Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Thursday, February 23, 2017

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh

Setiap manusia normal tentu memiliki sisi baik dan sisi buruk. Terdengar klise memang, tetapi sering kali kita melupakan hal ini sehingga kita menjadi fanatik cinta dan fanatik benci. Tengoklah para pelaku sejarah, kehebatan ataupun kejelekannya tergantung siapa yang menuliskannya. Yang mengagumi tentu memujanya, dan yang membencinya tentu rajin mencari-cari kesalahannya.

Ambil contoh Amru bin Ash. Saya pernah datang ke Masjid Amru bin Ash di Mesir. Beliau seorang sahabat Nabi yang memeluk Islam pada tahun kedelapan Hijriah. Berkecamuk perasaan: saya membaca buku sejarah bagaimana siasat yang digunakan Amru bin Ash dalam peristiwa tahkim yang menyudahi perang siffin antara Khalifah Ali dan Gubernur Muawiyah. Singkat cerita, beliau seorang politisi yang menyalahi kesepakatan.

Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)


Sisi Baik dan Sisi Buruk Para Tokoh

Namun buku sejarah juga bercerita bagaimana sumbangsihnya yang luar biasa terhadap Islam. Rasulullah mengirimnya ke Oman dan berhasil mengislamkan pemimpin di sana. Khalifah Abu Bakar mengirimnya ke Palestina dan setelah merebut kota suci itu dari Byzantium lalu menjadi Emir di sana. Khalifah Umar mengirimnya membebaskan Mesir dan menjadikannya Gubernur. Masjid Amru bin Ash yang saya ziarahi tahun 2012 itu merupakan lokasi tempat beliau berkemah di kota Fustat, Mesir, dan itu adalah Masjid pertama yang berdiri di Afrika.

Bagaimana kemudian saya harus menilai Amru bin Ash: seorang politisi busuk atau seorang pahlawan Islam? Saya menyudahi kebimbangan saya dengan menunaikan shalat di Masjid Amru bin Ash yang sangat bersejarah itu seraya mendoakan kebaikannya.

Habib Syech Bersholawat

Bagaimana pula dengan al-Hajjaj bin Yusuf, Gubernur Iraq pada masa Dinasti Umayyah berkuasa? Inilah Panglima Perang yang memborbardir Mekkah dengan panah api ketika terjadi bentrokan dengan Abdullah bin Zubair. Tindakan al-Hajjaj bukan saja membunuh banyak penduduk Mekkah, namun juga turut membakar Kabah.

Habib Syech Bersholawat

Saat al-Hajjaj menjadi Gubernur diangkat oleh Khalifah Marwan, sejarah mencatat berbagai kekejian dan kekejaman yang dilakukannya. Selain membunuh sahabat Nabi Abdullah bin Zubair, al-Hajjaj juga membunuh 2 sahabat lainnya: Jabir bin Abdullah, Kumail bin Ziad dan satu ulama besar yaitu Said bin Jubair. Pada gilirannya, wafatnya al-Hajjaj disambut suka cita oleh para ulama dan rakyat. Mereka lega bisa terbebas dari kekejaman al-Hajjaj.

Namun demikian dikabarkan bahwa al-Hajjaj itu sangat bagus hafalannya terhadap al-Quran. Bukan cuma itu sejarah juga mencatat jasanya yang menambahkan baris tanda baca dalam mushaf al-Quran sehingga memudahkan kita semua sampai sekarang. Itu artinya, setiap Muslim yang membaca mushaf al-Quran pahalanya akan mengalir sampai ke al-Hajjaj. Subhanallah.

Al-Hajjaj juga berjasa mengirim jenderal dan pasukannya memperluas wilayah kerajaan Islam. Beliau juga memperhatikan soal ekonomi dengan mencetak mata uang sendiri, dan tidak lagi menggunakan mata uang peninggalan Byzantium dan Sasanid. Dia juga menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi di Iraq, menggantikan bahasa Parsi. Ekspedisi militer, konsolidasi ekonomi umat dan penguatan bahasa merupakan sumbangsih al-Hajjaj.

Sekali lagi, sejarah selalu menceritakan sisi baik dan sisi buruk. Pelajari hal-hal baik dari para tokoh besar di masa lampau, dan jangan ulangi kekeliruan yang telah mereka lakukan.

Dan bagaimana nasib para tokoh seperti Amru bin Ash dan al-Hajjaj kelak di akhirat? Tentu itu hak prerogatif Allah untuk menentukannya. Bukan wilayah kita untuk memberikan keputusan. Lebih baik kita fokus pada keburukan kita sendiri ketimbang sibuk membicarakan keburukan orang lain. Ngaca yuk...

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77317/sisi-baik-dan-sisi-buruk-para-tokoh

Habib Syech Bersholawat

Sunday, October 30, 2016

Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas

Jakarta, Habib Syech Bersholawat. Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengancam akan mengakhiri persatuan dengan Hamas jika gerakan Islam tersebut tidak memungkinkan pemerintah beroperasi dengan baik di Jalur Gaza.

Pernyataan itu disampaikan pada malam pembicaraan di Kairo dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi setelah hampir dua minggu gencatan senjata yang mengakhiri konfrontasi besar selama 50 hari dengan Israel di Gaza, seperti dilaporkan oleh Al Arabiya.

Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas (Sumber Gambar : Nu Online)


Presiden Palestina Ancam Akhiri Persatuan dengan Hamas

"Kami tidak akan menerima situasi dengan Hamas terus seperti itu saat ini," kata Abbas pada saat kedatangan di ibukota Mesir pada Sabtu malam, dalam sambutannya yang dipublikasikan oleh kantor berita resmi Palestina WAFA.

"Kami tidak akan menerima kemitraan dengan mereka jika situasi terus seperti ini di Gaza di mana ada pemerintah bayangan ... menjalankan wilayah," katanya.

Habib Syech Bersholawat

"Pemerintahan konsensus nasional tidak dapat berbuat apa-apa di lapangan," katanya.

Habib Syech Bersholawat

Menurut ketentuan kesepakatan rekonsiliasi yang ditandatangani pada bulan April, Palestina sepakat untuk membentuk pemerintah konsensus interim yang dijalankan oleh para teknokrat, yang mengakhiri tujuh tahun pemerintahan saingan di Tepi Barat dan Gaza.

Kesepakatan tersebut berusaha untuk mengakhiri tahun pahit dan kadang-kadang berdarah akibat persaingan antara gerakan Hamas dan Fatah, yang mendominasi Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat.

Kabinet baru, yang berbasis di Ramallah, mulai menjabat pada tanggal 2 Juni, pada saat yang sama pemerintah Hamas di Gaza secara resmi mengundurkan diri. Meskipun telah terjadi serah terima, Hamas tetap memiliki kekuatan secara de facto di Gaza. (mukafi niam) foto: reuters

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54315/presiden-palestina-ancam-akhiri-persatuan-dengan-hamas

Habib Syech Bersholawat

Saturday, January 9, 2016

STAI Al-Anwar Rembang Menuju Juara Umum Porseni Se-Jateng

Rembang, Habib Syech Bersholawat. Sebanyak 24 kontingen dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang mengikuti perhelatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat Perguruan Tinggi Keagamaan se-Jawa Tengah yang diselenggakan 26 hingga 28 Agustus 2016 di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

Muhammad Afif, bagian urusan teknis tim STAI Al-Anwar Sarang mengatakan, dari 24 kontingen yang diturunkan ada 7 cabang lomba yang diikuti, yaitu futsal, bulutangkis (tunggal dan ganda putra-putri), tenis meja (tunggal dan ganda putra-putri), catur (putra-putri), debat ilmiah, MTQ dan MQK (Musabaqah Qiraatil Kutub).

STAI Al-Anwar Rembang Menuju Juara Umum Porseni Se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
STAI Al-Anwar Rembang Menuju Juara Umum Porseni Se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)


STAI Al-Anwar Rembang Menuju Juara Umum Porseni Se-Jateng

Sementara ini kampus yang digawangi oleh Dr KH Abdul Ghofur Maimoen, putra dari KH Maimoen Zubair (Mustasyar PBNU) ini telah berhasil meraih 3 emas dan 1 perak. Jumlah ini imbang dengan capaian tuan rumah, Unwahas, yang mendapat 3 emas.

Habib Syech Bersholawat

Mendali tersebut diraih oleh tim STAI Al-Anwar, antara lain Amel Saadah (cabang catur putri), Wail Muklis (MQK putra), Umairul Habib (cabang bulu tangkis tunggal putra). Sedangkan 1 perak didapat oleh Anisatul Khoiriyah dari cabang MQK putri.

"Dari hasil ini, sangat memungkinkan kontingen STAI AL-Anwar merebut juara umum pada kejuaraan kali ini. Tiga emas dan satu perak ini imbang dengan tuan rumah Unwahas. Dan nanti malam (Sabtu malam) akan berlangsung lomba debat ilmiah yang dapat menentukan siapa yang mendapat juara umum," terangnya kepada Habib Syech Bersholawat saat dihubungi via telepon, Sabtu (27/8) malam.

Dalam Porseni Perguruan Tinggi Keagaaman kali ini diikuti sebanyak 39 Perguruan Tinggi yang ada di Jawa Tengah. Diantaranya dua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) yang berada di Kabupaten Rembang. Yakni STAI Al-Anwar dan STAI Al-Kamal Sarang Rembang.

Habib Syech Bersholawat

Pihaknya mengatakan, bahwa ini merupakan buah hasil dari semua elemen. Sehingga sampai saat ini STAI Al-Anwar berhasil memperoleh 3 emas dan 1 perak. Sehingga masih besar kemungkinan untuk mendapatkan juara umum pada kejuaaran ini.

"Di STAI Al-Anwar tidak hanya meningkatkan kualitas akademiknya saja, tetapi juga skill lain, baik olahraga maupun keahlian yang lainnya. Ini wujud dari semangat dan kerjasama semua elemen" ujar Pembantu Ketua 3 STAI Al-Anwar tersebut. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70780/stai-al-anwar-rembang-menuju-juara-umum-porseni-se-jateng

Habib Syech Bersholawat

Friday, June 12, 2015

Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran

Boyolali, Habib Syech Bersholawat. Usai dilepas secara simbolis oleh ketua tanfidziyah, rombongan takbir keliling MWCNU Sawit Boyolali Jawa Tengah, mulai berjalan dari lapangan Gombang menyusuri kampung-kampung, Sabtu (5/10) kemarin.

Pantauan Habib Syech Bersholawat, rombongan tersebut diikuti ratusan orang, dari anggota NU dan Banom. Rombongan berjalan beriringan pelan, dengan mengendarai mobil dan sepeda motor.

Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran (Sumber Gambar : Nu Online)
Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran (Sumber Gambar : Nu Online)


Keliling Kampung, NU Sawit Ajak Warga Takbiran

Menurut salah satu panitia, Munshorif, acara takbir keliling ini diselenggarakan untuk memeriahkan malam Idul Adha 1435 H. Ditambahkan olehnya, kegiatan takbir keliling ini diikuti oleh 11 ranting.

Alhamdulillah, pesertanya bertambah lebih banyak dibanding tahun lalu. Kali ini kita keliling ke sejumlah desa di kecamatan Sawit, terangnya.

Habib Syech Bersholawat

Ketua PAC Ansor Sawit tersebut menambahkan tujuan acara ini, yakni sebagai syiar Islam dan NU. Agar NU di Sawit juga semakin dikenal oleh masyarakat, ujarnya.

Habib Syech Bersholawat

Sebelum berangkat, tak lupa mereka berdoa terlebih dahulu, dipimpin oleh Rais Syuriyah MWCNU Sawit Kiai Joko Parwoto. Seakan tak mau kalah dengan yang lain, Kiai Joko pun ikut dalam rombongan pawai dengan memasang bendera merah putih dan NU di depan mobil. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54915/keliling-kampung-nu-sawit-ajak-warga-takbiran

Habib Syech Bersholawat

Tuesday, November 12, 2013

Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah)

Habib Syech Bersholawat - Rasulullah SAW adalah sosok pribadi yang tidak lepas dari cintanya kepada tanah air dan kampung halamannya. Hal ini terbukti dari ekspresinya ketika ia memasuki kota Madinah sepulang dari luar kota. Melihat perbukitan Madinah, beliau mempercepat ontanya.

Sementara, setiap kali melihat Kakbah, Rasulullah SAW mengangkat tangan dan mendoakannya. Ini menunjukkan cinta Rasulullah SAW pada tanah airnya. Berikut ini doanya.

Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah) - Habib Syech Bersholawat
Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah) - Habib Syech Bersholawat


Bukti Rasulullah Cinta Tanah Air (Makkah Mukarramah)

اَللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا، وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً

Habib Syech Bersholawat

Allâhumma, zid hâdzal baita tasyrifan, wa ta‘zhîman, wa takrîman, wa mahâbatan.

Artinya, “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kemegahan, dan kewibawaan untuk rumah (Kakbah) ini.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Imam As-Syafi’i dalam Musnad-nya. Doa ini dibaca Rasulullah SAW ketika memasuki kota Mekah dan melihat Kakbah. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/bukti-rasulullah-cinta-tanah-air.html

Habib Syech Bersholawat

Saturday, September 15, 2012

Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii

Buku Manhaj Salafi Imam Syafi’i (MSIS) ditulis oleh Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu, dengan kata pengantar Dr Arifin Baderi dan Dr Nur Ihsan dari Jember. Berikut tanggapan kami dengan narasi dialog agar mudah difahami.

WAHABI: Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga. (Buku MSIS hlm 60).

SUNNI: Jelas tidak benar. Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga. Demikian pula ulama-ulama salaf yang lain, tidak pernah menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga.

Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii - Habib Syech Bersholawat
Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii - Habib Syech Bersholawat


Membongkar Dusta Buku Manhaj Salafi Imam Syafii

Karena yang pertama kali melakukan pembagian tauhid menjadi tiga, justru Ibnu Taimiyah, ulama yang hidup pada abad kedelapan Hijriah. Lalu pembagian tauhid tiga ini disebarluaskan oleh kaum Wahabi sejak abad kedua belas Hijriah.

WAHABI: Yang menunjukkan pembagian tersebut, cukuplah di antaranya ucapan Imam al-Syafi’i tatkala berkata:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ … وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

Habib Syech Bersholawat

“Segala puji hanya bagi Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya kemudian orang-orang kafir menyimpang … Dan orang-orang yang menyifatkan hakikat keagungan-Nya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.” (Al-Imam al-Syafi’i, al-Risalah, hlm 101).

Ucapan beliau “yang menciptakan langit dan bumi” adalah tauhid rububiyyah.

Ucapan beliau “kemudian orang-orang kafir menyimpang” adalah tauhid uluhiyyah, karena penyimpangan mereka bukan pada tauhid rububiyyah, melainkan dalam uluhiyyah..

Habib Syech Bersholawat

Ucapan beliau “orang-orang yang menyifatkan tentang keagungan-Nya” adalah tauhid asma’ wa shifat. (MSIS hlm 62).

SUNNI: Kutipan dari Imam al-Syafi’i di atas justru bertentangan dengan tauhid tiga wahabi yang Anda bawakan. Anda juga telah mentahrif (melakukan distorsi) terhadap pernyataan Imam al-Syafi’i di atas. Berikut kami jelaskan bukti-bukti kesalahan Anda yang fatal dalam mengartikan perkataan Imam al-Syafi’i di atas.

Pertama, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ

“Segala puji hanya bagi Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya”

Sebagaimana dimaklumi, perkataan al-Imam al-Syafi’i di atas adalah iqtibas (petikan) dari ayat al-Qur’an Surah al-An’am. Dalam ayat di atas, lafal Allah, yang berarti Uluhiyyah, dikaitkan dengan penciptaan langit-langit, bumi, kegelapan dan cahaya. Dengan demikian, seharusnya ayat tersebut dikaitkan dengan tauhid uluhiyyah, agar selaras dengan lafal Allah. Tetapi Anda dengan semborononya mengaitkannya dengan tauhid rububiyyah. Ini jelas kesalahan fatal.

Kedua, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

“kemudian orang-orang kafir menyimpang”

Terjemahan Anda terhadap ayat tersebut adalah tidak benar. Para ulama menerjemahkan ayat tersebut dengan:

“namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”

Jadi lafal ya’diluun, oleh para ulama diartikan mempersekutukan dan menyamakan Tuhan dengan selain Tuhan, bukan diartikan menyimpang.

Dalam ayat tersebut, lafal rabbihim, yang berarti rububiyyah, dikaitkan dengan kemusyrikan orang-orang kafir. Dengan demikian, seharusnya, kalau Anda sebagai Wahabi konsisten dengan kalimat di atas, ayat tersebut berkaitan dengan tauhid rububiyyah, bukan uluhiyyah, agar selaras dengan lafal rabbihim dalam ayat tersebut. Tetapi Anda, justru memahaminya sebagai tauhid uluhiyyah. Jadi Anda membolak-balik pernyataan ulama selevel Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, agar sesuai dengan pembagian tauhid Wahabi.

Dan apabila Anda konsisten mengikuti pernyataan Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu secara benar, maka batallah pembagian tauhid menjadi tiga ala wahabi yang Anda sebarkan. Dan nyatalah kebohongan Anda kepada umat Islam.

Ketiga, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

“Dan orang-orang yang menyifatkan hakikat keagungan-Nya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.”

Fragmen tersebut sebenarnya memberikan pengertian bahwa al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu beri’tiqad bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bukan benda yang tersusun (jisim) dan bukan pula menetap pada suatu arah. Karena seandainya Allah itu berupa benda atau menetap pada suatu arah, tentu orang-orang yang menyifati-Nya akan bisa sampai pada hakikat keagungan-Nya. Ternyata di sini Imam al-Syafi’i, menegaskan bahwa orang-orang yang menyifati-Nya tidak akan sampai pada hakikat keagungan-Nya, sebagaimana Dia menyifati diri-Nya, dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya. Pernyataan tersebut sekaligus membatalkan terhadap konsep akidah Wahabi yang meyakini bahwa Tuhan bertempat di Arasy, dan bentuknya seperti seorang laki-laki yang masih muda dan tanpa jenggot. Allah Maha Suci dari menyerupai apapun. Para ulama salaf berkata:

كُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ لَيْسَ كَذَلِكَ

Setiap apa yang terlintas dalam pikiranmu, maka Allah tidak seperti itu.

Keyakinan bahwa wujudnya Allah tanpa tempat dan arah, adalah kesepakatan Ahlussunnah Wal-Jama’ah sejak generasi salaf yang saleh. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh seorang ulama salaf, yaitu al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi dalam al-‘Aqidah al-Thahawiyyah:

تَعَالَى (يَعْنِىْ اللهُ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالْغَايَاتِ وَاْلأَرْكَانِ وَاْلأَدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.

Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, sehingga Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti tangan, wajah dan anggota badan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang), tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut. (Al-‘Aqidah al-Thahawiyyah).

Pernyataan al-Imam al-Thahawi tersebut merupakan ijma’ (konsensus) para sahabat dan ulama salaf yang saleh, karena al-Imam al-Thahawi menulis kitabnya, al-‘Aqidah al-Thahawiyyah sebagai rangkuman dari akidah-akidah yang menjadi keyakinan seluruh sahabat dan ulama salaf yang saleh. Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi juga mengatakan:

وَأَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَانٌ.

Ahlussunnah Wal-Jama’ah juga bersepakat, bahwa Allah itu tidak diliputi oleh tempat dan tidak dilalui oleh zaman. (Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tanpa tahun, hlm. 256).

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak berakidah seperti Wahabi, yang membagi tauhid menjadi tiga, rububiyyah, uhuliyyah dan asma’ wa shifat.

WAHABI: Sebagai bukti bahwa Imam al-Syafi’i meyakini tauhid uluhiyyah ala Wahabi, adalah larangan beliau membuat bangunan di atas kuburan.

SUNNI: Anda pasti salah fatal lagi.

WAHABI: Kok salah fatal sih. Coba lihat dalam kitab al-Umm, al-Imam al-Syafi’i berkata:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً … وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك فَإِنْ كانت الْقُبُورُ في اْلأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى في حَيَاتِهِمْ أو وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لم يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى منها وَإِنَّمَا يُهْدَمُ أن هُدِمَ ما لَا يَمْلِكُهُ أَحَدٌ فَهَدْمُهُ لِئَلاَّ يُحْجَرَ على الناس مَوْضِعُ الْقَبْرِ فَلاَ يُدْفَنُ فيه أَحَدٌ فَيَضِيقُ ذلك بِالنَّاسِ

Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dibangun… Aku mendapati para imam di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan aku tidak mendapati para ulama mencela hal itu. (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm juz 1 hlm 277). (DIKUTIP DARI MSIS hlm 68).

SUNNI: Itu bukti ketidakjujuran Anda. Mengapa demikian?

Pertama, al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak suka membangun kuburan, bukan karena berkaitan dengan kesyirikan dan pelanggaran tauhid uluhiyyah seperti yang digembar-gemborkan Wahabi Anda. Tetapi karena faktor, kuburan itu bukan tempat perhiasan dan kesombongan, sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam al-Syafi’i sendiri dalam pernyataan di atas.

Kedua, Anda melakukan kesalahan dalam menerjemahkan perkataan al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu di atas. Harusnya Anda terjemahkan, aku mendapati sebagian wali (penguasa) di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan di atas kuburan tersebut.

Ketiga, Anda telah membuang perkataan Imam al-Syafi’i yang tidak sesuai dengan selera hawa nafsu Anda. Perkataan al-Imam al-Syafi’i yang Anda buang menjadi bukti bahwa perobohan bangunan di atas kuburan tersebut, ketika kuburan itu milik umum, bukan milik pribadi. Jadi masalah pembongkaran kuburan tersebut tidak ada kaitannya dengan syirik dan tauhid uluhiyyah ala Wahabi. Perkataan tersebut selengkapnya begini:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً … وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك فَإِنْ كانت الْقُبُورُ في اْلأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى في حَيَاتِهِمْ أو وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لم يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى منها وَإِنَّمَا يُهْدَمُ أن هُدِمَ ما لَا يَمْلِكُهُ أَحَدٌ فَهَدْمُهُ لِئَلاَّ يُحْجَرَ على الناس مَوْضِعُ الْقَبْرِ فَلاَ يُدْفَنُ فيه أَحَدٌ فَيَضِيقُ ذلك بِالنَّاسِ

Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dibangun… Aku mendapati para imam di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan aku tidak mendapati para ulama mencela hal itu. APABILA KUBURAN YANG DIBANGUN ITU HAK MILIK SI MATI KETIKA MASIH HIDUPNYA ATAU AHLI WARIS MEREKA SETELAH KEMATIANNYA, MAKA BANGUNAN ITU TIDAK BOLEH DIROBOHKAN. BANGUNAN KUBURAN YANG DIROBOHKAN HANYALAH YANG BUKAN HAK MILIK SESEORANG. MEROBOHKANNYA AGAR TIDAK MENGHALANGI ORANG LAIN UNTUK DIMAKAMKAN DI KUBURAN TERSEBUT, SEHINGGA MEMBUAT SEMPIT BAGI BANYAK ORANG. (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm juz 1 hlm 277)

HATI-HATI baca buku terjemahan, banyak yang disunat demi sesuatu.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/01/membongkar-dusta-buku-manhaj-salafi.html

Tuesday, August 7, 2012

Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai

Habib Syech Bersholawat - Seorang Gus dari desa memiliki kesempatan untuk belajar di Arab, di sebuah kota yang cukup sekuler. Selama ini dia hidup di tengah-tengah relijiusitas yang kuat. Dia menjadi muslim yang taat, dan itu dia jalani sebagai sesuatu yang sangat wajar. Ketaatan berlangsung begitu saja, tanpa perjuangan yang pantas untuk diceritakan. Semua yang dia kenal juga kira-kira seperti itu adanya. Memang tidak maha taat, tapi cukup lah untuk disebut ‘alim’.

Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai
Putra Kiai Bergitar yang Dijaga Santrinya Hingga Jadi Kiai


Tapi kini dia hidup di lingkungan yang berbeda. Negara yang dia diami memang kategori negara Islam, bahkan salah satu kiblat negara Islam. Tapi lingkungan yang menaunginya sekarang berbeda sekali. Dahulu dia sangat jarang—tepatnya sulit untuk—salat subuh telat. Orang-orang dan suasana di sekelilingnya tak banyak memberi kesempatan kepada dia untuk telat subuh.

Tapi kini, dia melihat orang-orang sedang lelap-lelapnya ketika azan Subuh dikumandangkan. Mula-mula dia merasakan kejanggalan. Minggu-minggu berikutnya dia terbiasa. Dan bulan-bulan selanjutnya bahkan mulai mengikutinya, sebelum kemudian ikut “menikmatinya”.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari ABG telat. Dandannya, gaya hidupnya, dan model pakaiannya adalah style ABG kesiangan. Yang lebih nggirisi, perubahan itu tidak hanya pada luarnya saja, tapi juga pada batinnya: jiwanya benar-benar menikmati itu. Gaya dan jiwa seorang Gus pesantren banyak tereduksi.

Beruntung sekali, meski terseok-seok, studinya akhirnya rampung juga. Saatnya dia harus pulang kampung, kembali ke pesantren. Sungguh di luar dugaan, dia disambut oleh “umatnya” bak seorang pangeran yang berhasil merampungkan uji kamukten. Dia tidak saja dianggap telah menguasai “ilmu kulit”, tapi juga mampu meresapi “ilmu biji”. Tangan yang acap dia gunakan untuk memetik senar gitar tiba-tiba saja berubah menjadi seperti tangan suci kekasih Allah yang dibuat rebutan untuk diciumi.

Gus sudah kembali seperti semula. Tak lagi dia menjemur Subuh di bawah terik matahari, dan juga tak lagi ber-ABG yang tidak pantas. Bahkan sekarang dia punya tugas baru, yaitu menjadi imam salat rawatib dan mengajar kitab-kitab kuning, sehingga beberapa kalangan sudah menyebutnya dengan kyai. Salah satu kitab favoritnya adalah “Hikam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari”, karena sebenarnya lebih merupakan petuah-petuah untuk dirinya ketimbang untuk santri-santrinya.

Suatu pagi dia meneruskan pengajian Hikamnya:

“laa tashhab man laa yunhidhuka haaluh-u wa laa yadulluka ala Allaah-i maqaaluh-u”

“Jangan jadikan sebagai sahibmu seseorang yang tindak-tanduknya tidak membangkitkan dirimu dan tutur-katanya tidak mengantarkan dirimu kepada Allah.”

“Banyak yang mengira, kyai adalah yang menjaga santri-santrinya. Demikian ini tidak sepenuhnya benar. Banyak kyai yang justru dijaga oleh santri-santrinya. Kalau dia hidup terpisah dari santri-satrinya boleh jadi dia tidak akan khusyuk dan alim seperti biasanya. Saya termasuk kyai kategori ini. Oleh karena itu saya sangat suka dengan santri-santri dan akan selalu menjadikan mereka sebagai sahib-sahib yang mengingatkan diriku kepada Allah.

Seorang mursyid waskita suatu ketika ditanya oleh seorang muridnya:

“Apa rahasianya Tuan Guru begitu dekan dengan Allah SWT ..?”

Beliau menjawab:

“Itu hanya perasaanmu saja .. yang hebat adalah mereka-mereka itu. Aku hanya ditunjuk saja untuk memimpin ..”

Mungkin Guru Waskita itu merasa, bahwa andai benar dia dekat dengan Allah maka itu tak lain adalah karena murid-murid itu yang menjaganya.” [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/putra-kiai-bergitar-yang-dijaga-santrinya-hingga-jadi-kiai.html

Friday, June 29, 2012

Saran Ketua PBNU: Struktural NU yang Terlibat Pilkada Mengundurkan Diri

Habib Syech Bersholawat - Prihatin atas kisruh Pilkada DKI Jakarta yang menyeret nama besar Nahdlatul Ulama (NU) hingga dijadikan bancaan politik oleh masing-masing kubu, usul untuk melarang rangkap jabatan tiap tokoh NU yang duduk di struktural, muncul dari pelbagai aktivis aswaja.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Ketuanya, M. Sulton Fatoni, MSi, dan Wakil Sekjen PBNU, M. Andi Najmi, SH meminta agar semua pengurus di jajaran PWNU, PCNU maupun MWCNU tidak terlibat dalam politik praktis sebagaimana AD/ART Nahdlatul Ulama.

"Kepada pengurus NU di semua tingkatan agar menjaga muru'ah Nahdlatul Ulama dengan tidak menggunakan atribut NU untuk tujuan politik praktis," kata Sulton, sebagaimana keterangan rilis yang dikirimkan kepada Habib Syech Bersholawat, Kamis (09/02/2017) siang.

Saran Ketua PBNU: Struktural NU yang Terlibat Pilkada Mengundurkan Diri - Habib Syech Bersholawat
Saran Ketua PBNU: Struktural NU yang Terlibat Pilkada Mengundurkan Diri - Habib Syech Bersholawat


Saran Ketua PBNU: Struktural NU yang Terlibat Pilkada Mengundurkan Diri

Ia juga mengingatkan agar semua pengurus NU memegang teguh Khittah NU agar dalam Pilkada tidak ikut dukung-mendukung salah satu pasangan calon yang ada, "struktural NU yang karena situasinya dia harus terlibat pilkada, disarankan untuk mengundurkan diri dari kepengurusan NU." imbuhnya. [Habib Syech Bersholawat]

Habib Syech Bersholawat

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/saran-ketua-pbnu-struktural-nu-yang-terlibat-pilkada-agar-mengundurkan-diri.html

Monday, October 18, 2010

Pesantren Ciwaringin Perkenalkan Mahad Aly sebagai Perguruan Tinggi Islam

Cirebon, Habib Syech Bersholawat. Dalam rangkaian kegiatan haflah akhirussanah 1438 H/2017 M, Mahad Aly Al-Hikamus Salafiyah Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon menggelar seminar nasional bertema Mahad Aly: Perguruan Tinggi Islam berbasis Pesantren, di halaman gedung Mahad Aly, Selasa (9/5).

Hadir sebagai narasumber staf khusus Menteri Agama RI bidang komunikasi H Hadi Rahman dan Kasubdit Pendidikan Diniyah dan Mahad Aly di Kementerian Agama RI H Ahmad Zayadi. Tampak hadir juga pimpinan Mahad Aly Al-Hikamus Salafiyah KH Arwani Syaerozi, Wakil Katib Syuriyah PBNU KH Zamzami Amin, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Azka Hamam Syaeozi, Ketua PCNU Kabupaten Cirebon H Aziz Hakim, dewan masyayikh dan dewan asatidz Pesantren Babakan Ciwaringin dan para mahasantri Mahad Aly.

Pesantren Ciwaringin Perkenalkan Mahad Aly sebagai Perguruan Tinggi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Ciwaringin Perkenalkan Mahad Aly sebagai Perguruan Tinggi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Ciwaringin Perkenalkan Mahad Aly sebagai Perguruan Tinggi Islam

Ahmad Zayadi menyampaikan, pembentukan Mahad Aly sebagai bagian dari lembaga perguruan tinggi di tanah air merupakan bentuk apresiasi pemerintah terhadap dunia pesantren. "Output Mahad Aly adalah mencetak generasi sarjana Muslim yang ahli di bidang agama dengan basis kajian kitab kuning.

Lebih lanjut, Zayadi mengatakan, lahirnya Mahad Aly merupakan daya kejut bagi perguruan tinggi agama Islam negeri dan swasta yang selama ini sudah eksis, agar tergugah dengan adanya kompetitor baru yaitu Mahad Aly yang memiliki beberapa distingsi (perbedaan), di antaranya konsisten dalam tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama) melalui kitab kuning dengan sanad keilmuan yang menyambung hingga muallif (penyusun) kitab kuning dan hingga Rasulullah SAW.

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Hadi Rahman menyampaikan bahwa Mahad Aly merupakan salah satu program unggulan Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin dan institusi Kementerian Agama RI saat ini.

"Pengakuan ini bermula dari ditandatanganinya Peraturan Menteri Agama Nomor 71 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan Mahad Aly, lanjut Hadi Rahman.

Menurutnya, Mahad Aly juga harus bisa beradaptasi dengan kemajuan zaman, dulu para santri selalu membawa mushaf Al-Quran atau korasan kitab kuning ke mana-mana. Sekarang para mahasantri (sebutan bagi santri yang mengenyam pendidikan di Mahad Aly) harus melek IT, di mana kitab-kitab sekarang bisa dibaca dalam format digital.

Dalam hal ini Kementerian Agama RI sedang membuat aplikasi E-Santri versi Android yang memuat pelbagai kitab kuning sebagai rujukan pesantren," jelas Hadi Rahman.

Mahad Aly Al Hikamus Salafiyah Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin berdiri sejak tahun 1996, saat itu masih berupa kegiatan bernama Takhassus santri tamatan tingkat Aliyah Al-Hikamus Salafiyah. Pada tahun 2000 kegiatan ini berubah nama menjadi Mahad Aly yang pada tahun 2012 dipercaya oleh Kementerian Agama RI untuk mengelola program Pendidikan Kader Ulama (PKU) dengan jumlah mahasantri sebanyak 25 orang dari 13 provinsi di Indonesia.

Mahad Aly Al-Hikamus Salafiyah mendapatkan SK Izin Operasional dari Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI pada tahun 2015 pada acara peluncuran 13 Mahad Aly se-Indonesia oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin di Tebuireng Jombang," tutur KH Arwani Syaerozi. (Nufus/Alhafiz K)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77809/pesantren-ciwaringin-perkenalkan-mahad-aly-sebagai-perguruan-tinggi-islam

Habib Syech Bersholawat

Sunday, April 4, 2010

Dua Kiai Sang Penjaga Aswaja

Habib Syech Bersholawat - Menjelang pembukaan Muktamar NU, KH Hasyim Muzadi mendengar laporan dari berbagai cabang akan kesulitan mereka melakukan proses registrasi. Bahkan sore harinya peserta dari NTT ribut dengan Banser. Bayang-bayang kericuhan Muktamar terbentang jelas. Kiai Hasyim gelisah tidak bisa tidur memikirkan pilihan apa yang harus diambil menghadapi praktek kecurangan Muktamar. Beliau sangat menyintai NU.

Pagi harinya tanggal 1 Agustus saat bersiap menuju tempat diskusi dan bedah buku saya, saya mendapat kabar diminta merapat ke Tebuireng di kediaman Gus Solah --yang dulunya juga rumah Hadratus Syekh. Saya diberitahu bahwa Kiai Hasyim meminta saya terlibat untuk menenangkan muktamirin dan mengimbau semua pihak agar kembali ke aturan main.

Dua Kiai Sang Penjaga Aswaja - Habib Syech Bersholawat
Dua Kiai Sang Penjaga Aswaja - Habib Syech Bersholawat


Dua Kiai Sang Penjaga Aswaja

Saya terpaksa membatalkan bedah buku saya yang kemudian berujung dengan kekecewaan para peserta diskusi yang sdh berdatangan dan menunggu sampai siang, para pembahas dan juga penerbit Mizan. Sebuah pil pahit harus saya telan demi memenuhi permintaan Kiai Hasyim Muzadi.

Saya berunding dengan sejumlah pihak untuk mengatasi bayang-bayang kericuhan muktamar. Saya berupaya menghubungi para kiai sepuh untuk mempertemukan mereka. Diawali pertemuan dengan Gus Mus yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Pada pertemuan itu saya meminta ijin kepada sang Rais Am, dengan segala keluguan saya, untuk menjalankan misi tersebut.

Gus Mus merestui misi tersebut. Bahkan beliau bersedia bertemu dengan para kiai sepuh lainnya. Gus Mus juga mengatakan bahwa hubungan beliau dengan Kiai Hasyim sangat baik. Orang lain saja yang ingin membenturkan mereka berdua.

Selepas pertemuan dengan Gus Mus, malam itu juga. atas bantuan sahabat saya Kiai Cholil Nafis, saya diterima oleh Kiai Hasyim di rumahnya. Tidak saya ambil foto pertemuan itu karena Kiai Hasyim hanya memakai sarung dan kaos dalam tanpa kopiah. Tidak etis kalau saya berpose dengan beliau saat itu.

Singkat cerita, Kiai Hasyim mengatakan bahwa Gus Mus tidak pernah beliau anggap sebagai lawan. Kiai Hasyim juga membantah bahwa ia berambisi menduduki posisi Rais Am. Bahkan berulang kali ia menegaskan bahwa ia siap tidak menjadi apa-apa dan mempersilakan para kiai lain menjadi Rais Am. Beliau hanya minta satu hal: siapapun yang jadi Rais Am akan menjaga NU tidak ditunggangi berbagai ideologi yang bertentangan dengan aswaja.

Beliau juga meminta saya berkeliling menemui para kiai sepuh menjelaskan bahwa isu sebenarnya itu bukan pertarungan antara kubu pendukung sistem pemilihan ahwa (ahlul halli wal aqdi) dan penolaknya. Isu sebenarnya adalah pertarungan ideologi dimana aswaja NU mulai digerogoti berbagai paham. Kiai Hasyim menggunakan helicopter view --melihat dari atas berbagai persoalan yang tidak disadari orang lain. Beliau punya mata setajam elang.

Beliau terlihat lelah malam itu tapi sorot matanya mendadak tajam saat mengurai tantangan yang dihadapi NU ke depan dan beliau siap pasang badan untuk menjaga aswaja NU. Sikap yang sayangnya dianggap pihak lain sebagai bukti beliau seorang yang ambisius. Setelah mendengar langsung penjelasan beliau saya tidak percaya beliau seorang yang kepengen banget jadi Rais Am. Beliau bersedia bertemu para kiai sepuh untuk membahas lebih lanjut isu krusial ini.

Saya sampaikan kepada Kiai Hasyim bahwa sebelum bertemu beliau saya telah bertemu dengan Gus Mus. Beliau menyambut gembira. Kiai Hasyim kemudian meminta saya untuk keesokan paginya memulai bertemu dengan para kiai sepuh.

Keesokan paginya tanggal 2 Agustus perkembangan terjadi begitu cepat. Saya mendengar para kiai Jawa Timur dan Jawa Tengah bertemu. Saya juga diminta Gus Mus hadir dalam pertemuan para kiai sepuh dan Rais Syuriah. Melihat inisiatif pertemuan telah diambil alih oleh Rais Am, saya tahu diri dan kemudian memutuskan mengerem langkah saya sebagai penghubung para kiai.

Bertemu para kiai tersebut saya mendapat satu kesan kuat bahwa persamaan diantara mereka lebih besar dibanding perbedaannya. Hanya saja lapis kedua dan ketiga, yang melingkari para kiai lengkap dengan segala kepentingan mereka, yang sebenarnya telah membuat para kiai seolah tidak bisa dipertemukan lagi.

Kiai Hasyim Muzadi berbeda pandangan dengan panitia dan tidak mengakui hasil muktamar. Terlalu jelas kecurangan dan pemaksaan yang terjadi. Siapapun yang jernih pikirannya, bening hatinya dan tidak berada dalam salah satu kubu akan objektif menilai bahwa muktamar kali ini penuh rekayasa. Tapi apakah itu cukup alasan untuk membuat NU tandingan?

Meski didorong-dorong oleh pengikutnya, KH Hasyim Muzadi menolak menjadi Rais Am tandingan. Bagaimana mungkin beliau tega membuat NU terpecah belah justru di Tebuireng di tempat NU didirikan. Tidak mungkin itu beliau lakukan.

Ketika islah sudah gagal, beliau menolak tindakan kekerasan dan menolak membuat muktamar tandingan, beliau memilih jalur hukum dan akan menggugat keputusan muktamar di Pengadilan. Sebuah pilihan sulit namun harus kita hormati. KH Hasyim Muzadi bersedia menjaga ideologi Aswaja NU sampai ke meja pengadilan. Subhanallah!

NU adalah organisasi warisan para wali, siapa yang memanfaatkan NU semata-mata demi ambisi dan kepentingannya sendiri tidak lagi menjadi bagian dari keberkahan doa-doa para wali. Siapa yang bermain tipu muslihat, hidupnya tidak akan maslahat. Siapa yang khianat, akan mendapat laknat, dan kuwalat dunia-akhirat. Mereka yang terlibat akan menghadapi pengadilan dunia dan pengadilan akhirat sekaligus.

KH A Mustofa Bisri menolak jadi Rais Am di alun-alun Jombang dan memilih merawat anak muda NU di luar sistem. Beliau Sang Panutan. KH Hasyim Muzadi menolak jadi Rais Am di Tebuireng dan memilih menjaga Aswaja NU sampai ke meja pengadilan. Beliau Sang Penjaga Aswaja. Keduanya menorehkan jejak masing-masing yang perlu kita teladani.

Ya allah kami berlindung dengan keridhaanMu daripada kemurkaanMu. Dan kami berlindung dengan pemaafanMu daripada hukumanMu. Amin Ya Rabbal 'Alamin [Habib Syech Bersholawat]

Ditulis oleh Nadirsyah Hosen, utusan PCI NU Australia-New Zealand di Muktamar ke 33 Jombang

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/dua-kiai-sang-penjaga-aswaja.html

Tuesday, February 24, 2009

Islam Tak Kenal Bulan Sial

Tegal, Habib Syech Bersholawat. Menjelang pergantian Tahun Baru 2014 di jejaring sosial seperti Facebook, Black Berry Messenger ataupun Twitter muncul imbauan untuk tidak merayakan tahun baru.

Pasalanya tahun baru kali ini tepat pada bulan Safar pada rabu terakhir atau wekasan. Dalih yang muncul bahwa bulan tersebut bulan yang penuh musibah.

Islam Tak Kenal Bulan Sial (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Tak Kenal Bulan Sial (Sumber Gambar : Nu Online)


Islam Tak Kenal Bulan Sial

Wakil Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, KH. Mahfudz Basori, mengakui masyarakat Nahdliyin memang mengenal Rabu Wekasan.

Ada tradisi yang dilakukan sebagian orang, khususnya warga Nahdliyin, di hari Rabu Wekasan membacakan shalawat Nabi, tuturnya di kediamannya Selasa (31/13) malam.

Habib Syech Bersholawat

Selain itu, kata dia, di hari Rabu terakhir bulan Safar, warga Nahdliyin akan mengisinya dengan doa-doa tolak bala.

Habib Syech Bersholawat

Tetapi kalau hari tersebut diturunkanya bala, Kiai Mahfud menepis anggapan tersebut. Alumni Pondok Pesantren Al Falah Ploso menjelaskan, manusia ditimpa musibah itu bukan persoalan hari atau bulan.

Takdir Allah tentang musibah bulan Safar, tidak peduli Rabu Wekasan, atau Kamis Wekasan. Jika sudah waktunya kena musibah ya kena musibah. Di Islam sendiri itu kan tidak ada hari atau bulan sial, ingatnya.

Yang membuat malapetaka itu, masih menurut Kiai Mahfudz, karena perayaan malam pergantian tahun baisanya diisi dengan kegaitan-kegiatan maksiat, pesta pora, hura-hura dan dalam hiruk pikuk keramaian tak beraturan.

Inilah petakannya, moral dan akhlak manusia menjadi tak terarah, tegasnya. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49158/islam-tak-kenal-bulan-sial

Habib Syech Bersholawat

Wednesday, December 13, 2006

Sarbumusi NU Sikapi PHK 750 Pegawai Chevron

Jakarta, Habib Syech Bersholawat. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia NU (DPP K-Sarbumusi NU) mengajukan permintaan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Tenaga Kerja, Komisi Ombudsman Indonesia terkait Pemutusan Hubungan kerja (PHK) PT Chevron Pasific Indonesia terhadap 750 pegawainya atau setengah dari rencana yaitu sekitar 1.500 pegawai.

Presiden Syaiful Bahri Anshori, di Jakarta, Rabu (20/4) menyatakan, pernyataan-pernyataan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas)SKK Migas yang disuarakan oleh Kepala Humas SKK Migas Elan Biantoro bukan memerankan sebagai pembuat kebijakan dan melaksanakan fungsi pengawasan dan penindakan sebagai bagian dari Pemerintah Indonesia yang merdeka dan berdaulat terhadap pelanggaran undang-undang yang dilakukan oleh PT. Chevron.

Sarbumusi NU Sikapi PHK 750 Pegawai Chevron (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi NU Sikapi PHK 750 Pegawai Chevron (Sumber Gambar : Nu Online)


Sarbumusi NU Sikapi PHK 750 Pegawai Chevron

"Malah sebaliknya, memerankan dan memainkan fungsi sebagai corong dari perusahaan. Pernyataan saudara Elan Biantoro sebagai kepala humas SKK Migas di media sungguh sangat memalukan bangsa dan negara Indonesia yang berdaulat dan mempunyai peraturan perundang-undangan terkait hubungan industrial," ujar Syaiful.

Berkaitan dengan itu, kata mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu menambahkan, DPP K-Sarbumusi NU menyatakan lima sikap.

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Pertama, menuntut kepada Menteri ESDM mengevaluasi kelembagaan SKK Migas terhadap peran dan fungsinya.

Kedua, menuntut kepada Menteri ESDM untuk mengevaluasi Kepala Humas SKK Migas yang mengeluarkan pernyataan kontra produktif terhadap situasi hubungan industrial.

Ketiga, meminta kepada Ketua Komisi Ombudsman Indonesia untuk melakukan investigasi atas pelanggaran kebijakan yang dilakukan oleh SKK Migas.

Keempat, menuntut kepada PT Chevron Pasific Indonesia untuk mematuhi dan tunduk terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara berdaulat Indonesia.

Kelima, menuntut kepada Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk segera menurunkan pengawas dan menindak dengan tegas atas pelanggaran yang dilakukan oleh PT Chevron Pasific Indonesia.

Syaiful melanjutkan, Sarbumusi NU mengacu pada peraturan perundang-undangan sesuai dengan undang-undang no 13 tahun 2003 pasal 151 ayat 1. "Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah, dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja".

Ketentuan tersebut, imbuh Syaiful, dilanjutkan dalam ayat 2, yakni, "Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh".

Dalam hal perundingan dengan serikat pekerja/serikat buruh tidak mencapai kata sepakat maka ketentuan ayat 3 sebagai berikut "Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) benar-benar tidak menghasilkan persetujuan, pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial".

"Namun demikian, peraturan perundang undangan yang ada di Indonesia yang mengamanatkan agar dibentuk forum LKS Bipartit sebagai komunikasi dan konsulatasi terkait hubungan industrial tidak pernah diindahkan sama sekali oleh perusahaan atau pihak manajemen," paparnya.

Senin (18/4), Kepala Humas SKK Migas Elan Biantoro di Kantor SKK Migas, Jakarta, Chevron Indonesia telah memutus hubungan kerja (PHK) terhadap 750 pegawainya. Jumlah itu setengah dari rencana yaitu sekitar 1.500 pegawai.

Elan menyebutkan, proses PHK sudah dilakukan secara dua tahap dan sejauh ini berjalan dengan baik. Pasalnya, anjloknya harga minyak dunia menjadi salah satu alasan Chevron Indonesia merampingkan organisasinya.

"Kan sudah tahap I early retirement. Tahap II seleksi. Organisasinya dia kecilin, ada sebagian enggak lulus tes. Sebagian dia tawarkan, tetap harus mutual juga. Masing-masing harus setuju. Dari tahap I dan tahap II itu sudah lumayan. Lebih dari setengah yang ditargetkan mereka," jelasnya.

Elan menuturkan, para pegawai Chevron Indonesia yang belum mendapat giliran PHK bagi para pegawai yang memiliki posisi penting di organisasi kepegawaian perusahaan minyak tersebut. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67472/sarbumusi-nu-sikapi-phk-750-pegawai-chevron

Habib Syech Bersholawat

Sunday, May 27, 1973

Heboh Santri NU Mengobati Anjing Malang Karena Sayang

Habib Syech Bersholawat – Santri yang berdakwah di Papua ini membuat netizen tersentuh. Di tengah budaya kebencian yang ditebar di situs-situs ektrim wahabi, Kang Wahab, nama santri itu, menebar pesan kasih sayang.

Heboh Santri NU Mengobati Anjing Malang Karena Sayang - Habib Syech Bersholawat
Heboh Santri NU Mengobati Anjing Malang Karena Sayang - Habib Syech Bersholawat


Heboh Santri NU Mengobati Anjing Malang Karena Sayang

Postingan di wall Facebooknya Abdu L Wahab, yang memberi makan anjing luka dan kelaparan pada Sabtu (9/04/2016) mendapatkan 14 ribu likes dan 3.732 share dari facebookers. Ada 1.300 lebih komentar dalam foto yang ia beri catatan “Kasihan sekali anjing ini.. / Tubuhnya banyak sekali luka dan sprti sangat kelaparan . Tadi aku ajak ke Pondok dan sdikit aku obati dan kasih makan./ Walaupun najis tapi kata guruku ‘Puncak dari agama adalah cinta’.”

Ya, Abdul Wahab, santri utusan PPM Aswaja, PP LDNU dan Sarkub untuk berdakwah di Papua ini menampar laku latah umat Islam yang terlalu ektrem memaknai agama, yang, sedikit-sedikit harus merujuk langsung Al-Qur’an dan Hadits sesuai pilihan hawa nafsu. Padahal, semua ada solusinya. (Ini link foto itu: http://bit.ly/1XnNiHp)

Kepada Habib Syech Bersholawat, Kang Wahab menuturkan awal mula anjing itu mendapat sentuhan tangan kasihnya. Pada Sabtu Pagi, seperti biasa, dia menyiapkan sarapan bagi anak-anak Papua yang mondok di pesantren Al-Payage, Angkasapura, Papua, tempat dia mengajar.

“Pagi tadi, pas saya sedang berjalan di samping dapur, saya melihat ada seekor anjing yang mondar-mandir di depan pesantren dengan penuh luka dan seperti sangat kelaparan,” kata Wahab. (Baca Habib Syech Bersholawat: Air Mutlak dan Air Musta'mal)

Dalam keterangannya pada Sabtu (9/04) sore, anjing itu dibawa ke dalam pondok. Sungguh keputusan yang akan disebut sembrono. Anjing dibawa ke pondok bukan untuk dikurung oleh para santri, tapi dicek lukanya oleh Kang Wahab. Bahkan sempat ia menyuapi anjing malang itu karena dia melihat binatang haram tersebut susah menundukkan kepala hanya untuk ambil makan saja. “Ada beberapa luka di sekitar leher,” tuturnya.

Kang Wahab melakukan semua hal itu karena dia mempraktikkan apa yang dikatakan oleh para kyai dahulu dan ulama salaf yang kredibel. “Islam mengajarkan agar berbuat baik kepada manusia maupun hewan, seperti anjing yang kita ketahui ia disebut sebagai hewan najis,” terangnya. (Baca Habib Syech Bersholawat: Cara Samak Kulit Bangkai Binatang)

Tanpa diperintah siapapun, setelah mengobati dan memberi makan anjing malang, kang Wahab langsung bersuci dengan basuhan 7 kali air suci (thahir muthahhir) yang salah satunya harus dicampur debu (endut atau tanah liat) karena anjing masuk kategori hewan najis mughalladhah (berat). Ini solusi untuk tetap bisa berbuat baik kepada anjing.

Kang Wahab mengingatkan, anjing itu haram dikonsumsi. Namun, kita diharuskan juga menolong anjing kelaparan di tengah jalan. Menurutnya, mengobati dan memberi makan anjing pada pagi itu bagian dari amal sholeh yang diharapkan dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu. (Baca Habib Syech Bersholawat: Tampilan Suci, Dalamnya Najis)

“Saya hanya mengikuti dawuh sebuah hadits riwayat Bukhari yang di sana menyebutkan ada seorang laki-laki melihat anjing kehausan di tengah padang pasir. Karena kasihan, anjing itu diambilkan air dari sumur hingga ia meminumkannya dan lepas dahaga anjing tersebut. Lalu Nabi bersabda: Allah berterimkasih kepadanya, lalu mengampuni dosa laki-laki itu,” tandas Kang Wahab.

Kang Wahab juga bercerita, ada satu anjing di daerah Wamena, Jayapura, yang kadang menemani perjalanan dakwahnya. Ia tidak melampar batu, apalagi mengusirnya. Dia sudah biasa berinteraksi dengan anjing sejak di Papua. Di Papua, kang Wahab belajar berbagi kasih bukan hanya kepada sesama, tapi juga hewan seperti anjing. (Baca Habib Syech Bersholawat: MTA Solo Diajak Baca Kitab Kuning Malah Kabur)

Kepada Habib Syech Bersholawat, ia menyayangkan sikap saudara muslim yang mengatasnamakan agama namun menebar teror di mana-mana. “Melalui foto itu, saya berpesan kepada diri sendiri dan teman-teman lain bahwa puncak agama itu adalah cinta, bukan syariah dengan teror,” pungkasnya. [Habib Syech Bersholawat/ m abdullah badri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/heboh-santri-nu-mengobati-anjing-malang-karena-sayang.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock