Showing posts with label Habaib. Show all posts
Showing posts with label Habaib. Show all posts

Monday, February 27, 2017

Kiai Gholib, Lampu Terang di Bambu Seribu

Keberadaan KH Gholib di daerah bambu seribu atau Pringsewu, Provinsi Lampung membawa "lampu yang terang". Begitu H. A Musa Achmad pada tahun 1973 menggambarkannya. Lampu adalah madrasah, penerang anak-anak dengan pendidikan agama Islam.

Berikut kisah KH Gholib dalam perjuangan di bidang agama, pendidikan dan sosial yang dituturkan Dr. Dra. Hj. Farida Ariyani, M.Pd, cucu KH Gholib, di Pringsewu, Jumat (14/11).

"Madrasah didirikan simbah kakung sederhana dan cukup untuk belajar 20 orang, terdiri atas tiga lokal berlantai tanah, berdinding geribik dan beratap genteng," ujar Farida.

Kiai Gholib, Lampu Terang di Bambu Seribu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Gholib, Lampu Terang di Bambu Seribu (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Gholib, Lampu Terang di Bambu Seribu

Guru pertama di madrasah KH Gholib bernama H.M Nuh, berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Pada tahun 1942, di masa penjajahan Jepang, lembaga pendidikan KH Gholib tetap berjalan terus dan mengalami kemajuan sangat pesat.

Habib Syech Bersholawat

Madrasah semakin maju ditandai dengan banyaknya santri dan juga hadirnya para guru madrasah baik dari Jawa maupun dari Lampung. Dengan keadan itu, ia mendirikan pesantren. Kondisi itu menarik minat belajar, mencapai 1.000 murid berasal dari Lampung, Palembang, Bengkulu dan Jambi.

Habib Syech Bersholawat

Kompetensi yang dikembangkan di madrasah itu antara lain: bahasa Arab, nahwu, shorof, membaca Quran dengan fasih dan lagu yang merdu, memelihara waktu ibadah (tiba waktu sholat siswa dan guru harus sholat berjamaah di masjid).

"Lalu di malam Jumat dilakukan pembacaan Berzanji dan marhaban. Hal itu yang menjadi beberapa sebab madrasah dan Pondok Pesantren KH Gholib menjadi maju pada saat itu," papar Farida lagi.

Di madrasah itu, semua siswa belajar dengan gratis. Semua kebutuhan guru dijamin KH Gholib itu sendiri. Kekayaan KH Gholib juga disediakan untuk kemajuan madrasah dan pesantren.

Kemudian jika guru dan keluarganya sakit, berobat di poliklinik tanpa biaya. Banyak pula tamu yang datang dan memohon doa barokah dari Allah melalui beliau, bahkan ada yang menginap sampai beberapa malam," tuturnya.

Berdirinya lembaga pendidikan Islam di Pringsewu juga berdampak positif, seperti tidak ada pencurian di sekitar desa Pringsewu.

KH Gholib juga disegani oleh masyarakat dan tidak memperbedakan antara golongan, serta sayang pada fakir-miskin dan yatim piatu serta bergaul dengan masyarakat sekitar.

KH Gholib lahir di Mojosantren, Sidoarjo, Jawa Timur, 1899. Ayahnya K Rohani bin K Nursihan telah meninggalkannya sejak dirinya masih kecil karena peperangan. Muksiti, ibunya, yang mengasuh Gholib hingga dewasa.

Di masa kecilnya, ujar Farida lagi, KH Gholib memperoleh pendidikan agama langsung dari orang tuanya dan dari bangku sekolah Madrasah Ibtidaiyah di desa kelahirannya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55746/kiai-gholib-lampu-terang-di-quotbambu-seribuquot

Habib Syech Bersholawat

Saturday, August 27, 2016

PP Muslimat NU Luncurkan Program Home Reading

Demak, Habib Syech Bersholawat. Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa menyerahkan buku bahan bacaan anak usia dini kepada Ketua Muslimat NU Demak Hj Ny Asiyah Chadziq Taslim di hadapan 4.000 jamaah. Buku ini selanjutnya akan disalurkan ke setiap kecamatan yang dikelola anak cabang Muslimat NU setempat.

Khofifah berharap anggota Muslimat NU menanamkan ke-NUan sejak dini kepada anak. Menurut Khofifah pada peluncuran program Home Reading ini, penanaman paham Aswaja NU akan lebih efektif selagi putra-putri mereka masih usia kanak-kanak.

PP Muslimat NU Luncurkan Program Home Reading (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Luncurkan Program Home Reading (Sumber Gambar : Nu Online)


PP Muslimat NU Luncurkan Program Home Reading

Muslimat NU sangat vital dalam menjaga ideologi anak. Ini terbukti dalam keseharian mendidik anak, ibu justru sangat berperan dalam pendidikan baik keagamaan maupun perilaku anak dalam keseharian, kata Khofifah mengarahkan anggota Muslimat NU di pendopo kabupaten Demak, Sabtu (7/3).

Habib Syech Bersholawat

Sebagai upaya agar pemahaman aqidah maupun ilmu keagamaan dan pengetahuan pada anak tidak menyimpang, perlu pedoman yang pasti sesuai anjuran Islam yang sudah tertera dalam kitab suci Al-Quran dan buku keagamaan yang sudah ditulis para ulama. sehingga, anak tidak terjerumus pada pergaulan bebas, pornografi, dan narkoba.

Habib Syech Bersholawat

Indonesia saat ini sudah darurat narkoba dan pornografi. Ini diakibatkan oleh sistem pendidikan yang salah dan tidak adanya pengawasan yang benar dari orang tua, kata Khofifah yang kini diamanahkan negara sebagai Menteri Sosial itu.

Penyerahan buku ini dihadiri para kiai, Bupati Demak H Dachirin Said, Kapolres, Dandim, dan SKPD sekabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58052/pp-muslimat-nu-luncurkan-program-home-reading

Habib Syech Bersholawat

Wednesday, July 20, 2016

Lautan Manusia Banjiri Haul Muallif Simtudurar

Solo, Habib Syech Bersholawat. Tanpa undangan, puluhan ribu manusia berkumpul di Masjid Riyadh dan sekitar daerah Gurawan Pasar Kliwon Solo, Ahad (3/3).

Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara. Tujuan mereka hadir untuk memperingati haul Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi.

Lautan Manusia Banjiri Haul Muallif Simtudurar (Sumber Gambar : Nu Online)
Lautan Manusia Banjiri Haul Muallif Simtudurar (Sumber Gambar : Nu Online)


Lautan Manusia Banjiri Haul Muallif Simtudurar

Dan orang-orang saleh seperti Habib Ali Bin Muhammd Al Habysi adalah pelita. Meski ia telah tiada, namun cahayanya tetap menerangi ribuan manusia, kata Habib Musthofa Mulahela, salah satu panitia Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi.

Ya, rasa cinta itulah yang menggerakkan langkah ribuan umat. Tiap tanggal 20 Rabiul Akhir, mereka datang berduyun-duyun meski tanpa undangan, tanpa pengumuman, dan tanpa pamrih apapun.

Habib Syech Bersholawat

Di Indonesia, Habib Ali Al-Habsyi yang berasal dari Hadramaut (Yaman) ini lebih dikenal masyarakat sebagai muallif kitab Maulid Simtuddurar. Kitab maulidnya banyak dibaca di berbagai penjuru Nusantara ini.

Tentang Habib Ali Al-Habsyi, ia adalah seorang ulama besar yang terkenal dengan akhlaq yang mulia dan kedermawanannya. Ia wafat pada tanggal 20 Rabiul Akhir 1333 H/1915 M. Jenazahnya dikebumikan di sebelah Barat Masjid Riyadh Hadramaut.

Habib Syech Bersholawat

Salah satu puteranya, yakni Habib Alwi, hijrah ke Indonesia untuk berdakwah dan mendirikan Masjid Riyadh, yang terletak di pinggir Jl Kapten Mulyadi Pasar Kliwon Solo. Setelah wafat, perjuangan dakwahnya dilanjutkan oleh puteranya, Habib Anis, yang wafat pada tahun 2006 lalu. Habib Anis ini yang kemudian pertama kali mengadakan acara haul Habib Ali di Masjid Riyadh.

Di masjid ini pula, para anak keturunan Habib Ali, yakni Habib Anis dan Ayahnya, Habib Alwi memulai ajaran akhlaknya di Zawiyah, sebuah tempat di sisi utara masjid Ar Riyadh. Zawiyah sendiri dulu dikenal para sufi sebagai tempat menempa diri untuk menuju kesempurnaan akhlak seperti yang diajarkan Nabi Muhammad saw

Kini, meski Habib Ali telah tiada, namun kemuliaan akhlaknya seakan terus berpendaran di setiap hati para pengikutnya. Ribuan umat yang berbondong-bondong memperingati wafatnya setiap tahun, seakan membuktikan bahwa Habib Ali tetap hidup di tengah-tengah kehidupan mereka yang mendamba air kesejukannya.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42869/lautan-manusia-banjiri-haul-muallif-simtudurar

Friday, March 4, 2016

Karomah Buya Hamka: Ketika Wafat, Jarinya Masih Bergerak Dzikir

Habib Syech Bersholawat - Siapa menyangka bahwa ketua MUI pertama ini pernah berbaiat/mengambil talqin dzikir kepada Abah Anom, Mursyid Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyyah, Suryalaya.

Sebab awal Buya Hamka masuk TQN adalah ketika pulang dari Mekkah. Kemudian ia datang ke Pondok Persantren Suryalaya (PPS) yang menurut penjelasannya "mendapat petunjuk Baginda Nabi Muhammad SAW".

Karomah Buya Hamka: Ketika Wafat, Jarinya Masih Bergerak Dzikir - Habib Syech Bersholawat
Karomah Buya Hamka: Ketika Wafat, Jarinya Masih Bergerak Dzikir - Habib Syech Bersholawat


Karomah Buya Hamka: Ketika Wafat, Jarinya Masih Bergerak Dzikir

Dalam petunjuk itu, ia diminta agar menjumpai seorang hamba Allah yang ikhlas. Ketika di Suryalaya, didapatinya seorang mursyid yang sangat bersahaja: tidak berjubah, tidak bersurban, dan tidak berjenggot, sebagaimana yang ada umumnya. Demikian juga para santrinya yang sederhana.

Ada cerita menarik mengenai pesan Abah Anom kepada Hamka. Ceritanya: Setelah berada di Suryalaya untuk beberapa waktu, sampailah masa perpisahan. Dan ketika Buya Hamka hendak berpamitan pulang, Pangersa Abah memeluknya dan berkata:

“Ucapan jutaan terima kasih atas banyak ilmu yang telah dicurahkan, tetapi Abah mohon agar Buya mau mengatakan kepada Abah, bagaimana mengamalkan semuanya (ilmu yang disampaikan oleh Buya) itu. Abah sendiri juga tidak mampu, apalagi para santri. Mohon ditunjuki ya, Buya“, demikian kurang lebih kata Pangersa Abah.

Ketika itu juga Buya Hamka tersadar, sehingga dia menangis terisak-isak dan berlutut di hadapan Pangersa Abah. Buya sadar, ilmu yang banyak tidaklah berguna bila tidak diamalkan. Kemudian Buya malah minta ditunjukkan sebaik-baik amalan, sehingga akhirnya ditalqinkan kalimat yang agung: La ilaha illa Allah.

Ketika Buya Hamka berkunjungan ke Singapura pada tahun 1981, ceramah di Masjid Muhajirin, masih teringat jelas kata-katanya dan penjelasannya yang menunjukkan beliau sudah berbaiát kepada Abah Anom. Dalam ceramahnya itu, beliau berkata:

“Dalam berzikir kepada Allah ada kaifiyatnya, kemana dipalingkan kepalanya, dari bawah dahulu kemudian ke atas, lalu ke kanan dan kemudian ke kiri. Bukan sembarangan mengeleng ketika lafaz nafi, meng ‘iya’ ketika lafaz isbat..,.".

Masih dari pembahasan yang sama, mantan Ketua Umum Fatayat NU yaitu Sri Mulyati menuturkan, Buya Hamka sendiri pernah berujar di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya bahwa dirinya bukanlah Hamka, tetapi Hampa.

Katanya lagi: “Saya tahu sejarahnya, saya tahu tokoh-tokohnya, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya, karena itu saya mau masuk’’. Akhirnya ia masuk TQN, karena mungkin haus spiritual. Buya Hamka berkata: “Di antara makhluk dan kholik itu ada perjalanan yang harus kita tempuh. Inilah yang kita katakan thoriqoh.”

Di gambar tersebut terlihat jelas bahwa Abah Anom sedang memberikan sebuah tongkat dan jubah kebesaran untuk Buya Hamka.

Selanjutnya, sebelum akhir hayat, Buya Hamka sempat berkunjung secara khusus kepada Pangersa Abah. Maka, seminggu sebelum “masa” itu tiba, Pangersa telah memberikan pesan sebelum Buya pulang ke rumah, yaitu untuk menyelesaikan segara urusan wasiat kepada keluarga, dan kemudian agar memfokuskan pada tawajjuh dengan sepenuh hati, agar baik dan mulia di saat kembali kepada-Nya. Bahkan Pangersa Abah menyatakan, bahwa “masa” itu terjadi setelah shalat Jumat.

Subhanallah. Benar saja. Tepat setelah sholat Jumat, Buya Hamka kembali ke rahmatullah, dengan akhir kalamnya, yaitu kalimat ikhlas (laa ilaaha illallah). Terdapat keganjilan, di mana jari telunjuk kanan masih bergerak-gerak (sedang berdzikir khofi), sementara dokter telah menginformasikan kematiannya.

Ketika dilaporkan kepada Pangersa Abah, Abah kemudian memberi pesan yang dibawa seorang wakil. Wakil Pangersa Abah tersebut setelah sampai di tempat jenazah Buya Hamka, mengatakan: “Sudah sudah.., ruhmu sudah kembali.., dan jasadmu harus tenang. Jangan mencari adat”. Maka berhentilah jari itu dari mengikuti gerakan dzikir. Sungguh merupakan kematian yang sangat indah.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga bahwa hubungan antara murid dan guru tak akan terikat kecuali adanya hubungan batin di antara mereka. Orang yang mempunyai banyak ilmu, namun tak diamalkan sama saja dia tak memiliki apa-apa, karena ilmu tanpa diamal ibarat pohon yang tak berbuah.

Maka benar perkataan al-Ghazali: "Ilmu tanpa amal, gila dan amal tanpa ilmu, sia-sia.” Oleh karenanya, salah satu cara untuk mengamalkan ilmu kita adalah dengan mengikuti thariqat. Sebab ini sebagai bukti pengaplikasian atas ilmu-ilmu yang telah kita miliki, yang mana di dalam thariqat itu senantiasa menekankan kedekatan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/karomah-buya-hamka-ketika-wafat-jarinya-masih-dzikir.html

Sunday, January 19, 2014

Sekjen PBNU Helmy Faishal Bantah Info Hoax Dirinya Sebagai Perantara SBY-Kiai Maruf

Habib Syech Bersholawat - Broadcast fitnah yang sengaja menyeret nama pejabat teras Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini, beredar. Dalam broadcast tersebut, Sekjen PBNU Hemly Faishal disimpulkan sebagai perantara komunikasi seluler Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin (KH MA).

Karena pasangan Agus-Sylvi tidak bisa menemui Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj, menolak dikunjungi dengan alasan menjaga netralitas PBNU, penulis broadcast menyebut Helmy Faishal lah yang kemudian membawa pasangan nomor 1 Pilkada DKI Jakarta itu ke lantai 4 PBNU, kantor Rais Aam PBNU.

Sekjen PBNU Helmy Faishal Bantah Info Hoax Dirinya Sebagai Perantara SBY-Kiai Maruf - Habib Syech Bersholawat
Sekjen PBNU Helmy Faishal Bantah Info Hoax Dirinya Sebagai Perantara SBY-Kiai Maruf - Habib Syech Bersholawat


Sekjen PBNU Helmy Faishal Bantah Info Hoax Dirinya Sebagai Perantara SBY-Kiai Maruf

Di ruangan itu, kata penulis anomim kurangajar itu, Sekjen PBNU menelepon SBY. Handphone kemudian diberikan ke Kiai Ma'ruf. Terjadilah dialog antara Kiai Ma'ruf dan SBY via telepon milik Hemly Faishal. Intinya, broadcast bodong tersebut ingin menyatakan kalau SBY tidak disadap siapapun mengingat komunikasi yang terjadi bisa didengar semua orang yang ruangan, di-load speaker.

Habib Syech Bersholawat

Broad Hoax dan Fitnah Analisa Hoax

Secara matan (konten broadcast), pembaca yang cerdas akan mudah mengidentifikasi sebagai hoax. Pasalnya, penulis broadcast karangan itu sengaja menulis salah nama KH Ma'ruf Amin. Penelusuran Habib Syech Bersholawat, nama KH MA sengaja dibuat salah hingga enam kali. Pertama disebut sebagai Mahfud Amin (1 kali) lalu kedua, ditulis Mahruf Amin (5 kali). Tidak ada satupun penyebutan nama yang benar. Enak saja mereka mengubah nama kiai?

Bahkan penulisan kalimat "salah satu pengurus DPP PBNU" (disebut hingga 3 kali), sebagai aktor yang dianggap menyadap juga tidak merujuk fakta akronim manapun. Yang dimaksud tentunya Hemly Faishal, Sekretaris Jenderal PBNU sekarang. Nama aslinya juga disalah ketikkan hingga 3 kali jadi Helmi Faisal, bukan Helmy Faishal Zaini (sesuai biografinya di Wikipedia.com). Piye jal?

Habib Syech Bersholawat

Dugaan kuat, hal itu sengaja dilakukan untuk mengelabui jikalau penulis tertangkap basah sebagai penebar hoax. Ia akan mudah berkelit dan mudah membantah kalau yang dimaksud bukan KH Ma'ruf, tapi Mahruf atau Mahfud. Itu Ketua MUI yang mana? Cerdas amat bikin broadcast.

Pasal lain, broadcast tersebut tidak menjelaskan isi komunikasi antar keduanya. Hanya menjelaskan kalau telah terjadi komunikasi atara SBY dan KH MA, dan komunikasi itu didengarkan oleh seisi ruangan. Padahal, isi komunikasi itulah yang dibutuhkan di tengah polemik sadap-menyadap yang diprihatikan SBY. Lalu, apa kira-kira tujuannya?

Dilihat dari konten, analis Habib Syech Bersholawat menyimpulkan kalau broadcast tersebut hanya untuk menyerang SBY yang dianggap berlebihan menyikapi komunikasi (via Twitter) hingga ia terkesan baper menyalahkan pihak lain, penguasa.

Buktinya mudah dilacak. Penulis broadcast bodong selalu mengaitkan Helmy Faishal sebagai orang-nya SBY, manteri era SBY, pejabat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang notabene mendukung putra SBY di Pimelihan Gubernur DKI Jakarta.

Selain itu, broadcast semakin bodong terlihat menyerang SBY karena mengaitkan Kiai Ma'ruf Amin sebagai mantan Watimpres era SBY selama 7 tahun dan menyebut SBY sebagai orang yang menjadikan Kiai Ma'ruf Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelum lengser keprabon.

Bahkan, broadcast itu menyebut Sekjen PBNU sebagai anak kesayangan SBY. Hahaha. Ia menyuruh SBY klarifikasi langsung ke Helmy Faishal, bukan malah membuat statemen baper hasil otak Rahlan Nasidik. Begitu ajakan dan tuduhannya.

Dibantah Langsung

Meskipun dari segi konten sudah dlo'if (lemah), namun hal itu tetap mendapatkan bantahan dari Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini. Kepada Netizen NU, kemarin (06/02/2017), ia membantah adanya telepon dengan SBY ke Rais Aam PBNU, KH Amin Ma'ruf.

"Saya mengetahui silaturrahmi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke PBNU melalui pemberitahuan dari sekretariat. Saya diminta Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj untuk mendampingi beliau. Pada saat AHY datang, saya terlambat," terang Helmy.

Begitu masuk ruangan, lanjutnya, Kiai Said memintanya untuk menjemput Rais Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin di ruangannya. "Saya menuju ruangan Rais Aam di lantai empat untuk menghaturkan bahwa tamu sudah datang. Waktu itu KH. Ma’ruf Amin masih merima tamu para Kiai. Kemudian saya kembali kembali ke ruangan Ketua Umum di lantai tiga PBNU," imbuhnya.

Pertemuan tersebut sepenuhnya dilakukan di ruangan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj lantai tiga Gedung PBNU. Jadi, tidak ada acara membawa Agus-Sylvi ke lantai 4 Gedung PBNU, yang disebut penulis hoax sebagai "Kantor Pusat DPP PBNU".

Jadi, Anda sudah tahu kan cara kerja broadcast hoax. Telitilah kontennya, matan-nya, lalu runtutkanlah peristiwanya (jika berbentuk cerita), carilah bahasa yang diplesetkan (jika penulisnya cerdas), dan, telusuri informasinya langsung ke sumber korban hoax.

Jika secara riwayat tidak nyambung (munqathi'), a-faktual (tidak merujuk fakta), apalagi dibantah sumber riwayat secara langsung dan meyakinkan, bisa dipastikan itu hoax, maudlu', bahkan munkar. Jika masih penasaran isinya, silakan baca di Google Docs, di bawah ini. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/sekjen-pbnu-helmy-faishal-bantah-info-hoax-dirinya-sebagai-perantara-sby-kiai-maruf.html

Tuesday, November 12, 2013

Adakan Pertemuan Siluman Dengan 35 Kiai NU, GP Ansor Kayen Bubarkan Acara HTI

Habib Syech Bersholawat - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendapatakan perlawanan dari PAC GP Ansor Banser dan Pagar Nusa Kecamatan Kayen, Pati, pada saat mereka mengadakan pertemuan di Gedung Haji, Kec. Kayen, Kab. Pati, Jateng, Ahad (13/11/2016) pagi.

Awalnya, Ketua PAC GP Ansor Kayen mendapatakan selebaran yang isinya akan ada kegiatan mengatasnamakan HTI di daerah tersebut yang kabarnya mengundang tokoh-tokoh NU di 21 desa se Kecamatan Kayen. Setelah ditelusuri, ternyata informasi tersebut benar adanya.

Mengingat situasi politik di Jakarta yang belum padam, Ansor langsung berkoordinasi dengan Pagar Nusa (PN) untuk mendatangi acara. Informasi yang diterima Duta Islam menyebutkan, ada 20 anggota HTI dan 35 tokoh NU yang hadir di acara. Ini yang menurut Ansor harus diwaspadai.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Ketua PAC Ansor, Sunoto, menetapkan siaga 1 wahabi di daerahnya atas digelarnya acara HTI, yang terkesan sembunyi-sembunyi dengan misi politis mempengaruhi tokoh-tokoh kiai sepuh NU.

Dipimpin langsung oleh Sunoto, pagi itu juga sekitar jam 10.00 WIB, 30 orang terdiri atas Ansor, Banser dan Pagar Nusa, bergerak menuju Gedung Haji Kayen. Dalam pertemuan tersebut, HTI mengajak bergabung kepada para kiai NU karena umat Islam disebut sudah bersatu sejak demo 411 di Jakarta.

"Umat Islam sekarang sudah bersatu. Hal ini dibuktikan dengan acara demo 4 November 2016 yang diikuti hampir semua ormas Islam. Oleh karena itu, mari NU juga bersama-sama ormas Islam yang lain untuk menjaga persatuan antar umat Islam yang semakin nyata," kata salah satu anggota HTI, dikutip Duta Islam dari laporan Joko Buono, anggota Pagar Nusa Pati, kemarin (13/11/2016).

Melihat agenda HTI yang main colong kepada sesepuh NU di wilayahnya, Ansor, Banser dan Pagar Nusa memberikan kesempatan pertemuan HTI tersebut hingga pukul 11.30 WIB, sebagaimana rencana awal. "Kalau jam 11.30 tidak bubar, maka akan dibubarkan paksa," demikian ultimatum Ketua Ansor. Redaksi Habib Syech Bersholawat belum menerima laporan lebih lanjut atas berita ini. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/adakan-pertemuan-siluman-dengan-35-kiai-gp-ansor-kayen-bubarkan-hti.html

Sunday, October 21, 2012

Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas

Pringsewu, Habib Syech Bersholawat. Dalam mencari Ilmu, seseorang harus memperhatikan sumber ilmu yang didapatnya berupa silsilah keilmuan atau sanad. Hal ini sangat berperan penting dalam keshahihan dan keberkahan ilmu yang didapat.

Hal ini disampaikan Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah KH Ahmad Chalwani Nawawi saat menyampaikan Mauidzotul Hasanah pada Wisuda Tahfidz Al Quran 30 Juz dan khotmil kutub pondok pesantren Pesantren Salafiyah Tahfidzul Quran Miftahus Salam Jatirejo Pringsewu.

Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)


Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas

"Sebagai Santri, kita harus ngaji pada kiai yang jelas gurunya siapa? Ilmunya sumbernya dari mana, harus jelas," tegas Kyai Chalwani yang Juga Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah ini dihadapan jamaah yang memenuhi halaman Pesantren setempat, Selasa (13/4).

Ia mengingatkan kepada jamaah untuk mengaji kepada kiai yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas, yang alim serta dapat dirunut silsilah sumber ilmunya sampai pada Rasulullah SAW. Hal ini ditujukan agar terhindar dari maraknya aliran menyimpang yang belajar ilmu agama secara instan dari internet dengan sanad yang tidak jelas.

Habib Syech Bersholawat

"Mari kita didik putra-putri kita di Pesantren, kita titipkan pada kiai. Kita gerakkan generasi kita untuk mondok," tegasnya. Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa pondok-pondok pesantren dibawah bimbingan para kiai dalam sejarahnya telah terbukti berkontribusi dalam mencetak ulama dan santri sekaligus menjadi benteng pertahanan keutuhan NKRI.

"Kalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan," tegas Kiai Chalwani mengutip pernyataan Douwes Dekker, agen Belanda yang berbalik berpihak pada Indonesia di zaman pergerakan kemerdekaan.

Habib Syech Bersholawat

Disamping kegiatan khotmil kutub, pada acara tersebut juga dilaksanakan pelantikan pengurus Idaroh Ghusniyah Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mutabaroh An Nhdliyyah (JATMAN) Kecamatan Pagelaran dan Ambarawa. Pelantikan tersebut dilakukan oleh Mudir Idaroh Wustho JATMAN Provinsi Lampung Habib Yahya Assegaf.

Hadir pada acara tersebut Bupati Pringsewu H Sujadi yang juga Mustasyar PCNU Pringsewu, Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim, para kiai dan Pengasuh Pondok Pesantren di Kabupaten Pringsewu serta Pengurus MWCNU Kecamatan Pagelaran. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67260/agar-shahih-dan-berkah-penting-miliki-sanad-keilmuan-yang-jelas-

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock