi mereka di dalam menjaga persaudaraan dan menjalin kasih sayang yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Habib Syech Bersholawat

Buku Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat yang ditulis oleh seorang intelektual muda Indonesia, Al-Hamid Jakfar Al-Qadri, lulusan Sekolah Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut, Yaman ini hadir pada saat yang sangat tepat di tengah meruyaknya aliran pemikiran dan keyakinan yang sedang berkembang di Indonesia. Cara menghadapi pemikiran-pemikiran itu adalah dengan berdialog bukan dengan cara kekerasan.

Ulasan-ulasan yang ada pada buku ini juga merekam pemikiran Al-Habib Umar bin Hafizhguru dari Al-Qadri sekaligus pengasuh Sekolah Darul Musthafadalam upaya membangun persaudaraan dan membina dialog di antara berbagai aliran keyakinan.

Habib Syech Bersholawat

Al-Habib Umar bin Hafizh adalah termasuk salah satu penandatangan dari dua dokumen internasional yang berpengaruh, yaitu Risalah Amman (2005) dan Common Word (2007). Isi dari Risalah Amman mengakui adanya keragaman mazhab dalam Islam, melarang saling mengafirkan di antara mereka, dan menyerukan persaudaraan Muslim dari berbagai mazhab. Sedangkan Common Word adalah surat terbuka yang ditulis oleh para ulama terkemuka dari banyak negaratermasuk Indonesiakepada pemimpin Kristen sebagai bentuk ajakan dialog yang produktif.

Al-Hamid Jakfar Al-Qadri juga menguraikan upaya Al-Habib Umar bin Hafizh dalam membangun persatuan umat Islam. Di antaranya adalah dengan mengadakan simposium ulama berkala internasional. Di Indonesia sendiri, beliau mendirikan forum komunikasi antar ulama. Forum ini mendapat respon positif dari berbagai kalangan, mulai dari para ulama yang berlatar belakang pesantren tradisional hingga para intelektual dan akademisi. (Halaman 37-46)

Di antara kelebihan buku ini, terutama untuk konteks masyarakat Indonesia, adalah solusi yang ditawarkan dalam menyikapi perbedaan pendapat. Pertama, toleran ketika berbeda. Caranya adalah dengan menghormati pendapat yang berbeda, bersikap objektif, tidak memusuhi pemilik pendapat yang berbeda, menyepakati demi menjaga persatuan dan memaklumi perbedaan yang terjadi.

Kedua, tidak saling mengafirkan dan menyesatkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari menyebutkan: "Barangsiapa yang menuduh kafir pada seorang mukmin maka itu sama dengan membunuhnya". Hadis ini memberikan informasi betapa bahayanya pengafiran pada orang lain. (Halaman 21-28)

Secara eksplisit, buku ini hendak mengajak pembaca untuk lebih mengedepankan dialog dalam menyikapi sebuah perbedaan pendapat. Dan menghindari fanatisme yang sampai menimbulkan tindakan anarkis. Dengan cara seperti ini, adanya perbedaan niscaya akan membuahkan rahmat. Bukan justru malah menimbulkan malapetaka.

Judul : Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat

Penulis : Al-Hamid Jakfar Al-Qadri

Penerbit : Mizan, Bandung

Cetakan : I, Desember 2012

Tebal : XVII+117 Halaman

ISBN : 978-979-433-753-0

Peresensi : Zainal Fanani, Anggota Forum Lingkar Pena cabang Hadhramout; mahasiswa Al-Ahgaff University, Tarim, Hadhramout, Yaman.

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43941/menyikapi-perbedaan-dengan-berdialog

Habib Syech Bersholawat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock