Showing posts with label Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pesantren. Show all posts

Monday, October 10, 2016

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI

Jombang, Habib Syech Bersholawat. Setelah mengikuti apel dan ikrar nusantara bersatu di Alun-alun Jombang bersama ribuan warga setempat, seluruh Pengurus Ansor dan Banser Jombang bergegas menggelar istighotsah dan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara di Masjid Baitul Mukminin, Rabu (30/11).

Kegiatan ini diawali dengan sholat dhuha bersama. Selenjutnya, mereka berikrar untuk memperkuat komitmen terhadap Negara Republik Indonesia (NKRI) serta Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara.

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)


9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI

"Kita nyatakan bahwa NKRI sudah harga mati, ideologi kita adalah Pancasila yang jaya, konstitusi kita adalah UUD 1945 dan tak bisa dikesampingkan adalah kebhinnekaan," kata Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang, H Zulfikar Damam Ikhwanto.

Dalam ikrar tersebut terdapat sembilan butir yang dibacakan secara serentak dan dipimpin langsung oleh Gus Antok, sapaan akrab Zulfikar Damam Ikhwanto. Tampak segenap Pengurus Ansor dan Banser menghayati setiap poin ikrar tersebut.

Habib Syech Bersholawat

Adapun sembilan poin ikrar sebagai berikut :

Habib Syech Bersholawat

1. Berpegang teguh pada aqidah, ajaran, nilai dan tradisi Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyyah.

2. Bertanah air satu tanah air Indonesia, berideologi satu ideologi Pancasila, berkonstitusi satu Undang Undang Dasar 1945, dan bersemboyan satu semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Senantiasa siap siaga membela Tanah Air dan Bangsa Indonesia, mempertahankan kemerdekaan, persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.

4. Melawan setiap usaha yang membahayakan NKRI dan Pancasila serta melawan setiap ideologi yang bertentangan dengan semangat proklamasi Republik Indonesia dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wujud bela negara.

5. Menghormati dan melaksanakan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Indonesia dengan penuh tanggung jawab dan sebaik-baiknya.

6. Menghormati dan Menghargai sesama Warga Negara Indonesia serta menjunjung tinggi norma agama, sosial dan hukum.

7. Menghargai dan menghormati para ulama yang telah berjasa besar terhadap negara, bangsa dan agama, serta melestarikan keteladanannya.

8. Menciptakan dan memelihara rasa aman, tertib, nyaman, tentram dan humanis, demi terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif.

9. Turut berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir-batin yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

(Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73397/9-ikrar-ansor-dan-banser-jombang-untuk-perkuat-komitmen-nkri

Habib Syech Bersholawat

Saturday, August 27, 2016

PP Muslimat NU Luncurkan Program Home Reading

Demak, Habib Syech Bersholawat. Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa menyerahkan buku bahan bacaan anak usia dini kepada Ketua Muslimat NU Demak Hj Ny Asiyah Chadziq Taslim di hadapan 4.000 jamaah. Buku ini selanjutnya akan disalurkan ke setiap kecamatan yang dikelola anak cabang Muslimat NU setempat.

Khofifah berharap anggota Muslimat NU menanamkan ke-NUan sejak dini kepada anak. Menurut Khofifah pada peluncuran program Home Reading ini, penanaman paham Aswaja NU akan lebih efektif selagi putra-putri mereka masih usia kanak-kanak.

PP Muslimat NU Luncurkan Program Home Reading (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Luncurkan Program Home Reading (Sumber Gambar : Nu Online)


PP Muslimat NU Luncurkan Program Home Reading

Muslimat NU sangat vital dalam menjaga ideologi anak. Ini terbukti dalam keseharian mendidik anak, ibu justru sangat berperan dalam pendidikan baik keagamaan maupun perilaku anak dalam keseharian, kata Khofifah mengarahkan anggota Muslimat NU di pendopo kabupaten Demak, Sabtu (7/3).

Habib Syech Bersholawat

Sebagai upaya agar pemahaman aqidah maupun ilmu keagamaan dan pengetahuan pada anak tidak menyimpang, perlu pedoman yang pasti sesuai anjuran Islam yang sudah tertera dalam kitab suci Al-Quran dan buku keagamaan yang sudah ditulis para ulama. sehingga, anak tidak terjerumus pada pergaulan bebas, pornografi, dan narkoba.

Habib Syech Bersholawat

Indonesia saat ini sudah darurat narkoba dan pornografi. Ini diakibatkan oleh sistem pendidikan yang salah dan tidak adanya pengawasan yang benar dari orang tua, kata Khofifah yang kini diamanahkan negara sebagai Menteri Sosial itu.

Penyerahan buku ini dihadiri para kiai, Bupati Demak H Dachirin Said, Kapolres, Dandim, dan SKPD sekabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58052/pp-muslimat-nu-luncurkan-program-home-reading

Habib Syech Bersholawat

Friday, June 12, 2015

Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran

Boyolali, Habib Syech Bersholawat. Usai dilepas secara simbolis oleh ketua tanfidziyah, rombongan takbir keliling MWCNU Sawit Boyolali Jawa Tengah, mulai berjalan dari lapangan Gombang menyusuri kampung-kampung, Sabtu (5/10) kemarin.

Pantauan Habib Syech Bersholawat, rombongan tersebut diikuti ratusan orang, dari anggota NU dan Banom. Rombongan berjalan beriringan pelan, dengan mengendarai mobil dan sepeda motor.

Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran (Sumber Gambar : Nu Online)
Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran (Sumber Gambar : Nu Online)


Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran

Menurut salah satu panitia, Munshorif, acara takbir keliling ini diselenggarakan untuk memeriahkan malam Idul Adha 1435 H. Ditambahkan olehnya, kegiatan takbir keliling ini diikuti oleh 11 ranting.

Alhamdulillah, pesertanya bertambah lebih banyak dibanding tahun lalu. Kali ini kita keliling ke sejumlah desa di kecamatan Sawit, terangnya.

Habib Syech Bersholawat

Ketua PAC Ansor Sawit tersebut menambahkan tujuan acara ini, yakni sebagai syiar Islam dan NU. Agar NU di Sawit juga semakin dikenal oleh masyarakat, ujarnya.

Habib Syech Bersholawat

Sebelum berangkat, tak lupa mereka berdoa terlebih dahulu, dipimpin oleh Rais Syuriyah MWCNU Sawit Kiai Joko Parwoto. Seakan tak mau kalah dengan yang lain, Kiai Joko pun ikut dalam rombongan pawai dengan memasang bendera merah putih dan NU di depan mobil. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54915/keliling-kampung-nu-sawit-ajak-warga-takbiran

Habib Syech Bersholawat

Thursday, October 9, 2014

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Jombang, Habib Syech Bersholawat. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid menilai, sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dan masyarakat luas. Hal itu diungkapkan Gus Sholah saat meresmikan berdirinya Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), di Tebuireng, Sabtu (18/3).

Yayasan yang didirikan oleh belasan tokoh pesantren lintas ormas, cendekiawan lintas kampus, dan beberapa pengusaha muslim tersebut dimaksudkan untuk menguatkan peran pesantren dalam tiga ranah. Yaitu, pesantren sebagai benteng pembangunan karakter, pembangunan ekonomi umat, dan salah satu pilar kekuatan kepemimpinan bangsa.

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Dalam sambutannya, Gus Sholah yang ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pembina YP3I mengulas peran pesantren dan ulama dalam sejarah perjalanan bangsa. "Kalau tidak ada kiai dan pesantren, maka patriotisme warga Nusantara --yang kemudian menjadi bangsa Indonesia-- akan hancur berantakan," ungkap Gus Sholah mengutip catatan Douwes Dekker.

Menurut Gus Sholah, harus diakui bahwa kalangan di luar pesantren adalah kelompok yang mulai menumbuhkan rasa kebangsaan dalam Kongres Pemuda II pada 1928. "(Tapi) nasionalisme yang mereka usung adalah nasionalisme yang tidak memberi tempat memadai bagi sesuatu yang berbau keislaman," ujarnya di hadapan ratusan kiai yang memenuhi Aula H. Bachir Pesantren Tebuireng.

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini kemudian mengulas upaya-upaya peminggiran Islam dalam catatan sejarah. "Dalam buku berjudul The Idea of Indonesia, A History karya RE Elson, tidak ada tempat bagi Islam. Nama KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan dan H Agus Salim tidak tertulis dalam buku itu. Buku karya Ricklefs juga bernada sama. Yang tertulis hanya nama HOS Tjokroaminoto," tandasnya

Pada saat itu, imbuh Gus Sholah, pandangan kalangan luar terhadap pesantren dapat disimpulkan dari pidato Bung Karno saat mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari IAIN Ciputat pada 1964. Dalam pidato tanpa teks, Bung Karno mengkritik pesantren dengan menyebutnya sebagai gudang besar yang tidak punya pintu dan jendela, sehingga terasa pengap dan apek.

Terhadap penilaian tersebut, Gus Sholah lalu mengutip pendapat Menteri Agama saat itu. "Menurut KH Saifuddin Zuhri (Menag saat itu), yang menganggap bahwa pesantren tidak punya jendela dan pintu adalah mereka yang tidak tahu di mana letak pintu dan jendela (pesantren) itu," tegasnya, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Terkait tantangan ke depan, Gus Sholah melihat bahwa potensi pesantren dalam pendidikan amat besar, tetapi belum termanfaatkan dengan baik. "Ada potensi lain yang bisa dimanfaatkan tapi hampir belum tersentuh, yaitu dalam aspek ekonomi. Inilah salah satu potensi yang akan menjadi bidang garapan dari YP3I dan pihak lain," tandas lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Potensi lain yang dimiliki pesantren adalah ajaran wasatiyah (moderatisme) yang diajarkan sejak awal penyebaran Islam di wilayah nusantara. "Islam rahmatan lil alamin yang membuat Islam dan paham kebangsaan (Indonesia) bisa terpadu dan tidak memicu konflik, seperti di banyak negara Timur Tengah," tandasnya.

Di akhir pidatonya, Gus Sholah menyoroti hubungan Islam dan negara yang mulai terganggu sejak 2016. Baik karena kasus Al-Maidah maupun adanya anggapan bahwa pemerintah memberi angin kepada keluarga PKI dan yang dianggap. "Muncul anggapan, kalau tidak memilih kepala daerah (dan mungkin kepala negara) nonmuslim, maka keindonesiaan, kebinekaan dan kepancasilaan kita diragukan," pungkasnya.

Selain diisi orasi Gus Sholah, deklarasi YP3I juga dimeriahkan dengan seminar yang dihadiri oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Haddad dan Sekjen Kementerian Agama Nur Syam. Juga pameran produk unggulan dari berbagai pesantren di Indonesia.

Beberapa kiai dan cendekiawan terkemuka yang tampak hadir antara lain Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Sholeh Qosim, Imam Besar Masjid Al-Akbar KH Ahmad Zahro, pengurus Masjid Istiqlal KH Muzammil Basuni, Pengasuh Pesantren Darunnajah Jakarta Shofwan Manaf dan Rektor Universitas Darussalam Gontor KH Fathullah Amal Zarkasyi. Juga, Ketua Umum YP3I Marzuki Alie dan Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Heppy Trenggono. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76274/gus-sholah-tanpa-kiai-dan-pesantren-indonesia-hancur-berantakan

Habib Syech Bersholawat

Friday, May 31, 2013

Mbah Maimoen Zubair Tidak Pernah Lupa Syiir Mbah Wahab

Habib Syech Bersholawat - Kiai Maimoen Zubair meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras dan belajar di sekolah “Syubbaanul Wathan” di sana, setiap hari sebelum masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh Kiai Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Nusron Wahid dan Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kiai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau lupakan:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku Cintamu dalam imanku Jangan halangkan nasibmu Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negriku Engkau Panji Martabatku S’yapa datang mengancammu ‘Kan binasa di bawah durimu!”

Mbah Maimoen Zubair Tidak Pernah Lupa Syiir Mbah Wahab - Habib Syech Bersholawat
Mbah Maimoen Zubair Tidak Pernah Lupa Syiir Mbah Wahab - Habib Syech Bersholawat


Mbah Maimoen Zubair Tidak Pernah Lupa Syiir Mbah Wahab

Kiai Fuad Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung, seorang santri dan khadam Kiai Ma’shoem Lasem meriwayatkan dhawuh gurunya (Mbah Ma’shoem), “pada lambang NU itu ada tali yang tersimpul. Itulah tali pengikat Indonesia. Kalau tali itu lepas, Indonesia akan meleleh seperti gelali!”

Habib Syech Bersholawat

Bagi pesantren dan NU, Indonesia adalah martabat. Harga diri. Memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga diri. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri. Memperjuangkan Cita-cita Proklamasi adalah memperjuangkan martabat kemanusiaan.

Kiai Bisri Mustofa hanya mengenyam sekolah “Ongko Loro” (“Angka Dua”, Inlandsche School, jenjang sekolah dasar dua tahun dengan bahasa pengantar Jawa untuk pribumi jelata di jaman Belanda). Ada seorang kerabat yang priyayi hendak mendaftarkannya ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School, sekolah dengan bahasa pengantar Belanda untuk anak-anak priyayi), tapi keburu ketahuan Kiai Kholil Harun, yang lantas mencegah, “Jangan sampai kamu jadi Londo!” kata beliau, “ayo ikut aku saja!”

Habib Syech Bersholawat

Sejak saat itu (usia sekitar 15 tahun) Mashadi (nama kecil Kiai Bisri) belajar di pesantren Kiai Kholil, mengunyah ilmu-ilmu agama langsung dengan “bahasa aslinya”, Bahasa Arab, bahkan secara khusus menekuni seluk-beluk Bahasa Arab sebagai modal prinsip untuk memahami agama secara otentik.

Belakangan, sesudah diambil menantu, Kiai Kholil Harun mengirimnya ke Makkah untuk bertabarruk kepada Tanah Suci dan berguru kepada para masyayikh disana selama dua tahun. Walaupun semua itu, Kiai Bisri tidak lantas menjadi kearab-araban, apalagi Arab-minded. Indonesia tertanam hingga merasuk ke sumsum tulangnya.

Aku masih kanak-kanak ketika malam itu nonton tivi berdua dengan beliau. Di layar tivi ada orang Arab ngomong entah apa. Yang tertangkap olehku hanya ucapan: “…Induuniisiyyaa… Induuniisiyyaa…”

“Brakk!!” aku kaget oleh suara meja digebrak tiba-tiba.

“Orang Arab ini sombongnya mintak ampun!” Mbah Kung bersungut-sungut, “kenapa harus ‘in-duu-nii-siy-yaa’? Masak ngomong ‘In-do-ne-sia’ saja nggak bisa? Dasar sombong!”

Catatan: - Gelali adalah gula jawa yang dipanasi hingga meleleh. - Syair di atas sebenarnya oleh Kiai Maimoen diriwayatkan beserta lagunya. Tapi karena penerima riwayat tidak memiliki cita-rasa nada sama sekali, riwayat lagunya jadi kacau-balau. Setelah ijtihad melodi yang susah-payah, dibantu para peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional GP Ansor Angkatan Ketiga di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung (10 – 14 Januari 2013), saya sampai pada rangkaian nada yang semoga tidak terlalu jauh melenceng dari asli nya. [Habib Syech Bersholawat]

Riwayat ini ditulis dari keterangan KH Yahya Cholil Staquf, Rais Syuriyah PBNU.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/mbah-maimoen-zubair-tidak-pernah-lupa-syiir-mbah-wahab.html

Saturday, October 27, 2012

Abdurrahman Wahid Center UI Gelar Kuliah Umum

Depok, Habib Syech Bersholawat. Prof Thomas Reuter hadir memberikan kuliah umum di Cinema Room, Central Library Area, UI Depok yang diadakan Abdurrahman Wahid Center bekerjasama dengan Vokasi UI, Selasa (12/2).

Sebelum kuliah disampaikan, peserta yang memadati ruang cinema disuguhi premier pemutaran film berjudul Religions Diversity in Indonesia: Java Spirit, sebuah film karya Prof. Reuter dariMelbourne University, Australia.

Abdurrahman Wahid Center UI Gelar Kuliah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Abdurrahman Wahid Center UI Gelar Kuliah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)


Abdurrahman Wahid Center UI Gelar Kuliah Umum

Sebagaimana terlihat dalam film tersebut, Prof. Reuter dalam kuliahnya memaparkan bahwa pemeluk agama-agama di Indonesia tidak menyukai kekerasan. Hal tersebut bertentangan dan sekaligus mematahkan anggapan Barat, termasuk Australia, bahwa Indonesia merupakan pondok terorisme.Anggapan ini muncul pasca pembom-an di Bali.

Terkait masalah global kekinian, Reuter menegaskan pentingnya pendekatan yang bisa mengaitkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Pasca PD II banyak ilmuwan yang menyayangkan rasio yang segitu entengnya diinstrumentalisasi untuk kepentingan duniawi yang tidak berlandaskan pada moral. Sehingga menciptakan kondisi yang pada akhirnya membuktikan bahwa nalar maupun ilmu pengetahua hanyalah alat.

Habib Syech Bersholawat

Dengan begitu, Reuter mempertanyakan apa artinya ilmu pengetahuan jika keadilan tidak tercapai. Bagi Reuter, kebenaran pun yang hanya masuk dalam otak namun tidak masuk ke hati, pada akhirnya tidak akan baik.

Habib Syech Bersholawat

Selanjutnya, karya profesor yang lancar berbahasa Indonesia ini dapat disimak dalam bukunya berjudul Faith in The Future: Understanding the Revitalization of Religions and Cultural Traditions in Asia. Tidak hanya pada keberagaman di Jawa maupun Indonesia, Reuter juga melebarkan ketertarikannya pada wilayah Asia.

AWC akan menghadirkan Sidney Jones dan pembicara lainnya dan dapat dinikmati pada bulan berikutnya, Ahmad Suaedy selaku Direktur Abdurrahman Wahid Center membuka dan menutup acara ini.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Ana A. Farihah

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42491/abdurrahman-wahid-center-ui-gelar-kuliah-umum

Habib Syech Bersholawat

Saturday, September 15, 2012

Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii

Buku Manhaj Salafi Imam Syafi’i (MSIS) ditulis oleh Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu, dengan kata pengantar Dr Arifin Baderi dan Dr Nur Ihsan dari Jember. Berikut tanggapan kami dengan narasi dialog agar mudah difahami.

WAHABI: Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga. (Buku MSIS hlm 60).

SUNNI: Jelas tidak benar. Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga. Demikian pula ulama-ulama salaf yang lain, tidak pernah menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga.

Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii - Habib Syech Bersholawat
Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii - Habib Syech Bersholawat


Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii

Karena yang pertama kali melakukan pembagian tauhid menjadi tiga, justru Ibnu Taimiyah, ulama yang hidup pada abad kedelapan Hijriah. Lalu pembagian tauhid tiga ini disebarluaskan oleh kaum Wahabi sejak abad kedua belas Hijriah.

WAHABI: Yang menunjukkan pembagian tersebut, cukuplah di antaranya ucapan Imam al-Syafi’i tatkala berkata:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ … وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

Habib Syech Bersholawat

“Segala puji hanya bagi Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya kemudian orang-orang kafir menyimpang … Dan orang-orang yang menyifatkan hakikat keagungan-Nya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.” (Al-Imam al-Syafi’i, al-Risalah, hlm 101).

Ucapan beliau “yang menciptakan langit dan bumi” adalah tauhid rububiyyah.

Ucapan beliau “kemudian orang-orang kafir menyimpang” adalah tauhid uluhiyyah, karena penyimpangan mereka bukan pada tauhid rububiyyah, melainkan dalam uluhiyyah..

Habib Syech Bersholawat

Ucapan beliau “orang-orang yang menyifatkan tentang keagungan-Nya” adalah tauhid asma’ wa shifat. (MSIS hlm 62).

SUNNI: Kutipan dari Imam al-Syafi’i di atas justru bertentangan dengan tauhid tiga wahabi yang Anda bawakan. Anda juga telah mentahrif (melakukan distorsi) terhadap pernyataan Imam al-Syafi’i di atas. Berikut kami jelaskan bukti-bukti kesalahan Anda yang fatal dalam mengartikan perkataan Imam al-Syafi’i di atas.

Pertama, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ

“Segala puji hanya bagi Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya”

Sebagaimana dimaklumi, perkataan al-Imam al-Syafi’i di atas adalah iqtibas (petikan) dari ayat al-Qur’an Surah al-An’am. Dalam ayat di atas, lafal Allah, yang berarti Uluhiyyah, dikaitkan dengan penciptaan langit-langit, bumi, kegelapan dan cahaya. Dengan demikian, seharusnya ayat tersebut dikaitkan dengan tauhid uluhiyyah, agar selaras dengan lafal Allah. Tetapi Anda dengan semborononya mengaitkannya dengan tauhid rububiyyah. Ini jelas kesalahan fatal.

Kedua, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

“kemudian orang-orang kafir menyimpang”

Terjemahan Anda terhadap ayat tersebut adalah tidak benar. Para ulama menerjemahkan ayat tersebut dengan:

“namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”

Jadi lafal ya’diluun, oleh para ulama diartikan mempersekutukan dan menyamakan Tuhan dengan selain Tuhan, bukan diartikan menyimpang.

Dalam ayat tersebut, lafal rabbihim, yang berarti rububiyyah, dikaitkan dengan kemusyrikan orang-orang kafir. Dengan demikian, seharusnya, kalau Anda sebagai Wahabi konsisten dengan kalimat di atas, ayat tersebut berkaitan dengan tauhid rububiyyah, bukan uluhiyyah, agar selaras dengan lafal rabbihim dalam ayat tersebut. Tetapi Anda, justru memahaminya sebagai tauhid uluhiyyah. Jadi Anda membolak-balik pernyataan ulama selevel Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, agar sesuai dengan pembagian tauhid Wahabi.

Dan apabila Anda konsisten mengikuti pernyataan Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu secara benar, maka batallah pembagian tauhid menjadi tiga ala wahabi yang Anda sebarkan. Dan nyatalah kebohongan Anda kepada umat Islam.

Ketiga, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

“Dan orang-orang yang menyifatkan hakikat keagungan-Nya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.”

Fragmen tersebut sebenarnya memberikan pengertian bahwa al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu beri’tiqad bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bukan benda yang tersusun (jisim) dan bukan pula menetap pada suatu arah. Karena seandainya Allah itu berupa benda atau menetap pada suatu arah, tentu orang-orang yang menyifati-Nya akan bisa sampai pada hakikat keagungan-Nya. Ternyata di sini Imam al-Syafi’i, menegaskan bahwa orang-orang yang menyifati-Nya tidak akan sampai pada hakikat keagungan-Nya, sebagaimana Dia menyifati diri-Nya, dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya. Pernyataan tersebut sekaligus membatalkan terhadap konsep akidah Wahabi yang meyakini bahwa Tuhan bertempat di Arasy, dan bentuknya seperti seorang laki-laki yang masih muda dan tanpa jenggot. Allah Maha Suci dari menyerupai apapun. Para ulama salaf berkata:

كُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ لَيْسَ كَذَلِكَ

Setiap apa yang terlintas dalam pikiranmu, maka Allah tidak seperti itu.

Keyakinan bahwa wujudnya Allah tanpa tempat dan arah, adalah kesepakatan Ahlussunnah Wal-Jama’ah sejak generasi salaf yang saleh. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh seorang ulama salaf, yaitu al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi dalam al-‘Aqidah al-Thahawiyyah:

تَعَالَى (يَعْنِىْ اللهُ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالْغَايَاتِ وَاْلأَرْكَانِ وَاْلأَدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.

Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, sehingga Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti tangan, wajah dan anggota badan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang), tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut. (Al-‘Aqidah al-Thahawiyyah).

Pernyataan al-Imam al-Thahawi tersebut merupakan ijma’ (konsensus) para sahabat dan ulama salaf yang saleh, karena al-Imam al-Thahawi menulis kitabnya, al-‘Aqidah al-Thahawiyyah sebagai rangkuman dari akidah-akidah yang menjadi keyakinan seluruh sahabat dan ulama salaf yang saleh. Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi juga mengatakan:

وَأَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَانٌ.

Ahlussunnah Wal-Jama’ah juga bersepakat, bahwa Allah itu tidak diliputi oleh tempat dan tidak dilalui oleh zaman. (Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tanpa tahun, hlm. 256).

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak berakidah seperti Wahabi, yang membagi tauhid menjadi tiga, rububiyyah, uhuliyyah dan asma’ wa shifat.

WAHABI: Sebagai bukti bahwa Imam al-Syafi’i meyakini tauhid uluhiyyah ala Wahabi, adalah larangan beliau membuat bangunan di atas kuburan.

SUNNI: Anda pasti salah fatal lagi.

WAHABI: Kok salah fatal sih. Coba lihat dalam kitab al-Umm, al-Imam al-Syafi’i berkata:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً … وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك فَإِنْ كانت الْقُبُورُ في اْلأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى في حَيَاتِهِمْ أو وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لم يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى منها وَإِنَّمَا يُهْدَمُ أن هُدِمَ ما لَا يَمْلِكُهُ أَحَدٌ فَهَدْمُهُ لِئَلاَّ يُحْجَرَ على الناس مَوْضِعُ الْقَبْرِ فَلاَ يُدْفَنُ فيه أَحَدٌ فَيَضِيقُ ذلك بِالنَّاسِ

Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dibangun… Aku mendapati para imam di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan aku tidak mendapati para ulama mencela hal itu. (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm juz 1 hlm 277). (DIKUTIP DARI MSIS hlm 68).

SUNNI: Itu bukti ketidakjujuran Anda. Mengapa demikian?

Pertama, al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak suka membangun kuburan, bukan karena berkaitan dengan kesyirikan dan pelanggaran tauhid uluhiyyah seperti yang digembar-gemborkan Wahabi Anda. Tetapi karena faktor, kuburan itu bukan tempat perhiasan dan kesombongan, sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam al-Syafi’i sendiri dalam pernyataan di atas.

Kedua, Anda melakukan kesalahan dalam menerjemahkan perkataan al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu di atas. Harusnya Anda terjemahkan, aku mendapati sebagian wali (penguasa) di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan di atas kuburan tersebut.

Ketiga, Anda telah membuang perkataan Imam al-Syafi’i yang tidak sesuai dengan selera hawa nafsu Anda. Perkataan al-Imam al-Syafi’i yang Anda buang menjadi bukti bahwa perobohan bangunan di atas kuburan tersebut, ketika kuburan itu milik umum, bukan milik pribadi. Jadi masalah pembongkaran kuburan tersebut tidak ada kaitannya dengan syirik dan tauhid uluhiyyah ala Wahabi. Perkataan tersebut selengkapnya begini:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً … وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك فَإِنْ كانت الْقُبُورُ في اْلأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى في حَيَاتِهِمْ أو وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لم يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى منها وَإِنَّمَا يُهْدَمُ أن هُدِمَ ما لَا يَمْلِكُهُ أَحَدٌ فَهَدْمُهُ لِئَلاَّ يُحْجَرَ على الناس مَوْضِعُ الْقَبْرِ فَلاَ يُدْفَنُ فيه أَحَدٌ فَيَضِيقُ ذلك بِالنَّاسِ

Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dibangun… Aku mendapati para imam di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan aku tidak mendapati para ulama mencela hal itu. APABILA KUBURAN YANG DIBANGUN ITU HAK MILIK SI MATI KETIKA MASIH HIDUPNYA ATAU AHLI WARIS MEREKA SETELAH KEMATIANNYA, MAKA BANGUNAN ITU TIDAK BOLEH DIROBOHKAN. BANGUNAN KUBURAN YANG DIROBOHKAN HANYALAH YANG BUKAN HAK MILIK SESEORANG. MEROBOHKANNYA AGAR TIDAK MENGHALANGI ORANG LAIN UNTUK DIMAKAMKAN DI KUBURAN TERSEBUT, SEHINGGA MEMBUAT SEMPIT BAGI BANYAK ORANG. (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm juz 1 hlm 277)

HATI-HATI baca buku terjemahan, banyak yang disunat demi sesuatu.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/01/membongkar-dusta-buku-manhaj-salafi.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock