Showing posts with label Doa. Show all posts
Showing posts with label Doa. Show all posts

Thursday, December 15, 2016

Seorang Anak kepada Orang Tuanya

Oleh Puthut EA--Ini kisah biasa. Diceritakan dengan cara biasa. Pak Munajat dan Bu Warni adalah sepasang petani kecil. Mereka hanya punya lahan seperempat hektar. Anaknya tiga, Imam, Subhan dan Lastri. Di antara ketiga anaknya, hanya Imam yang kuliah. Subhan lulusan STM, lalu bekerja menjadi satpam di sebuah bank. Lastri begitu lulus SMA bekerja di pabrik sepatu.

Pasangan itu banting tulang agar Imam bisa lulus sarjana. Pak Munajat kadang menjadi kuli bangunan. Bu Warni menjadi tukang masak di sebuah warung milik tetangganya.

Seorang Anak kepada Orang Tuanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Seorang Anak kepada Orang Tuanya (Sumber Gambar : Nu Online)


Seorang Anak kepada Orang Tuanya

Imam anak yang cerdas. Ia lulus tepat waktu dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan mobil ternama. Ia menikah, istrinya bekerja di sebuah perusahaan elektronika. Pasangan ini dikaruniai dua anak, laki-laki (5 tahun) dan perempuan (2 tahun). Keluarga yang sempurna. Pak Munajat dan Bu Warni sangat bangga dengan anak pertama mereka.

Habib Syech Bersholawat

Hingga tiba suatu saat, Imam melarang bapaknya pergi ke langgar sebelum salat Magrib dimulai. Karena Pak Munajat sering ikut pujian, ritual nyanyian yang dilakukan di antara waktu usai azan sampai sebelum iqomah. Ketika Pak Munajat bertanya kenapa, Imam menjawab: Itu bidah. Pak Munajat tidak berani membantah anaknya. Dia kalah pintar. Dia tidak tahu banyak soal Al Quran dan Hadist. Akhirnya Pak Munajat mengalah. Ia hanya bergegas ke langgar ketika iqomah sudah diserukan.

Habib Syech Bersholawat

Tidak lama kemudian, Imam melarang Pak Munajat melakukan Yasinan bersama orang-orang kampungnya di malam Jumat. Padahal acara itu sangat ditunggu oleh Pak Munajat karena di forum Yasinan itulah, dia bisa berkumpul dan bercengkerama dengan tetangga-tetangganya, berbagi kabar, dan sering mendapatkan ilmu baru. Ketika Pak Munajat bertanya kenapa, Imam menjawab: itu bidah.

Imam juga melarang Pak Munajat merokok. Haram, kata Imam. Padahal merokok bagi Pak Munajat mungkin satu dari sedikit kesenangan yang dimilikinya. Selain itu, merokok juga penting kalau sedang ngobrol dengan tetangga atau ketika datang ke sebuah hajatan. Sebetulnya Pak Munajat hendak membantah. Tapi karena diancam jika masih merokok tidak boleh mendekati kedua cucunya, terpaksa Pak Munajat menghentikan hal yang disukainya itu.

Imam juga melarang Pak Munajat datang ke berbagai kendurian yang biasa dihelat di kampungnya. Mulai dari tasyakuran, manakiban, khataman dll. Lagi-lagi Pak Munajat tidak bisa membantah. Dia kalah pintar.

Suatu saat, emak Pak Munajat meninggal dunia. Sebagaimana biasa, digelar ritual doa bersama tetangga selama 7 hari di rumahnya, kelak dilanjut 40 hari, 100 hari, 1.000 hari dst. Baru berjalan semalam, Imam kemudian melarang acara itu diteruskan. Bidah, katanya. Kali ini, Pak Munajat membantah. Dia bilang, sosok yang barusan meninggal adalah emak yang sangat disayangi dan dicintainya. Orang yang mengandung dirinya, melahirkannya, merawatnya dan membesarkannya seorang diri karena bapaknya meninggal saat dia berumur 10 tahun. Pak Munajat hanya ingin berdoa, ingin tetangga-tetangganya ikut berdoa. Dia hanya ingin menjadi anak yang berbakti. Pak Munajat memohon betul agar kali ini Imam memperbolehkannya melakukan ritual yang sangat penting itu.

Imam tetap tidak memperbolehkan. Kali ini, Pak Munajat tetap bersikukuh dengan sikapnya, dia tetap ingin melanjutkan acara doa bersama sampai 7 hari. Bu Warni dengan bersimbah airmata pun memohon agar Imam memperbolehkan ritual itu. Toh mereka memakai uang mereka sendiri, bukan uang dari Imam atau dari siapapun. Imam marah luarbiasa. Dia tunjuk muka kedua orangtuanya yang masih berduka itu dan bilang: kalian kafir!

Malam itu, sampai menjelang subuh, Pak Munajat dan Bu Warni masih menangis di dalam kamar. Di atas sajadah mereka menangis. Mereka tidak menyesal telah menyekolahkan Imam hingga menjadi sarjana. Mereka bersyukur karir Imam cemerlang dan dianugerahi keluarga yang sejahtera. Tapi mereka berdua tidak bisa mengerti, setiap hal yang mendamaikan mereka, yang menenangkan mereka, yang menyenangkan mereka, harus diakhiri dengan tiga kata: bidah, haram, dan bahkan kafir. Mereka tidak bisa mengerti kenapa anak yang begitu disayangi tega mengatakan kafir kepada orangtuanya padahal mereka merasa tidak pernah menyembah apapun selain Allah.

Malam itu, mereka berdua terisak. Tak tahu apa yang akan dilakukan. Tak bisa menerima apa yang telah terjadi. Mereka hanya bisa menangis di depan Allah.

Sekarang ini ada banyak sekali orang yang mengalami seperti apa yang dialami oleh Pak Munajat. Ada banyak sekali orang yang berperilaku seperti Imam.

Subuh ini, saya menangis untuk mereka. (Puthut EA, sastrawan, tinggal di Yogya)

Ilustrasi: yusufklaten.blogspot.com

yusufklaten.blogspot.com

Dari (Cerpen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57340/seorang-anak-kepada-orang-tuanya

Habib Syech Bersholawat

Monday, October 24, 2016

Setelah Ketemu Anies, Habib Rizieq Kena Fitnah Hot, Kiai Maruf Diseret-Seret, Konspirasi?

Habib Syech Bersholawat - Jauh sebelum Ahok Basuki ceroboh membahas Al-Maidah 51 dalam sosialisasi budaya dan koperasi di Kepulauan Seribu pada 6 Oktober 2016, tokoh wahabi yang berada di Majelis Ulama Indonesia (MUI), seperti Bachtiar Nasir (Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Pemimpin Al-Quran Learning Center), Zaitun Rasmin (Wakil Sekjend MUI, Wahdah Islamiyah), Farid Okbah, Fadlan Garamatan dan lain-lain, sudah mengunjungi pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, 27 September 2016.

Setelah Ketemu Anies, Habib Rizieq Kena Fitnah Hot, Kiai Maruf Diseret-Seret, Konspirasi?
Setelah Ketemu Anies, Habib Rizieq Kena Fitnah Hot, Kiai Maruf Diseret-Seret, Konspirasi?


Anies Baswedan adalah tokoh yang pernah dituduh oleh kalangan Islam garis keras sebagai intelektual syiah. Waktu menjabat Mendikbud, oleh media radikal, Anies juga dituduh akan menghancurkan Islam melalui penyusupan kurikulum liberal ke sekolah-sekolah. Ia juga pernah disebut kelompok radikal Islam sebagai menteri liberal (JIL) ketika isu penghapusan aktivitas berdo'a di sekolah terhembus.

Namun asyiknya, ketika Anies diusung Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berpasangan dengan Sandiaga Uno, yang dideklarasikan secara resmi di Roemah Joeang, Jakarta Selatan pada 26 September 2016, ia mendadak disayang oleh tokoh wahabi macam Bachtiar Nasir dan Zaitun Rasmin. Lihat foto yang didapatkan Habib Syech Bersholawat ini, siapa saja yang bareng selfie bersama Anies-Sandi?

Foto ini menyebar ke media sosial sejak 27 September 2016 (Foto 1) Ketika media afiliate PKS macam islamedia.com mengklaim foto di atas sebagai dukungan "tokoh Islam" ke Anies-Sandi, buru-buru Farid Okbah membantahnya. Sebagaimana berita yang ditulis situs risalah.tv dengan judul "Klaim Dukungan Ulama ke Anies Ternyata Hoax", Farid Okbah melalui Maulana Yusuf menyatakan kalau foto selfie (Foto 1) di atas hanya silaturrahim biasa yang dilakukan oleh "tokoh Islam" untuk tabayun kalau Anies bukan Syiah dan bukan JIL. Apalagi pendukung kesesatan.

Sampai di sini, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF)-MUI belum lahir. Tokoh-tokoh dalam foto di atas (Foto 1), masih kelihatan dekat dan hangat dengan Anies-Sandi walau mengklaim tidak mendukung.

Pada 7 Oktober 2016 pukul 10 pagi, sehari setelah Ahok menyebut-nyebut Al-Maidah 51 di Kepulaun Seribu, pasangan Agus-Sylviana sowan kepada KH Ma'ruf Amin. "Secara kelembagaan kita tidak bisa dukung karena ada tata krama. Tapi saya yakin warga NU akan dukung calon yang paling banyak samanya, misal agamanya sama, warna agamanya, marhabnya sama. Penampilannya santun tidak keras, tidak galak. Saya lihat saya yakin yang paling banyak samanya Pak Agus dan Bu Sylvi. Jadi saya yakin orang NU akan dukung calon yang paling banyak samanya," ujar Kiai Ma'ruf di Kantor PBNU, sebagaimana dilansir Habib Syech Bersholawat dari merdeka.com, (Jumat, 07/10/2016).

Kata Agus, tujuan dia ke PBNU saat itu adalah untuk meminta petuah senior dan restu mengarungi Pilkada DKI 2017. Sore hari, SBY dan Setyardi (Pemimpin Redaksi Obor Rakyat) mengadakan rapat di Cikeas bersama putranya, Agus dkk. Ini foto pertemuan itu, diupload oleh Setyardi juga melalui akun media sosialnya.

SBY, Ani, Agus rapat di Cikeas, 7 Oktober 2016 (Foto 2) Polemik Ahok yang ceroboh karena mengucap "…Dibohongi pakai surat Almaidah 51….", langsung direspon media dan masyarakat luas. Merasa perlu menenangkan, tidak butuh waktu lama, pada Selasa, 11 Oktober 2016, MUI akhirnya mengeluarkan fatwa secara resmi terkait kasus dugaan penistaan agama Ahok.

Dalam fatwa tersebut, MUI menyatakan Ahok telah menistakan agama. Menurut MUI, menyatakan kandungan surat Al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al-Quran.

Wakil Sekjen MUI Najamuddin Ramly mengklaim kalau lembaganya tidak perlu tabayun karena Ahok pasti tidak akan mengakui, "kami tidak memerlukan Ahok untuk memberikan konfirmasi karena pasti ngeles," ujarnya, Selasa (08/11/2016). Sumber informasi ini dilansir Habib Syech Bersholawat dari Detikcom.

Butuh berapa jam fatwa itu keluar setelah peristiwa sowan Agus-Sylviana itu? Hanya selisih 3 x 24 jam lebih sedikit. Sowannya hari Jumat, Selasa, keluarlah fatwa. Uniknya, fatwa diresmikan ke publik tanpa tabayun. Banyak pihak menduga, ada unsur di luar desakan masyarakat atas munculnya fatwa tersebut.

Setelah fatwa MUI itu menyeruak ke media, tiga hari kemudian, yakni Jumat, 14 Oktober 2016, ratusan ribu massa menggelar Aksi Bela Islam (ABI) I menuntut Ahok dipenjara karena dianggap melecehkan Islam dan Al-Qur'an. Aksi itu, katanya, adalah respon atas lemahnya penegak hukum yang tidak mau mengambil langkah cepat ke Ahok pasca MUI menetapkan fatwa.

Sampai di sini, Anies-Sandi sudah tidak terlihat menempel dengan tokoh-tokoh Islam yang menjadi penggerak ABI I, sebagaimana nampak di Foto 1 editorial ini, hingga muncullah GNPF-MUI sebagai konsolidasi gerakan mendukung dan mengawal fatwa MUI soal penistaan agama oleh Ahok.

Tercatat, GNPF-MUI pernah mengadakan konsolidasi sekaligus lauching kepengurusan gerakan pada 1 November 2016 di Hotel Syahid, Jakarta. Pada saat itu, sebagaimana ditulis jpnn.com, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, para pimpinan Ormas hingga Ahmad Dhani ikut hadir sebagai peserta.

Ahmad Dani ikut rapat (Foto 2A) Sejarahnya, sebelum dinamai GNPF, gerakan pimpinan Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) dan Zaitun Rasmin tersebut bernama Gerakan Bela Islam. Jadi, GNPF katanya adalah metamorfosis Aksi Bela Islam yang digelar UBN pada 14 Oktober 2016.

GNPF inilah yang dijadikan alat untuk menggelar aksi lanjutan, dinamai Aksi Bela Islam II. Dananya tidak main-main, 100 miliar. Data ini tercatat di wartakota.tribunews.com, yang diposting 2 November 2016. Rencana aksi susulan inilah yang membuat beberapa kalangan mulai was-was karena gerakan menuntut Ahok dipenjara sudah menyebar ke daerah dengan balutan isu sensitif, yakni agama dan etnis.

Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan untuk menghadapi Aksi Bela Islam II itu, Polri menurunkan 5000 Brimob ke daerah-daerah di seluruh NKRI. Wakil Komandan Korps Brimob Polri Brigjen Polisi Anang Revandoko menerbitkan Nota Dinas Nomor: B/ND-35/X/2016/Korbrimob tertanggal 28 Oktober 2016. Mengantisipasi perkembangan Kamtibmas di seluruh wilayah NKRI, dinyatakan Siaga I.

Antisipasi Polisi itu tidak berlebihan dan memang perlu mengingat isu berbau SARA sudah mulai menyeruak dipermainkan sang aktor dalam aksi edisi ke-2 ini. Aksi yang digelar siang hari dengan arak-arakan dari Masjid Istiqlal ke Istana itu dipoles dengan istilah "Jihad Konstitusi" oleh ormas yang mendukung acara. Megilan tenan!

Front Pembela Islam (FPI), ormas yang sejak dulu bersebarangan dengan Ahok pun sudah mulai teriak lantang. Pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab (HRS), yang jadi panitia penyelenggara, sudah mulai menggelontorkan isu "berdoa untuk kemenangan umat Islam" hingga menghimbau kepada peserta aksi untuk membuat "wasiat untuk keluarga". Seperti hendak berperang, bukan?

Untuk menggalang massa, media sosial pun digunakan secara massif. Dalam akun Twitter, Habib Rizieq dari FPI bahkan menganjurkan perusahaan, kantor, dan sekolah untuk diliburkan agar pegawai dan pelajar ikut aksi. Masyaallah. Dalam unjuk rasa sebelumnya, sejumlah anak-anak di bawah umur tampak dikerahkan dalam unjuk rasa dan ikut membentangkan spanduk. (sumber).

Media wahabi seperti jurnalmuslim.com juga sudah mulai menggoreng isu. Foto hoax Ahok yang tertawa dalam sebuah nobar pun digoreng dengan catatan yang diambil narasumber beritanya begini: Tom mendesak Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk memenuhi janjinya akan menuntaskan kasus Ahok dalam dua minggu. "Kapolri jangan berkelit, kalau tidak ingin seluruh negeri makin gaduh," ujar Tom.

Muncul pula berita HRS mengeluarkan 12 seruan, seperti dimuat di pojoksatu.id. Ratusan ribu umat Islam dari pelbagai daerah yang terprovokasi seruan HRS dan tokoh lain, berbondong-bondong datang ke Jakarta melebur dalam aksi yang disebut sebagai "Bela Islam".

Aksi Bela Islam (Foto 3) Berita-berita di situs wahabi pun membuat isu yang kontra produktif. "Silahkan kalian mencibir kami yang penuh tato. Silahkan kalian rendahkan kami dijalan. IMAN UNTUK MEMBELA AGAMA, KAMI LEBIH KUAT. Kami masih lebih mulia dari Nusron, Syafi’i Maarif, dan para munafiqin pembela ahok," begitu tulis voa-islam.com ketika melaporkan peserta Aksi Bela Islam II ada dari anak punk bertato. Ada tuduhan munafiqin dan isu "lebih mulia". Hmmm. Gorengan provokasi khas media wahabi.

Aksi yang diklaim menyatukan umat Islam itu berlanjut terus hingga digelar aksi lanjutan 2 Desember 2016. Disebut Aksi Bela Islam III. Jutaan umat Islam ikut datang ke Jakarta, melebur bersama. Media banyak memberitakan, artis-artis dan tokoh Islam selebriti macam Yusuf Mansur, Aa Gym, Arifin Ilham dan lainnya, ikut larut dalam aksi ini. Salah satunya termuat di needanews.com.

Foto-foto Aksi Bela Islam I, II maupun III, mudah didapatkan di media-media lainnya. Namun, tidak ditemukan sama sekali foto Agus Yudhoyono ikut aksi. Bahkan, dalam sorotan media teropongsenayan.com (29/10/2017), Agus terkesan mendukung ketika berbicara normatif kalau demo adalah hak warga negara. Sementara Anies Baswedan, entah kemana. Habib Syech Bersholawat tidak menemukan komentar Anies dalam aksi-aksi bela islam tersebut.

Pasca Aksi Bela Islam III yang tensi politiknya kian naik hingga ada geger tentang boikot sari roti, anti Cina, anti Kristen, kebangkitan PKI, hingga penangkapan tokoh-tokoh yang dianggap makar, Anies masih diam.

Anies kemudian tiba-tiba saja muncul bersama HRS pada Ahad, 1 Januari 2017 ketika diundang dalam forum diskusi FPI bertema 'Mengenal Ideologi Trans-Nasional di Era Globalisasi: Pengaruhnya terhadap Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI', yang dibawakan oleh dua pemakalah yaitu Prof. Dr. Mohammad Baharun dan Dr. Abdul Chair Ramadhan, dengan Dr. Hidayat Nur Wahid (HNW).

Anies Baswedan di Forum Diskusi FPI, Ahad (01/01/2017)

(Foto 4) "Nah Pak Anies ini kerap mendapatkan fitnah, lengkap sudah. Maka dari itu kami berikan kesempatan pada beliau untuk menjawab," ucap Habieb Rizieq di depan ratusan jamaah yang menghadiri diskusi di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Ahad (01/01/2017). Berita pertemuan Anies dengan HRS sempat diberitakan oleh Detikcom dan Kompascom, ini link berita tersebutnya:

Detik.com: https://news.detik.com/berita/d-3385675/temui-habib-rizieq-anies-baswedan-bantah-berbagai-fitnah

Kompas.com: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/03/09330091/kontroversi.pertemuan.anies.dan.rizieq.shihab

Ada yang menyebut, pertemuan Anies dan HRS bersama HNW adalah bentuk pemindahan pilihan kelompok GNPF, -yang sudah mendapatkan dana ratusan milyar,- kepada Anies-Sandi yang dianggap lebih mewakili kelompok Islam daripada Agus-Sylvi.

Persekutuan antara wahabi GNPF, wahabi MUI, dan FPI mulai pecah. Namun isu persatuan Islam masih terus harus dipertahankan. Anies yang berdiam sikap atas aksi Bela Islam, tidak jelas kontribusinya atas GNPF, akhirnya dapat undangan (dukungan) FPI. Ini seperti mendapatkan anugerah suara tiba-tiba. Pada saat yang sama, sikap gembong wahabi di GNPF masih belum jelas ke Agus-Sylvi.

Setelah itu, tiba-tiba saja, berita percakapan HRS dengan Firza Husen menghebohkan publik. Massa NU yang selama ini tenang, tidak ikut memihak sebelah, seakan-akan juga ikut terseret setelah KH Ma'ruf Amin disebut dilecehkan oleh Ahok dalam persidangan. Walau akhirnya ia minta maaf, dan Kiai Ma'ruf memaafkan, kemana limpahan suara politik warga nahdliyyin akan terbawa? Apakah orang-orang di Foto 1 dalam editorial ini kembali ke haribaan Anies-Sandi, seperti sebelum GNPF terbentuk?

Lalu, dimana GNPF saat HRS difitnah? Bukanlah selama ini UBN runtang-runtung pasca aksi 411 dan 212. Ketika banyak orang ramai-ramai mengasuskan HRS, ia seakan berjuang sendiri. Jelang aksi lanjutan 11 Februari 2017 ini pun, HRS, UBN beserta Munarman pun akan diperiksa polisi terkait kasus makar Sri Bintang Pamungkas.

Mau lanjut aksi atau pilih salah satu? Putaran kedua lebih seru tidak yah? Begitu tanya Anonimus di dunia entah sono kepada kita. Sebagai pengingat, simaklah Pidato Bung Karno di bawah ini! [Habib Syech Bersholawat]

PIDATO BUNG KARNO.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air

Kalau jadi Hindu, Jangan jadi orang India

Kalau jadi Islam, Jangan jadi orang Arab

Kalau jadi Kristen, Jangan jadi orang Yahudi

Tetaplah jadi orang Nusantara, dengan adat dan budaya Nusantara yang kaya raya ini.

Ingatlah saudara-saudara, musuh yang terberat itu adalah rakyat sendiri, Rakyat yang mabuk akan budaya luar yang kecanduan agama, yang rela membunuh Bangsa sendiri demi menegakkan budaya Asing, jangan mau diperbudak oleh semua itu.

Tetaplah bersatu padu membangun negeri ini tanpa pertumpahan darah.

Hai Anakku, simpan segala yang kau tau, jangan ceritakan berita sakitku kepada Rakyat, biarkan aku menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu, ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan dan keutuhan Bangsa jadikan deritaku sebagai saksi bahwa kekuasaan Presiden sekakipun ada batasnya, karena kekuasaan dan kekuatan langsung ada di tangan rakyat, dan diatas segala-galanya adalah kekuasaan Tuhan yang Maha Esa. Merdeka!!!

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/setelah-ketemu-anies-habib-rizieq-kena-fitnah-hot-kiai-maruf-diseret-seret-konspirasi.html

Sunday, December 15, 2013

Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur

Habib Syech Bersholawat - Presiden Joko Widodo selalu berusaha meneladani sikap hidup dan laku perjuangan Alm. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sejalan dengan misi utama kelahiran Nabi Muhammad SAW, dalam menuntun manusia menuju akhlak mulia dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur
Cerita Jokowi Diberi Peci Mantan Presiden Gus Dur


Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo dalam peringatan Haul Ke-7 K.H. Abdurrahman Wahid sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H yang digelar pada Jumat, 23 Desember 2016, di Komplek Al-Munawwaroh, Jalan Warung Silah No. 10, Ciganjur, Jakarta Selatan.

"Meneladani ketulusan beliau yang menjaga silaturahim, melampaui sekat-sekat primordial yang ada. Meneladani kesederhanaan beliau, meneladani kesukarelaan beliau dalam melayani masyarakat, dan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara sampai akhir hayatnya," ujar Presiden Joko Widodo.

Terlebih lagi Presiden teringat dengan peristiwa ketika Ibu Sinta Nuriyah, istri Gus Dur memberikan peci yang biasanya dipakai Gus Dur pada hari Kamis, 26 September 2013, di Wahid Institute. Tapi sayangnya peci itu disimpan Presiden di Solo. “Jadi tidak bisa saya pakai tahun ini. Insya Allah tahun depan," kata Presiden.

"Pada khaul 7 tahun wafatnya Gus Dur sekarang, pemberian peci itu menjadi pengingat-ingat buat saya, menjadi pengingat-ingat buat kita semua untuk selalu berusaha meneladani Gus Dur,” ucap Presiden.

Menurut Presiden Joko Widodo, Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009 lalu, dalam sepanjang hidupnya selalu menekankan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, milik bersama, bukan milik golongan dan bukan milik perseorangan.

“Saya percaya Gus Dur pasti gemes gregetan kalau melihat ada kelompok atau orang-orang yang meremehkan konstitusi, yang mengabaikan kemajemukan kita, yang memaksakan kehendak dengan aksi-aksi kekerasan, radikalisme, terorisme,” ujar Presiden.

Melihat situasi sekarang ini, lanjut Presiden, bangsa Indonesia seharusnya merasa bersyukur. Ketika banyak negara lain goyah mencari pedoman hidup, bangsa Indonesia memiliki Pancasila. “Ketika negara-negara lain kebingungan mencari panduan berbangsa dan bernegara, kita mempunyai Pancasila.

Seharusnya kita bisa membangun lebih cepat, bergerak lebih cepat, sehingga kita bisa menjadi negara pemenang, agar kita menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian,” kata Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Joko Widodo juga mengagumi sikap optimisme Gus Dur dalam memandang bangsa Indonesia ke depan. “Gus Dur itu selalu optimis dalam memandang Indonesia ke depan. Tidak kagetan, tidak gumunan. Itu Gus Dur,” ucap Presiden.

Bahkan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, Gus Dur selalu berpegang teguh pada sebuah kaidah fiqih 'Yassirru wala Tuasirru' yang memiliki makna permudahlah dan jangan dipersulit.

"Ketika mengambil keputusan yang rumit, saya suka teringat kata-kata beliau (Gus Dur), 'Gitu saja kok repot!?," ucap Presiden Joko Widodo.

Dalam Haul ke-7 kali ini Presiden Joko Widodo berkesempatan menyaksikan pembacaan dan penandatangan Ikrar Damai Ummat Beragama Indonesia oleh 9 Pemuka Agama, sebagai bentuk persatuan atas kemajemukan negara Indonesia.

Presiden Ingatkan Pesan Gus Dur pada Cagub DKI Jakarta Sebagai sosok yang dicintai berbagai kalangan masyarakat, peringatan Haul ke-7 Gus Dur dihadiri pula oleh sejumlah pimpinan lembaga negara, tokoh masyarakat, pemuka agama, para kyai, para ulama hingga para santri. Namun, tiga pasang calon Gubernur DKI Jakarta yang akan berkompetisi dalam Pilkada DKI 2017 mendatang juga tampak hadir di tengah para undangan.

Atas permintaan para undangan, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri mengabsen kehadiran ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta tersebut. Ketiga cagub dan cawagub yang hadir adalah Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, serta Anies Baswedan.

"Nih sekarang hadir disini tiga calon pasangan calon Gubernur DKI hadir semuanya. Diabsen dulu, katanya tadi yang di sana minta di absen. Silahkan berdiri semuanya," ujar Presiden Joko Widodo. Melihat keakraban ketiganya, Presiden Joko Widodo pun mengapresiasi solidaritas dan kerukunan yang ditunjukkan oleh ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta.

"Lha mbok ya begitu yang rukun, wong kita ini kan saudara, saudara sebangsa dan setanah air. Persaudaraan itu yang diajarkan oleh Gus Dur," ucap Presiden.

Turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Wakil Presiden RI ke-11 Boediono, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto dan Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid serta Yenny Wahid selaku tuan rumah. [Habib Syech Bersholawat]

Keterangan:

Laporan diatas ditulis oleh Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, 23 Desember 2016.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/cerita-jokowi-diberi-peci-mantan-presiden-gus-dur.html

Wednesday, September 25, 2013

Dilantik, Fatayat NU Jombang Matangkan Program Prioritas

Jombang, Habib Syech Bersholawat. Kepengurusan Pimpinan Cabang Fatayat NU Jombang Jawa Timur masa khidmah 2014-2019 resmi dikukuhkan, Sabtu (30/8). Kegiatan dilangsungkan di Pendopo Kabupaten Jombang. Ketua terpilih, Ema Umiyyyatul Chusnah, menjadi nakhoda untuk kepemimpinan periode kedua.

Ning Ema, sapaan akrabnya, menandaskan bahwa dirinya sangat bangga dengan kian banyaknya perempuan produktif yang berkenan menjadi pengurus dan penggerak Fatayat NU. "Di antara kesibukan sebagai ibu rumah tangga, wanita karier dan pendamping masyarakat di level masing-masing, ternyata masih banyak perempuan yang ingin berkhidmah di kepengurusan Fatayat NU," katanya kepada sejumlah media usai pelantikan,

Dilantik, Fatayat NU Jombang Matangkan Program Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Fatayat NU Jombang Matangkan Program Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)


Dilantik, Fatayat NU Jombang Matangkan Program Prioritas

Bagi Ning Ema, hal ini merupakan aset yang sangat mahal demi kepengurusan Fatayat di masa mendatang. "Keberadaan aktivis Fatayat juga sebagai aset organisasi bagi Nahdlatul Ulama khususnya di kepengurusan Muslimat NU di masa mendatang," tandas cucu KH Abdul Wahab Chasbullah ini. Kesinambungan organisasi dengan ketersediaan kader yang berkhidmah di kepengurusan badan otonom NU serta lembaga dan lajnah merupakan bukti bahwa kader terbaik bagi jamiyah ini cukup tersedia.

Habib Syech Bersholawat

Pada saat yang sama, para aktivis perempuan muda NU ini tentunya juga menjadi ujung tombak bagi kemajuan masyarakat. "Karena mereka adalah para pegiat pendidikan, ekonomi, kebudayaan, kesehatan dan sejumlah keahlian di lingkungan masing-masing," tandas anggota DPRD Kabupaten Jombang dari Partai Persatuan Pembangunan ini.

Khusus untuk kepengurusan Fatayat di tingkat cabang, salah seorang pimpinan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini menandaskan akan lebih banyak menfasilitasi kegiatan Fatayat di tingkat atau pimpinan ranting, hingga anak ranting di desa. "Prinsipnya kami akan menyesuaikan kebutuhan organisasi berbadasarkan aspirasi dan keinginan kepengurusan sesuai tingkatan tersebut," tandasnya.

Habib Syech Bersholawat

Sedangkan kebutuhan mendesak yang akan menjadi garapan serius pada khidmat lima tahun mendatang adalah memberikan pemahaman kepada perempuan akan hakikat pernikahan. "Tidak semata keabsahan dalam pandangan agama, namun juga pengetahuan yang berkaitan dengan hukum positif dan normal sosial yang ada," tegasnya. Karena selama ini banyak pasangan muda yang mencukupkan pengetahuan agama saat melangsungkan pernikahan, namun pengetahuan yang menyangkut aspek hukum dalam pernikahan serta hal lain yang bersinggungan dengan masalah rumah tangga kurang mendapatkan perhatian.

"Pengetahuan kesehatan reproduksi juga menjadi hal yang akan menjadi perhatian kami," tandasnya. Karena bagaimanapun juga, para perempuan muda yang akan atau sudah menikah harus memahami dengan baik pengetahuan yang menyangkut kesehatan reproduksi ini. Perempuan muda mempunyai tanggungjawab besar akan hal ini agar terlahir anak-anak yang sehat dan tumbuh menjadi manusia unggul, lanjutnya.

Tingginya angka perceraian juga menjadi perhatiannya. Bagi putri Wakil Bupati Jombang ini, hal tersebut terjadi lantaran banyak faktor. "Bisa karena ekonomi, atau bisa juga lantaran antara pasangan belum memiliki pemahaman yang sama terhadap hak dan kewajiban sebagai suami istri," ungkapnya. Karena itu memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap tanggungjawab pasangan adalah juga menjadi konsentrasi Fatayat NU di kota santri ini.

Sejumlah agenda tersebut akan menjadi prioritas bagi kepengurusan PC Fatayat NU Jombang. Ketersediaan para pengurus yang telah memilki rekam jejak dan kiprah sebelumnya, menjadi kata kunci bagi kepengurusan PC Fatayat NU Jombang. Demikian juga hubungan baik yang telah terjalin dengan Pemkab Jombang dan ormas keagamaan dan perempuan juga menjadi nilai lebih bagi khidmat Fatayat masa mendatang. "Doakan pola hubungan baik yang btelah terjalin selama ini bisa dilanjutkan dengan program nyata di kepengurusan kami yang akan datang," pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54145/dilantik-fatayat-nu-jombang-matangkan-program-prioritas

Habib Syech Bersholawat

Monday, November 12, 2012

Toilet Sebagai Jalan Keluar Gus Mus

Habib Syech Bersholawat - Gus Mus diundang mengisi ceramah pengajian yang istimewa. Judul acaranya: "Nada dan Dakwah bersama Gus Mus dan --sebut saja:-- Sri". Sri, bukan nama sebenarnya, adalah seorang penyanyi ndangndut perempuan yang sedang naik daun waktu itu.

Banyak tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan ikut hadir. Mereka ditempatkan di deretan tempat duduk terdepan, tepat di depan panggung, sebelah-menyebelah dengan Gus Mus sendiri. Usai ceramah pengajian, Gus Mus kembali ke kursinya dan acara dilanjutkan dengan hiburan lagu-lagu Islami oleh Si Sri.

Toilet Sebagai Jalan Keluar Gus Mus - Habib Syech Bersholawat
Toilet Sebagai Jalan Keluar Gus Mus - Habib Syech Bersholawat


Toilet Sebagai Jalan Keluar Gus Mus

"Saya sangat bangga dan berdebar-debar mendapatkan kesempatan menyanyi di sini," Sri membuka penampilan dengan sepatah-dua patah kata, "Apalagi di hadapan seorang ulama yang sangat saya kagumi dan menjadi idola saya... Guus Muuus! Mana tepuk tangannyaaa? Tepuk tangan buat Guuus Muuuusss...!"

Dan musik pun mulai mengedut. Namanya ndangndut, walaupun Islami tetap saja menyondol-nyondol pinggang untuk bergoyang. Buat Sri sendiri, itu sudah naluri. Ditahan-tahan juga percuma. Ketika sudah masyuk dalam irama, ia pun melangkah turun panggung. Mendekati seorang pejabat di deretan depan, menggamit lengannya, dan membuat pejabat itu tak punya pilihan --atau tak ingin memilih-- selain gabung berjoget bersama Sri.

Habib Syech Bersholawat

Sekuat tenaga Gus Mus menyembunyikan kegelisahan. Entah seperti apa raut mukanya selama memaksa-maksakan diri untuk tersenyum-senyum waktu itu. Belakangan jelas sekali ia tampak lega ketika seorang panitia mendekat menyuguhkan minuman.

Gus Mus menggamit si panitia, "Dik, toilet dimana?" "Oh, mari saya antarkan, Pak Kyai". "Nggak usah. Tunjukkan saja tempatnya, biar saya ke sana sendiri".

Panitia menunjuk pintu keluar gedung,

Habib Syech Bersholawat

"Dari situ terus kearah kiri, Pak Kyai".

Sambil mengangguk kanan-kiri, Gus Mus bergegas ke arah pintu itu. Dari situ ia langsung menuju tempat parkir mencari mobilnya, lalu menyuruh sopir cepat membawanya kabur. Sopirnya pun heran,

"Kok tergesa-gesa, 'Yai?" "Aku takut diajak njoget".

Begtiulah cara kiai menjaga dirinya, semnatara orang lain tetap nyaman dengan aktivitasnya. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/toilet-sebagai-jalan-keluar-gus-mus.html

Thursday, September 27, 2012

Jika Buruh Cina di Indonesia Pegang Senjata Semua

Habib Syech Bersholawat - Saya pernah ke Tibet. Saya tanya, gimana kok tibet bisa dikuasai cina, dan Dalai Lama sebagai pemimpin tibet bisa terusir? Jawabannya sungguh mengagetkan saya.

Dulu Tibet negara merdeka, lalu ada bantuan dari Cina untuk membangun Tibet, maka dikirimlah para pekerja dari Cina membangun jalan, jembatan dan sarana-sarana infrastuktur lainnya.

Tiba-tiba di suatu hari, ternyata pekerja-pekerja itu memegang senjata dan mengusai ibu kota dan pemerintahan. Dalai Lama ditangkap dan diasingkan keluar negeri. Ternyata mereka adalah para tentara yang menyamar jadi pekerja.

Kisah ini saya dengar langsung dari orang Tibet di kota Lasa (Ibukota Tibet).

Habib Syech Bersholawat

Saya tidak dapat membuktikan apakah cerita ini benar atau tidak, namun saya mendengar langsung dari orang asli tibet tersebut.

Nah, kita harus waspada dengan pengiriman besar-besaran tenaga kerja Cina ke Indonesia. Apalagi ada isu pembelian/ pemasukan tenaga kerja cina ilegal dan bantuan wang dan pembuatan proyek KA dan minyak.

Mohon kisah ini dicermati dan dapat disampaikan kepada para pimpinan dan pembuat kebijakan di RI.

Silahkan di cek kebenaran sejarah bagaimana Tibet dikuasai/ dijajah oleh Cina. Sejarah resminya tentu tidak akan menulis seperti itu. Perlu penelitian yang sungguh-sungguh obyektif, bagaimana kejadian yang sesungguhnya itu terjadi.

Ini untuk menjadi kewaspadaan kita semua. Terutama kewaspadaan TNI dan Polri sebagai benteng pertahanan negara RI. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/jika-buruh-cina-di-indonesia-pegang-senjata-semua.html

Friday, February 3, 2012

Mahasiswa Unhasy Identifikasi 7 Naskah Islam Kuno

Jombang, Habib Syech Bersholawat. Manuskrip merupakan warisan nenek moyang yang perlu dirawat dan dijaga. Sebab, manuskrip menjadi bukti warisan adat istiadat, sejarah suatu daerah, pemikiran masa lampau, termasuk berbagai bidang ilmu pengetahuan yang menjadi khazanah kekayaan.

Dalam rangka mendalami dan mengenal manuskrip Islam melalui kajian filologi, Mahasiswa PBSI FIP Universitas Hasyim Asyari Tebuireng Jombang mengidentifikasi manuskrip kuno peninggalan pesantren, Kamis (4/5).

Mahasiswa Unhasy Identifikasi 7 Naskah Islam Kuno (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unhasy Identifikasi 7 Naskah Islam Kuno (Sumber Gambar : Nu Online)


Mahasiswa Unhasy Identifikasi 7 Naskah Islam Kuno

Ada 7 naskah yang diidentifikasi, diantaranya tentang ilmu pengobatan (suwuk), fiqih, tauhid, hadist, ilmu waris, dan lain sebagainya. Mahasiswa mengidentifikasi naskah mulai dari judul naskah, pias kiri-kanan, kondisi naskah, warna tinta, ukuran naskah, tebal naskah, jumlah halaman, dan lain sebagainya.

Habib Syech Bersholawat

Agus Sulton, dosen mata kuliah Filologi FIP Universitas Hasyim Asyari mengatakan bahwa naskah tersebut baru didapatkan di salah satu daerah di Kediri Jawa Timur. Untuk informasi judul/nama naskah, pengarang sampai tahun penerbitan biasanya bisa dibaca di bagian kolofon. Akan tetapi tidak semua naskah memiliki kolofon, ada juga yang bagiannya sudah hilang, ungkapnya.

Kodikolog asal Ngoro Jombang tersebut menyebut beberapa naskah yang diidentifikasi itu ditulis lebih dari 200 tahunan yang lalu. Hal itu bisa terlihat dari jenis kertas yang digunakan. Ada juga naskah yang bercat air (watermark) yang menunjukkan jenis kertas Eropa. Ada juga manuskrip yang ditulis di kertas daluang yang terbuat dari pohon saeh, atau dikenal juga dengan bahan lembaran kayu kulit pohon paper mulberry (Broussonetia Papyryfera Vent). Pembuatan kertas dari kulit pohon tersebut dilakukan dengan cara ditumbuk, diperas, terus dijajarkan lalu direkatkan dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana, biasanya kertasnya lebih ulet, jelasnya.

Habib Syech Bersholawat

Naskah yang diteliti ada yang masih dalam kondisi utuh, artinya dari bahan kertas sampai isi masih tertulis dan terjaga dengan baik. Akan tetapi, ada juga yang kondisinya sudah rusak termakan rayap, atau sudah merpel. Setiap manuskrip tersebut berbahasa arab disertai makna jenggotan dan teks Islam keagamaan berbahasa pegon. (Robiah/Zunus)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77669/mahasiswa-unhasy-identifikasi-7-naskah-islam-kuno

Habib Syech Bersholawat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock