Showing posts with label Habib. Show all posts
Showing posts with label Habib. Show all posts

Monday, October 24, 2016

Setelah Ketemu Anies, Habib Rizieq Kena Fitnah Hot, Kiai Maruf Diseret-Seret, Konspirasi?

Habib Syech Bersholawat - Jauh sebelum Ahok Basuki ceroboh membahas Al-Maidah 51 dalam sosialisasi budaya dan koperasi di Kepulauan Seribu pada 6 Oktober 2016, tokoh wahabi yang berada di Majelis Ulama Indonesia (MUI), seperti Bachtiar Nasir (Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Pemimpin Al-Quran Learning Center), Zaitun Rasmin (Wakil Sekjend MUI, Wahdah Islamiyah), Farid Okbah, Fadlan Garamatan dan lain-lain, sudah mengunjungi pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, 27 September 2016.

Setelah Ketemu Anies, Habib Rizieq Kena Fitnah Hot, Kiai Maruf Diseret-Seret, Konspirasi?
Setelah Ketemu Anies, Habib Rizieq Kena Fitnah Hot, Kiai Maruf Diseret-Seret, Konspirasi?


Anies Baswedan adalah tokoh yang pernah dituduh oleh kalangan Islam garis keras sebagai intelektual syiah. Waktu menjabat Mendikbud, oleh media radikal, Anies juga dituduh akan menghancurkan Islam melalui penyusupan kurikulum liberal ke sekolah-sekolah. Ia juga pernah disebut kelompok radikal Islam sebagai menteri liberal (JIL) ketika isu penghapusan aktivitas berdo'a di sekolah terhembus.

Namun asyiknya, ketika Anies diusung Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berpasangan dengan Sandiaga Uno, yang dideklarasikan secara resmi di Roemah Joeang, Jakarta Selatan pada 26 September 2016, ia mendadak disayang oleh tokoh wahabi macam Bachtiar Nasir dan Zaitun Rasmin. Lihat foto yang didapatkan Habib Syech Bersholawat ini, siapa saja yang bareng selfie bersama Anies-Sandi?

Foto ini menyebar ke media sosial sejak 27 September 2016 (Foto 1) Ketika media afiliate PKS macam islamedia.com mengklaim foto di atas sebagai dukungan "tokoh Islam" ke Anies-Sandi, buru-buru Farid Okbah membantahnya. Sebagaimana berita yang ditulis situs risalah.tv dengan judul "Klaim Dukungan Ulama ke Anies Ternyata Hoax", Farid Okbah melalui Maulana Yusuf menyatakan kalau foto selfie (Foto 1) di atas hanya silaturrahim biasa yang dilakukan oleh "tokoh Islam" untuk tabayun kalau Anies bukan Syiah dan bukan JIL. Apalagi pendukung kesesatan.

Sampai di sini, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF)-MUI belum lahir. Tokoh-tokoh dalam foto di atas (Foto 1), masih kelihatan dekat dan hangat dengan Anies-Sandi walau mengklaim tidak mendukung.

Pada 7 Oktober 2016 pukul 10 pagi, sehari setelah Ahok menyebut-nyebut Al-Maidah 51 di Kepulaun Seribu, pasangan Agus-Sylviana sowan kepada KH Ma'ruf Amin. "Secara kelembagaan kita tidak bisa dukung karena ada tata krama. Tapi saya yakin warga NU akan dukung calon yang paling banyak samanya, misal agamanya sama, warna agamanya, marhabnya sama. Penampilannya santun tidak keras, tidak galak. Saya lihat saya yakin yang paling banyak samanya Pak Agus dan Bu Sylvi. Jadi saya yakin orang NU akan dukung calon yang paling banyak samanya," ujar Kiai Ma'ruf di Kantor PBNU, sebagaimana dilansir Habib Syech Bersholawat dari merdeka.com, (Jumat, 07/10/2016).

Kata Agus, tujuan dia ke PBNU saat itu adalah untuk meminta petuah senior dan restu mengarungi Pilkada DKI 2017. Sore hari, SBY dan Setyardi (Pemimpin Redaksi Obor Rakyat) mengadakan rapat di Cikeas bersama putranya, Agus dkk. Ini foto pertemuan itu, diupload oleh Setyardi juga melalui akun media sosialnya.

SBY, Ani, Agus rapat di Cikeas, 7 Oktober 2016 (Foto 2) Polemik Ahok yang ceroboh karena mengucap "…Dibohongi pakai surat Almaidah 51….", langsung direspon media dan masyarakat luas. Merasa perlu menenangkan, tidak butuh waktu lama, pada Selasa, 11 Oktober 2016, MUI akhirnya mengeluarkan fatwa secara resmi terkait kasus dugaan penistaan agama Ahok.

Dalam fatwa tersebut, MUI menyatakan Ahok telah menistakan agama. Menurut MUI, menyatakan kandungan surat Al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al-Quran.

Wakil Sekjen MUI Najamuddin Ramly mengklaim kalau lembaganya tidak perlu tabayun karena Ahok pasti tidak akan mengakui, "kami tidak memerlukan Ahok untuk memberikan konfirmasi karena pasti ngeles," ujarnya, Selasa (08/11/2016). Sumber informasi ini dilansir Habib Syech Bersholawat dari Detikcom.

Butuh berapa jam fatwa itu keluar setelah peristiwa sowan Agus-Sylviana itu? Hanya selisih 3 x 24 jam lebih sedikit. Sowannya hari Jumat, Selasa, keluarlah fatwa. Uniknya, fatwa diresmikan ke publik tanpa tabayun. Banyak pihak menduga, ada unsur di luar desakan masyarakat atas munculnya fatwa tersebut.

Setelah fatwa MUI itu menyeruak ke media, tiga hari kemudian, yakni Jumat, 14 Oktober 2016, ratusan ribu massa menggelar Aksi Bela Islam (ABI) I menuntut Ahok dipenjara karena dianggap melecehkan Islam dan Al-Qur'an. Aksi itu, katanya, adalah respon atas lemahnya penegak hukum yang tidak mau mengambil langkah cepat ke Ahok pasca MUI menetapkan fatwa.

Sampai di sini, Anies-Sandi sudah tidak terlihat menempel dengan tokoh-tokoh Islam yang menjadi penggerak ABI I, sebagaimana nampak di Foto 1 editorial ini, hingga muncullah GNPF-MUI sebagai konsolidasi gerakan mendukung dan mengawal fatwa MUI soal penistaan agama oleh Ahok.

Tercatat, GNPF-MUI pernah mengadakan konsolidasi sekaligus lauching kepengurusan gerakan pada 1 November 2016 di Hotel Syahid, Jakarta. Pada saat itu, sebagaimana ditulis jpnn.com, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, para pimpinan Ormas hingga Ahmad Dhani ikut hadir sebagai peserta.

Ahmad Dani ikut rapat (Foto 2A) Sejarahnya, sebelum dinamai GNPF, gerakan pimpinan Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) dan Zaitun Rasmin tersebut bernama Gerakan Bela Islam. Jadi, GNPF katanya adalah metamorfosis Aksi Bela Islam yang digelar UBN pada 14 Oktober 2016.

GNPF inilah yang dijadikan alat untuk menggelar aksi lanjutan, dinamai Aksi Bela Islam II. Dananya tidak main-main, 100 miliar. Data ini tercatat di wartakota.tribunews.com, yang diposting 2 November 2016. Rencana aksi susulan inilah yang membuat beberapa kalangan mulai was-was karena gerakan menuntut Ahok dipenjara sudah menyebar ke daerah dengan balutan isu sensitif, yakni agama dan etnis.

Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan untuk menghadapi Aksi Bela Islam II itu, Polri menurunkan 5000 Brimob ke daerah-daerah di seluruh NKRI. Wakil Komandan Korps Brimob Polri Brigjen Polisi Anang Revandoko menerbitkan Nota Dinas Nomor: B/ND-35/X/2016/Korbrimob tertanggal 28 Oktober 2016. Mengantisipasi perkembangan Kamtibmas di seluruh wilayah NKRI, dinyatakan Siaga I.

Antisipasi Polisi itu tidak berlebihan dan memang perlu mengingat isu berbau SARA sudah mulai menyeruak dipermainkan sang aktor dalam aksi edisi ke-2 ini. Aksi yang digelar siang hari dengan arak-arakan dari Masjid Istiqlal ke Istana itu dipoles dengan istilah "Jihad Konstitusi" oleh ormas yang mendukung acara. Megilan tenan!

Front Pembela Islam (FPI), ormas yang sejak dulu bersebarangan dengan Ahok pun sudah mulai teriak lantang. Pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab (HRS), yang jadi panitia penyelenggara, sudah mulai menggelontorkan isu "berdoa untuk kemenangan umat Islam" hingga menghimbau kepada peserta aksi untuk membuat "wasiat untuk keluarga". Seperti hendak berperang, bukan?

Untuk menggalang massa, media sosial pun digunakan secara massif. Dalam akun Twitter, Habib Rizieq dari FPI bahkan menganjurkan perusahaan, kantor, dan sekolah untuk diliburkan agar pegawai dan pelajar ikut aksi. Masyaallah. Dalam unjuk rasa sebelumnya, sejumlah anak-anak di bawah umur tampak dikerahkan dalam unjuk rasa dan ikut membentangkan spanduk. (sumber).

Media wahabi seperti jurnalmuslim.com juga sudah mulai menggoreng isu. Foto hoax Ahok yang tertawa dalam sebuah nobar pun digoreng dengan catatan yang diambil narasumber beritanya begini: Tom mendesak Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk memenuhi janjinya akan menuntaskan kasus Ahok dalam dua minggu. "Kapolri jangan berkelit, kalau tidak ingin seluruh negeri makin gaduh," ujar Tom.

Muncul pula berita HRS mengeluarkan 12 seruan, seperti dimuat di pojoksatu.id. Ratusan ribu umat Islam dari pelbagai daerah yang terprovokasi seruan HRS dan tokoh lain, berbondong-bondong datang ke Jakarta melebur dalam aksi yang disebut sebagai "Bela Islam".

Aksi Bela Islam (Foto 3) Berita-berita di situs wahabi pun membuat isu yang kontra produktif. "Silahkan kalian mencibir kami yang penuh tato. Silahkan kalian rendahkan kami dijalan. IMAN UNTUK MEMBELA AGAMA, KAMI LEBIH KUAT. Kami masih lebih mulia dari Nusron, Syafi’i Maarif, dan para munafiqin pembela ahok," begitu tulis voa-islam.com ketika melaporkan peserta Aksi Bela Islam II ada dari anak punk bertato. Ada tuduhan munafiqin dan isu "lebih mulia". Hmmm. Gorengan provokasi khas media wahabi.

Aksi yang diklaim menyatukan umat Islam itu berlanjut terus hingga digelar aksi lanjutan 2 Desember 2016. Disebut Aksi Bela Islam III. Jutaan umat Islam ikut datang ke Jakarta, melebur bersama. Media banyak memberitakan, artis-artis dan tokoh Islam selebriti macam Yusuf Mansur, Aa Gym, Arifin Ilham dan lainnya, ikut larut dalam aksi ini. Salah satunya termuat di needanews.com.

Foto-foto Aksi Bela Islam I, II maupun III, mudah didapatkan di media-media lainnya. Namun, tidak ditemukan sama sekali foto Agus Yudhoyono ikut aksi. Bahkan, dalam sorotan media teropongsenayan.com (29/10/2017), Agus terkesan mendukung ketika berbicara normatif kalau demo adalah hak warga negara. Sementara Anies Baswedan, entah kemana. Habib Syech Bersholawat tidak menemukan komentar Anies dalam aksi-aksi bela islam tersebut.

Pasca Aksi Bela Islam III yang tensi politiknya kian naik hingga ada geger tentang boikot sari roti, anti Cina, anti Kristen, kebangkitan PKI, hingga penangkapan tokoh-tokoh yang dianggap makar, Anies masih diam.

Anies kemudian tiba-tiba saja muncul bersama HRS pada Ahad, 1 Januari 2017 ketika diundang dalam forum diskusi FPI bertema 'Mengenal Ideologi Trans-Nasional di Era Globalisasi: Pengaruhnya terhadap Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI', yang dibawakan oleh dua pemakalah yaitu Prof. Dr. Mohammad Baharun dan Dr. Abdul Chair Ramadhan, dengan Dr. Hidayat Nur Wahid (HNW).

Anies Baswedan di Forum Diskusi FPI, Ahad (01/01/2017)

(Foto 4) "Nah Pak Anies ini kerap mendapatkan fitnah, lengkap sudah. Maka dari itu kami berikan kesempatan pada beliau untuk menjawab," ucap Habieb Rizieq di depan ratusan jamaah yang menghadiri diskusi di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Ahad (01/01/2017). Berita pertemuan Anies dengan HRS sempat diberitakan oleh Detikcom dan Kompascom, ini link berita tersebutnya:

Detik.com: https://news.detik.com/berita/d-3385675/temui-habib-rizieq-anies-baswedan-bantah-berbagai-fitnah

Kompas.com: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/03/09330091/kontroversi.pertemuan.anies.dan.rizieq.shihab

Ada yang menyebut, pertemuan Anies dan HRS bersama HNW adalah bentuk pemindahan pilihan kelompok GNPF, -yang sudah mendapatkan dana ratusan milyar,- kepada Anies-Sandi yang dianggap lebih mewakili kelompok Islam daripada Agus-Sylvi.

Persekutuan antara wahabi GNPF, wahabi MUI, dan FPI mulai pecah. Namun isu persatuan Islam masih terus harus dipertahankan. Anies yang berdiam sikap atas aksi Bela Islam, tidak jelas kontribusinya atas GNPF, akhirnya dapat undangan (dukungan) FPI. Ini seperti mendapatkan anugerah suara tiba-tiba. Pada saat yang sama, sikap gembong wahabi di GNPF masih belum jelas ke Agus-Sylvi.

Setelah itu, tiba-tiba saja, berita percakapan HRS dengan Firza Husen menghebohkan publik. Massa NU yang selama ini tenang, tidak ikut memihak sebelah, seakan-akan juga ikut terseret setelah KH Ma'ruf Amin disebut dilecehkan oleh Ahok dalam persidangan. Walau akhirnya ia minta maaf, dan Kiai Ma'ruf memaafkan, kemana limpahan suara politik warga nahdliyyin akan terbawa? Apakah orang-orang di Foto 1 dalam editorial ini kembali ke haribaan Anies-Sandi, seperti sebelum GNPF terbentuk?

Lalu, dimana GNPF saat HRS difitnah? Bukanlah selama ini UBN runtang-runtung pasca aksi 411 dan 212. Ketika banyak orang ramai-ramai mengasuskan HRS, ia seakan berjuang sendiri. Jelang aksi lanjutan 11 Februari 2017 ini pun, HRS, UBN beserta Munarman pun akan diperiksa polisi terkait kasus makar Sri Bintang Pamungkas.

Mau lanjut aksi atau pilih salah satu? Putaran kedua lebih seru tidak yah? Begitu tanya Anonimus di dunia entah sono kepada kita. Sebagai pengingat, simaklah Pidato Bung Karno di bawah ini! [Habib Syech Bersholawat]

PIDATO BUNG KARNO.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air

Kalau jadi Hindu, Jangan jadi orang India

Kalau jadi Islam, Jangan jadi orang Arab

Kalau jadi Kristen, Jangan jadi orang Yahudi

Tetaplah jadi orang Nusantara, dengan adat dan budaya Nusantara yang kaya raya ini.

Ingatlah saudara-saudara, musuh yang terberat itu adalah rakyat sendiri, Rakyat yang mabuk akan budaya luar yang kecanduan agama, yang rela membunuh Bangsa sendiri demi menegakkan budaya Asing, jangan mau diperbudak oleh semua itu.

Tetaplah bersatu padu membangun negeri ini tanpa pertumpahan darah.

Hai Anakku, simpan segala yang kau tau, jangan ceritakan berita sakitku kepada Rakyat, biarkan aku menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu, ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan dan keutuhan Bangsa jadikan deritaku sebagai saksi bahwa kekuasaan Presiden sekakipun ada batasnya, karena kekuasaan dan kekuatan langsung ada di tangan rakyat, dan diatas segala-galanya adalah kekuasaan Tuhan yang Maha Esa. Merdeka!!!

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/setelah-ketemu-anies-habib-rizieq-kena-fitnah-hot-kiai-maruf-diseret-seret-konspirasi.html

Thursday, October 15, 2015

Soal Tenaga Kerja Cina, PBNU Minta Pemerintah Harus Sensitif

Habib Syech Bersholawat - Beredarnya kabar tentang masuknya tenaga kerja dari Cina ke Indonesia yang gajinya lebih tinggi dari buruh lokal, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta kepada pemerintah agar memperhatikan hal-hal mendasar sebelum mempekerjakan tenaga kerja asing.

Soal Tenaga Kerja Cina, PBNU Minta Pemerintah Harus Sensitif
Soal Tenaga Kerja Cina, PBNU Minta Pemerintah Harus Sensitif


Baca juga: Tenaga Kerja Tiongkok dan Nasib Tenaga Kerja Kita

Bulan Agustus lalu, Polisi berhasil menangkap 70 kerja tenaga asing illegal dari China dalam proyek pembangunan pabrik semen di Pulo Ampel, Serang. Perbandingan komposisi tenaga kerja asing yang jumlahnya 70 persen dalam proyek tersebut membuat PBNU meminta pemerintah harus sensitif menjaga perasaan rakyat.

Apalagi kenyataan membuktikan bahwa gaji pekerja asing ternyata lebih mahal dari pekerja lokal. Mereka digaji 15 juta perbulan, sementara pekerja lokal diberi upah 2 juta, "prakteknya tidak mengajak rakyat sebagai mitra, dalam hal ini sebagai pekerja," demikian keterangan dalam surat yang ditandatangani oleh Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj dan Sekjen Helmy Faishal tersebut Selasa (20/12/2016).

Selanjutnya, PBNU menyarankan agar pemerintah memperkuat negosiasi kesepakatan kerjasama dalam paket investasi. Hal itu amat penting dilakukan mengingat tingkat perekonomian Indonesia yang merosot jauh, "kegiatan ekspor berkurang, daya beli masyarakat menurun dan harga pasar semakin tinggi," lanjut keterangan rilis bernomor 1128/A.II.03./12/2016.

PBNU juga meminta kepada pemerintah untuk lebih aktif membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Sebab, pengangguran di Indoensia kini sudah sangat memprihatinkan, angkanya mencapai 7,02 juta orang. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/soal-tenaga-kerja-cina-pbnu-minta-pemerintah-harus-sensitif.html

Wednesday, January 23, 2013

Alasan Gus Dur Mengembalikan Cina ke Agama Nenek Moyang

Habib Syech Bersholawat - Semasa jadi wartawan di Semarang, Ichwan DS, salah seorang aktivis NU Jateng mengaku kalau gerakan kristenisasi sangat masif bergerak sejak dulu, terutama di kawasan Kauman, Pecinan, Semarang Utara, Semarang Timur, Semarang Barat dan Gayamsari.

Alasan Gus Dur Mengembalikan Cina ke Agama Nenek Moyang
Alasan Gus Dur Mengembalikan Cina ke Agama Nenek Moyang


Kesimpulan Ichwan bukan omong kosong, ia langsung mendapatkan keterangan dari para pelaku misi kristenisasi di Semarang saat itu. "Ada yang digerakkan dari gereja. Ada yang diorganisir Yayasan Soegijapranata, yang hebat ya yang diorganisir yayasan tersebut. Dana dan SDM-nya tak terbatas," katanya kepada Habib Syech Bersholawat di Semarang, Selasa (6/12/2016).

Dana yang didapatkan oleh misionaris kristenisasi tersebut, lanjut Ichwan, didapatkan dari orang Cina yang beragama Kristen, pilihan agama resmi yang banyak dipeluk warga Cina Pribumi karena paksaan politik Orde Baru.

Oleh pelaku gerakan kristenisasi, orang-orang kaya dari etnis Cina diminta untuk menyetorkan uang demi glorifikasi, mengkristenkan wilayah targetnya, "selama orang Cina di Semarang memeluk Kristen, mereka diharuskan setor uang yang banyak ke gereja," tutur Ichwan yang juga pengurus LTN NU Jateng tersebut.

Ichwan justru mengapresiasi kebijakan Gus Dur waktu jadi presiden yang berhasil mengembalikan hak orang Cina Tionghoa untuk memeluk agama nenek luhur mereka, Kong Hu Chu dan Budha. Ini yang disebut sebagai langkah cerdas Gus Dur memotong aliran dana kristenisasi dan sekaligus memberikan persamaan hak pribumi Tionghoa di Indonesia.

"Dengan kembalinya orang Cina ke agama nenek moyang, dana kristenisasi sangat jauh berkurang. Dan Islam semakin selamat karena Agama Konghuchu maupun Budha itu bukan agama misi," imbuh Ichwan. Sayangnya, langkah strategis Gus Dur tersebut disalahpahami oleh kalangan sumbu pendek dari umat Islam sendiri.

"Orang-orang sumbu pendek di FPI maupun wahabi begitu keji menuduh Gus Dur sebagai kongsinya Kristen, Yahudi, Cina dan sebagainya. Habib Riziq Sihab bahkan menyebut Gus Dur orang buta mata dan buta hati, orang liberal dan pencampur aqidah," terang Ichwan. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/alasan-gus-dur-mengembalikan-cina-ke-agama-nenek-moyang.html

Tuesday, October 2, 2012

Provokatif dan Radikal Respon Demo, Akun IG Negerisantri Layak Dilaporkan

Habib Syech Bersholawat - Jumat, 4 Novemer telah berlalu. Tanggal ini akan menjadi sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia atas aksi damai yang digalakkan oleh muslim yang diwakili beberapa kelompok untuk bela Al Quran.

Provokatif dan Radikal Respon Demo, Akun IG Negerisantri Layak Dilaporkan - Habib Syech Bersholawat
Provokatif dan Radikal Respon Demo, Akun IG Negerisantri Layak Dilaporkan - Habib Syech Bersholawat


Provokatif dan Radikal Respon Demo, Akun IG Negerisantri Layak Dilaporkan

Tidak ada yang negatif dalam aksi demo, ini sah-sah saja terjadi. hanya saja kericuhan yang sempat terjadi seolah mencoreng nama islam karena oknum yang memang berniat untuk memecah belah persatuan. Di luar itu, Islam tetaplah agama yang rahmatan lil ‘aalamin. Tetap menjadi agama yang selalu menjujung damai.

Tidak hanya di dunia nyata yang ramai, di dunia maya pun tak kalah ramai. Semua pemilik akun sosial media berlomba-lomba menyuarakan kebenaran pendapat yang belum tentu benar. Hanya saja keangkuhan opini itu tak bisa menghalangi mereka untuk debat kusir dengan saudaranya, justru inilah yang sebenarnya yang harus ditakutkan. Sebab dari perkara yang menyebar luar di media massa akan menimbulkan konflik massa yang meluas dan tidak bisa dikontrol juga karena sifatnya digital dan massal.

Selain itu mulai banyak postingan yang di bagikan oleh pengguna sosial media di akun masing-masing secara cepat tanpa ada klarifikasi. Postingan atau meme yang dibuat oleh pengguna akun official yang ternyata malah membuat keadaan semakin keruh.

Seperti yang sedang meresahkan saat ini adalah akun instagram @negerisantri. Akun ini memilih nama @negerisantri tetapi tidak sama sekali mencerminkan sifat santri dan tradisi ke-pesantrenan yang selalu mengajarkan damai, tabayyun dan tidak berkata kasar.

Akun @negerisantri ini sudah mulai banyak yang melaporkan kepada instagram karena postingannya yang provokatif. Dia menyudutkan media hingga presiden secara terang terangan. Akun yang katanya negeri untuk santri ini ternyata adalah akun yang dibuat bertujuan untuk bisnis. Begitulah yang saya dapatkan dari sumber yang dipercaya, yang tidak bisa saya sebutkan namanya demi menjaga keamananya dari admin utama yang sudah melenceng niatnya itu.

Sempat dilakukan jalan damai oleh beberapa teman yang btergabung di AIS Nusantara (Admin Istagram Santri) Nusantara untuk menghapus postingan yang berbau penghinaan atau provokatif. Tapi tetap saja hingga sekarang akun @negerisantri ini semakin bergrilya memosting sesuatu yang sangat provokatif dan bisa menimbulkan konflik.

Jika saya boleh beropini sebagai orang yang pernah bergelut di media profesional, postingan pemilik akun @negerisantri ini bisa dilaporkan ke polisi karena pencemaran nama baik media. Juga beberapa postingan yang sangat tidak ber-etika.

Pesan saja untuk semua pengguna media/sosial medua. Jangan sampai karena kecanggihan teknologi dan egoisme diri membuat kita semakin bernafsu untuk berbuat kriminal tanpa mempertimbangkan dampak massa yang akan terjadi.

Mengajak semua orang yang punya akun instagram untuk melaporkan akun @negerisantri ini agar segera ditindak lanjuti olehi instagram agar sesegera mungkin di musnahkan peredarannya di instagram atau dimanapun.

Sebagai santri saya sangat tersakiti dan kecewa dengan tindakan yang dilakukan oleh admin @negerisantri yang tidak mencerminkan sifat santri. Untuk itu saya membuat tulisan ini karena saya kecewa dengan sikap admin instagram @negerisantri yang tidak mau menyelesaikan semua persoalan ini dengan damai. Justru semakin gencar membuat isu provokatif tanpa henti. Padahal seorang santri adalah sosok yang selau berada dalam jalur damai.

Report/pelaporan akun instagram @negerisantri dari teman-teman di instagram sangatlah berarti. Jika yang sudah mem-follow bisa unfollow kemudian report. Jika 1 akar api yang terbakar dipadamkan, maka seluruh akar tidak akan terbakar habis, pohon bisa tumbuh.

Begitulah analogi yang mungkin bisa mewakili solusi agar sang provokator lekas dibumi hanguskan dari negeri yang damai ini. Mereka sudah melaukan spam ke akun-akun instagram santri lainnya juga soalnya. Lihat foto paling atas postingan ini. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/provokatif-dan-radikal-respon-demo-akun-ig-negerisantri-layak-dilaporkan.html

Tuesday, April 10, 2012

Gus Mus ke MUI: Rakyat Jelata Disuruh Jadi Manusia, Tapi Mereka Jadi Harimau

Habib Syech Bersholawat - Menurut Gus Mus, status MUI selama ini tidak jelas dan membingungkan, apakah termasuk organisasi masyarakat, partai politik, atau Institusi Pemerintah.

Meski menyandang status yang tidak jelas, kata Gus Mus, MUI mendapat anggaran dari pemerintah/ negara. "MUI ini sudah lama tidak jelas. Parpol, Ormas atau Lembaga Pemerintah. Tapi kok ya dapat APBN," ujar Gus Mus saat ditemui CNNIndonesia. com di kediamannya di Rembang, Jawa Tengah, beberapa hari lalu.

Gus Mus ke MUI: Rakyat Jelata Disuruh Jadi Manusia, Tapi Mereka Jadi Harimau - Habib Syech Bersholawat
Gus Mus ke MUI: Rakyat Jelata Disuruh Jadi Manusia, Tapi Mereka Jadi Harimau - Habib Syech Bersholawat


Gus Mus ke MUI: Rakyat Jelata Disuruh Jadi Manusia, Tapi Mereka Jadi Harimau

Gus Mus mengatakan, tidak semua orang yang ada di MUI itu ulama, tapi banyak dari mereka yang menyebut dirinya ulama. Sehingga, menurut Gus Mus, banyak umat Islam yang menganggap MUI sebagai penentu fatwa yang wajib diikuti.

Habib Syech Bersholawat

"Asal jadi pengurus MUI terus kok disebut ulama. Juru tulis atau juru ketik seakan ulama, terus mudah mengeluarkan fatwa, dan lucunya, banyak umat Islam yang mengikuti. Halal dan haram mudah dikeluarkannya," sindir Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Tholibin Rembang itu.

Dalam kondisi bangsa dan negara yang kini rentan diterpa oleh isu suku, agama, ras, dan antargolongan, Gus Mus berharap orang-orang di dalam MUI mau mengkoreksi diri dan merevolusi mental internal kelembagaan.

"Jangan mengatakan seseorang atau manusia bukanlah manusia padahal dirinya sendiri belum atau bahkan bukan manusia. Rakyat jelata disuruh jadi manusia, tapi mereka jadi harimau, serigala, waduh," ujar Gus Mus.

Habib Syech Bersholawat

MUI sebelumnya telah mengeluarkan fatwa yang menyebut bahwa Ahok telah menistakan agama. Saat melakukan kunjungan kerja di Kepulauan Seribu, Ahok menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 dan dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta. MUI menilai pernyataan Ahok merupakan penghinaan terhadap Al-Quran dan ulama.

Baca juga: MUI Sarang Gerakan Radikal? Duh, Gawat!

Selain memicu gelombang demonstrasi besar-besaran dalam Aksi Damai 4 November lalu, dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok telah menimbulkan pro kontra opini di kalangan publik.

Gus Mus sendiri menyayangkan sikap MUI yang dinilai telah 'menyerang' mantan Ketua PP Muhammadiyah Achmad Syafii Ma'arif lewat media massa maupun di media sosial, terkait tanggapannya atas dugaan kasus penistaan agama oleh Ahok.

"Itu gimana Buya Syafii saja didebat dan dihujat. Ilmu agama Islam Buya itu lebih tinggi dari mereka yang di MUI," sindir Gus Mus. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/gus-mus-ke-mui-rakyat-jelata-disuruh-jadi-manusia-mereka-harimau.html

Wednesday, February 16, 2011

Kedudukan Grand Syaikh Al Azhar Mesir

Habib Syech Bersholawat - Grand Syekh Al-Azhar atau yang kami murid-murid biasa menyebut Al-Imam Al-Akbar, adalah Pemimpin tertinggi Al-Azhar, membawahi Puluhan Universitas Al-Azhar di Mesir, Masjid-masjid, dan Sekolah-sekolah.

Beliau memiliki kedudukan setara dengan Perdana Menteri Mesir, mengingat pengaruh dan kekayaan wakaf Al-Azhar di masa lalu yang melebihi kekayaan negara Mesir itu sendiri.

Kedudukan Grand Syaikh Al Azhar Mesir - Habib Syech Bersholawat
Kedudukan Grand Syaikh Al Azhar Mesir - Habib Syech Bersholawat


Kedudukan Grand Syaikh Al Azhar Mesir

Dari sisi aqidah, Mayoritas Pemimpin Al-Azhar beraqidah Aswaja Asy'ari, bertasawwuf dan tharekat. Saya bisa pastikan sama dengan kita, karena hampir 7 tahun lamanya saya menimba ilmu dari beliau-beliau. Tentu sebagai manusia, beliau punya pandangan ijtihadi yang bisa jadi berbeda. Dan itu manusiawi sekali.

Habib Syech Bersholawat

Pandangan sinis dipropagandakan oleh beberapa media terkait pandangan beliau yang memihak kepada Presiden Abdul Fattah Sisi yang sekarang berkuasa setelah mengkudeta Presiden Mursi yang berhaluan Ikhwanul Muslimin, seperti PKS umumnya di Indonesia.

Secara umum, Al-Azhar lah yang menjaga tradisi Aswaja dan Tasawwuf di ranah internasional, baik secara akademis maupun personal. Pengaruh Al-Azhar di kalangan intelektual timur tengah sangat kuat sekali. Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Zainal Abidin mengakui hal ini.

Habib Syech Bersholawat

Di sisi yang lain, sebagai universitas tertua di dunia, tentu Al-Azhar juga memiliki dinamika intelektual yang terbuka, sehingga beberapa tokohnya ada yang berbau mu'tazilah bahkan wahabi. Tapi itu sedikit sekali. Tetapi mayoritas Azhariyyin adalah Aswaja Asy'ari dan Pengamal Tasawwuf seperti Prof Ali Jum'ah, Prof Said Ramadhan, Prof Wahbah Zuhaili, sampai Syekh Muhammad Ibrahim Abdul Ba'its yang kemarin berceramah dalam acara Syekh Afifuddin di Putra Jaya.

Khusus Grand Syekh Prof Ahmad Thayyib beliau adalah Al-Hasani, keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Hasan. [red/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/kedudukan-grand-syaikh-al-azhar-mesir.html

Wednesday, January 6, 2010

Kacau Jika Politisi Bicara Agama, Agamawan Bicara Politik

Habib Syech Bersholawat - Kacau, ma huwal kacau? Wa ma adrokamal kacau? Pengamat anu mengatakan: “Pilkada Jakarta kali ini benar-benar berasa pilpres karena merupakan pertarungan pembuktian kekuatan Jokowi, Prabowo dan SBY”

Kacau Jika Politisi Bicara Agama, Agamawan Bicara Politik
Kacau Jika Politisi Bicara Agama, Agamawan Bicara Politik


Politisi anu mengatakan: “Hanya Allah lah yang berhak mentafsirkan surat al-Maidah; 51, Allah wa Rasuluhu a’lam bi murodih. Karena redaksi kalimat apapun itu hanya si pengucap yang tahu makna dan maksudnya”.

Agamawan anu pun mengatakan: “... Ini biadab saudara, kurang ajar! Sampai ada yang mengatakan bahwa ini perilaku anjing .. Presidennya Guoblok, menterinya sesat, dan istananya istana iblis!" (Aw kama qol).

Sejarah pun mengatakan: Ketika para penghafal Al-Quran (Qurro’) yang tidak faqih (faham benar) terhadap al-Quran itu mulai sentimen terhadap penguasa hingga menyebarkan propaganda politik bahwa Kholifah Ustman bin Affan telah melakukan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) yang bertentangan dengan Al-Quran, maka terjadilah demonstrasi besar di Madinah yang dikenal dengan sebutan al-fitnatul kubra.

Hingga beliau pun harus terbunuh dan darah beliau harus melumuri Al-Quran yang tengah beliau baca. Naifnya, beliau justru meninggal di atas Al-Quran karena tusukan pedang dari tangan salah seorang qurro’ (penghafal al-Quran) yang mengaku sebagai pecinta Al-Quran.

Begitu juga ketika orang-orang yang mengaku pecinta Al-Quran dari kaum Khawarij yang berada di barisan Sayidina Ali bin Abi Tholib itu mulai tidak setuju dengan keputusan beliau untuk ishlah (gencatan senjata) dengan Muawiyah bin Abi Sufyan, mereka pun mulai membuat fitnah politik bahwa Sayidina Ali telah melanggar Al-Quran, melecehkan ajaran Al-Quran dan menistakan Al-Quran.

Dan dengan ikhtiar politik, mereka pun menganggap Sayidina Ali telah kafir hingga menghalalkan darah beliau hanya karena kedangkalan pemahaman mereka terhadap ayat: “Barangsiapa yang tidak mau menghukumi sesuai dengan hukum Allah maka mereka adalah orang-orang kafir” (QS. Al-Maidah; 44). Sayidina Ali pun meninggal di tangan mereka.

Inilah contoh-contoh tentang kekacauan, ketumpang-tindihan, kerancuan dan kecampur-adukan antara agama dan politik yang berakibat fatal pada terjadinya chaos sosial dan hilangnya perdamaian yang dijunjung tinggi oleh Islam.

Agama sebagai alat Maka saya hanya bisa mengatakan, ketika para politisi akhirnya berbicara tentang agama, dan ketika para agamawan pun berbicara tentang politik, hingga para pemirsa medsos (netizen) yang tidak begitu mengerti politik maupun agama pun akhirnya berkomentar dengan ketidak-tahuan dan ketidak-mengertian mereka, maka itulah kerancuan ilmu dan kekacauan sosial yang sesungguhnya akibat kaburnya kebenaran yang sesungguhnya.

Ketika para politisi yang penuh kepentingan terhadap kekuasaan itu telah menjadikan agama dan para agamawan sebagai alat politik yang menguntungkan mereka dan para agamawan yang tak mampu menutupi kebencian mereka terhadap para penguasa itu akhirnya berkepentingan untuk mencegah bahkan -bila perlu- melengserkan kekuasaan para penguasa yang tengah berkuasa, maka rakyat dan umat Islam pun terpaksa terperalat oleh keadaan akibat keluguan mereka akan politik dan agama. Maka itulah kerancuan politik dan kekacauan agama yang sebenarnya.

Maka benar Rasulullah yang mengatakan: “Jangan sekali-sekali diantara kalian menghardikkan senjata (ancaman, tekanan, cacian dan provokasi) kepada saudara kalian, karena kamu tidak akan tahu bilakah setan akan datang untuk melepaskan (hardikan) tanganmu itu (untuk mengadu domba kamu) hingga akhirnya kamu masuk kubangan neraka” (HR. Abu Hurairah; Muttafaq Alaih)

Syair Gus Dur pun mengatakan: Akeh kang apal Qur’an Haditse/ Seneng ngafirke marang liyane/ Kafire dewe dak digatekke/ Yen isih kotor ati akale.

Benar pula ulama panutan saya itu mengatakan: “Orang yang menistakan al-Quranmu tidak akan pernah bisa mengurangi kemuliaan Al-Quranmu dan membuat nista agamamu. Tapi perilakumu yang anarkhis dan tidak bermoral itu justru akan membuat nista agamamu”.

Wa akhiron, Simbah saya pun mengatakan: “Ngunu yo ngunu mung ojo ngunu. Tinimbang dadi ngunu luwih becik ora ngunu. Sing ati ati wae Le, sebab setan saiki akeh sing endas ireng". Hidup NKRI yang damai. Wallahu a’lam bisshowab. [Habib Syech Bersholawat]

Ditulis oleh Gus Yazid, menantu KH. Idris Hamid, Pasuruan.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/kacau-jika-politisi-bicara-agama-agamawan-bicara-politik.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock