Showing posts with label Media Sosial. Show all posts
Showing posts with label Media Sosial. Show all posts

Sunday, February 19, 2017

Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU

Blitar, Habib Syech Bersholawat. Lailatul Ijtima yang diselenggarakan MWCNU Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu malam (27/7) berlangsung beda dengan kegiatan serupa sebelumnya. Setelah istighotsah yang dipimpin oleh KH Dimyati Zaini, biasanya langsung taushiyah, tapi tadi malam tidak.

Taushiyah pada kegiatan yang dirangkai Halal bihalal tersebut diganti dengan paparan napak tilas sejarah para pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama. Para pendiri tersebut mulai dari KH Hasyim Asyary, KH Bisri Sansuri, KH Wahab Hasbullah, KH Asnawi, KH Ridwan. Tidak ketinggalan juga sejarah pengurus PWNU Jawa Timur.

Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU

Uraian sejarah disampaikan oleh Musytasar MWCNU Udanawu KH Syaikuddin Rohman. Menurut Kiai Cikut, panggilan akrabnya, perjalanan dakwah Islam mulai dari Nabi Muhammad SAW dan sahabat Nabi hingga Wali Songo berlangsung sekitar 7 abad (700 tahun). Sementara dakwah dari Wali Songo hingga NU berdiri dan saat ini, juga sekitar 7abad (700 tahun) lamanya.

Jadi perjalanan agama Islam mulai Nabi Muhammad SAW hingga sampai ke kita semua ini sekitar 14 abad atau 1400 tahun. Sedangkan NU umurnya hingga saat ini hampir seabad, ungkap Kiai Cikut.

Habib Syech Bersholawat

Cerita Kiai Syaikuddin Rohman tentang tokoh-tokoh ulama NU ini sangat menarik para hadirin peserta lailatul ijtima yang terdiri para pengurus ranting se-Udanawu, Muslimat NU, Ansor dan Fatayat NU. Karena, kiai Cikut tidak hanya bercerita saja. Namun didukung dan dilengkapi dengan audio visual gambar-gambar para kiai dan ulama melalui proyektor. Sehingga menambah gayeng cerita yang dipaparkan. Ini gambar Hadrotussyekh KH Hasyim Asyari. Mbah Hasyim ini kakeknya Gus Dur, ungkap Kiai Cikut.

Habib Syech Bersholawat

Ini, lanjutnya, gambar KH Bisri Sansuri. Ini juga kakeknya Gus Dur. Kalau Mbah Hasyim itu kakek dari ayahnya Gus Dur. Mbah Bisri ini kakek dari ibu Gus Dur karena Mbah Hasyim dari Tebuireng dan Mbah Bisri dari Denanyar besanan, jelas Kiai Cikut.

Ia menambahkan, dengan menunjuk foto KH Wahab Hasbulloh. Menurut Kiai Cikut, Kiai Wahab ini adalah kinasih Kiai Hasyim sebab kepandaiannya. Karena Kiai Wahab orangnya alim, cerdik dan pandai, zaman Bung Karno dia diajak kemana-mana.

Mbah Wahab ini orang kecil, tapi semangat berdakwahnya luar biasa. Pernah beliau dalam kondisi sakit tidak bisa berjalan diundang ke Pondok Lirboyo.Karena tidak bisa berjalan, maka beliau dibopong untuk naik ke panggung. Ajaibnya, meski sakit, di atas podium beliau tetap lantang dalam berceramah, ungkapnya.

Semua tokoh NU Jawa Timur juga dipaparkan oleh Kiai Cikut sehingga yang hadir pada acara bulanan NU Udanawu itu gamblang.

Semoga kita para pengurus NU ini bisa meneladani model dakwah dan berjuangnya mulai Nabi Muhammad SAW hingga para pejuang NU tadi. Dan kita dapat barokah dari paparan ini, tutupnya. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70026/kiai-cikut-paparkan-sejarah-islam-dan-tokoh-nu

Habib Syech Bersholawat

Thursday, October 29, 2015

Gus Dur dalam Kisah dan Ramalan Ahok Basuki

Habib Syech Bersholawat -Sembilan tahun lalu, paruh pertama tahun 2007, almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendoakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur. Ketika itu, jalan terjal sedang menghadang Ahok. Tepat ketika ia maju sebagai calon Gubernur Bangka Belitung berpasangan dengan Dr. Ir Eko Cahyono. Pada awalnya, dalam perhitungan suara sementara, 22 Februari 2007, Ahok melesat jauh meninggalkan pesaingnya. Namun, di tikungan terakhir, konon ia dicurangi lawan politiknya.

Gus Dur dalam Kisah dan Ramalan Ahok Basuki
Gus Dur dalam Kisah dan Ramalan Ahok Basuki


Ahok tidak terima, ia mengadu ke Mahkamah Agung (MA). Usahanya buntu, Ahok gagal jadi Gubernur Bangka Belitung. Pada waktu itu, Gus Dur dengan gigih membela Ahok. Gus Dur bahkan ikut kampanye dan mendukung Ahok dalam proses akhir penyelesaian di pengadilan. Ketika Ahok hampir putus asa, Gus Dur mendoakan Ahok jadi gubernur, bahkan presiden.

Dukungan Gus Dur ini menjadi kisah menarik, karena belum banyak warga Tionghoa yang maju sebagai politisi dan kepala daerah. Meski Ahok tidak berhasil menjadi Gubernur Bangka Belitung, akan tetapi ia selalu ingat petuah dari Gus Dur. Menurut Ahok, Gus Dur pernah meramalkan dirinya akan menjadi Gubenur bahkan pemimpin bangsa.

“Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi Gubernur? Jadi presiden, kamu aja bisa!” ungkap Ahok menirukan perkataan Gus Dur. Ahok mengulang ucapan ini, dalam testimoni pada Haul ke-4 Gus Dur di Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa, 28 Desember 2013.

Nyatanya, Joko Widodo (Jokowi) berpasangan dengan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Dua tahun kemudian, Jokowi terpilih sebagai presiden pada pemilu 2014, berpasangan dengan Wapres Jusuf Kalla (JK). Ahok yang sebelumnya menjadi Wakil Gubernur, ditetapkan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Kenapa Dukung Ahok?

Dukungan Gus Dur terhadap kelompok minoritas tidak hanya berhenti pada perbicangan dan wilayah konseptual semata. Untuk mendukung warga Tionghoa agar mendapat hak politiknya, Gus Dur ‘turun gunung’ melakukan pembelaan. Ketika menjabat sebagai presiden, Gus Dur menerapkan kebijakan menghapus diskriminasi orang Tionghoa mencabut Inpres No 14/1967 dan meneken Keppres No 6 Tahun 2001. Intinya, Gus Dur menjadikan warga Tionghoa mendapatkan hak politik dan sosialnya. Orang-orang Tionghoa Indonesia sangat berterima kasih pada Gus Dur, dengan menyebutnya sebagai “Bapak Tionghoa Indonesia”.

Dukungan Gus Dur terhadap Ahok merupakan konsekuensi dari sikap konsisten Gus Dur dalam membela minoritas. Ahok juga sangat berterima kasih kepada Gus Dur, karena dukungan Gus Dur tidak hanya dimaknai sebagai dukungan politik, namun juga dukungan moral untuk memberi ruang bagi kaum minoritas tampil sebagai eksekutif di wilayah politik. Gus Dur lah yang mendukung Ahok agar terus berjuang sebagai politisi, yang mampu memberikan kontribusi positif bagi warga negeri ini. Dukungan Gus Dur kepada Ahok bukan tanpa alasan.

Pada orasi kampanye di Bangka Belitung, Gus Dur menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus siap menjadi bangsa yang besar, dengan memberi ruang pada minoritas. Gus Dur menekankan bahwa mendukung Ahok karena cinta.

Gus Dur menyitir ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia berupa laki-laki dan perempuan, untuk berpasang-pasangan. Juga, dengan berbangsa dan suku bangsa, agar saling mengetahui, saling mengenal. Kalau sudah mengenal, akan menjadi cinta. “Kenapa memilih Ahok? Karena cinta! Kita semua akan memilih Ahok karena cinta,” ungkap Gus Dur.

Selain itu, Gus Dur memperjuangkan minoritas karena cita-cita kebangsaan. Inilah nilai-nilai keindonesia yang menjadi prinsip dasar, sebagai pencarian harmoni. Sejauh yang dipahami Gus Dur, yang paling Indonesia diantara semua nilai yang diikuti oleh warga bangsa ini adalah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali ikatan dengan masa lampau.

“Kita dapat menamainya sebagai pencarian harmoni, walaupun dengan begitu bersikap tidak adil pada pencarian besar dengan peranan dinamisnya dalam pengembangan cara hidup bangsa dan menyalurkannnya ke jalan baru tanpa menghancurkan jalan lama, semuanya dalam proses yang berurutan” (Abdurrahman Wahid, 2007: 163).

Pernah suatu kali, ketika sedang berkompetisi sebagai calon Gubernur Bangka, tim sukses Ahok menyarankan agar dia berpindah agama menjadi mualaf. Namun, Gus Dur mengatakan sebaliknya. “Timses saya pernah menyuruh untuk jadi mualaf agar dapat suara banyak. Tapi Gus Dur bilang enggak boleh. Beliau contoh yang tidak pernah menggadaikan agama demi sebuah jabatan politik,” ungkap Ahok, sebagaimana arsip media (Kompas, 29/12/2013).

Selain itu, ungkapan-ungkapan Gus Dur juga memotivasi Ahok untuk konsisten dalam melayani kepentingan rakyat, meski banyak kritik dan penolakan dari mereka yang berpandangan sempit. Hal ini terjadi ketika Ahok ditolak masuk ke sebuah mesjid di Jakarta.

“Kalo kata Gus Dur, orang yang menolak itu adalah orang yang pengalaman Islamnya sempit. ‘Udah biaran saja, nggak ngerti mereka. Jadi banyak orang nggak ngerti ajaran sebetulnya. Karena Islam itu kan rahmatan lil ‘alamin, rahmat buat seluruh ummat,” ungkap Ahok menirukan petuah Gus Dur.

Visi Gus Dur, Misi Ahok? Kini, menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017, karir politik Ahok sedang dipertaruhkan. Ia nekad memilih jalur perseorangan dengan menggandeng Heru Budi Hartono (Kepala Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah DKI Jakarta). Relawan Teman Ahok dengan gigih mendukung pasangan ini, dengan menggalang simpati dan mengumpulan KTP.

Menjelang 2017, Ahok sedang dalam pertaruhan politik. Beberapa parpol masih dalam perhitungan antara mendukung Ahok atau mengusung calon lain.

Sebagai murid Gus Dur, masihkan Ahok memperjuangkan gagasan-gagasan Sang Kiai? Jika menganggap dirinya sebagai murid Gus Dur, masihkan Ahok meneruskan perjuangan Gus Dur yang belum tuntas? Bagaimana ramalan Gus Dur tentang Ahok sebagai Presiden? Saya kira, kelak, sejarah yang akan menjawabnya.

Munawir Aziz, peneliti dan editor penerbitan. Alumnus Pascasarjana UGM. Bisa ditemui di @MunawirAziz

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/gus-dur-dalam-kisah-dan-ramalan-ahok-basuki.html

Thursday, October 15, 2015

Soal Tenaga Kerja Cina, PBNU Minta Pemerintah Harus Sensitif

Habib Syech Bersholawat - Beredarnya kabar tentang masuknya tenaga kerja dari Cina ke Indonesia yang gajinya lebih tinggi dari buruh lokal, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta kepada pemerintah agar memperhatikan hal-hal mendasar sebelum mempekerjakan tenaga kerja asing.

Soal Tenaga Kerja Cina, PBNU Minta Pemerintah Harus Sensitif
Soal Tenaga Kerja Cina, PBNU Minta Pemerintah Harus Sensitif


Baca juga: Tenaga Kerja Tiongkok dan Nasib Tenaga Kerja Kita

Bulan Agustus lalu, Polisi berhasil menangkap 70 kerja tenaga asing illegal dari China dalam proyek pembangunan pabrik semen di Pulo Ampel, Serang. Perbandingan komposisi tenaga kerja asing yang jumlahnya 70 persen dalam proyek tersebut membuat PBNU meminta pemerintah harus sensitif menjaga perasaan rakyat.

Apalagi kenyataan membuktikan bahwa gaji pekerja asing ternyata lebih mahal dari pekerja lokal. Mereka digaji 15 juta perbulan, sementara pekerja lokal diberi upah 2 juta, "prakteknya tidak mengajak rakyat sebagai mitra, dalam hal ini sebagai pekerja," demikian keterangan dalam surat yang ditandatangani oleh Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj dan Sekjen Helmy Faishal tersebut Selasa (20/12/2016).

Selanjutnya, PBNU menyarankan agar pemerintah memperkuat negosiasi kesepakatan kerjasama dalam paket investasi. Hal itu amat penting dilakukan mengingat tingkat perekonomian Indonesia yang merosot jauh, "kegiatan ekspor berkurang, daya beli masyarakat menurun dan harga pasar semakin tinggi," lanjut keterangan rilis bernomor 1128/A.II.03./12/2016.

PBNU juga meminta kepada pemerintah untuk lebih aktif membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Sebab, pengangguran di Indoensia kini sudah sangat memprihatinkan, angkanya mencapai 7,02 juta orang. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/soal-tenaga-kerja-cina-pbnu-minta-pemerintah-harus-sensitif.html

Tuesday, March 3, 2015

Kiai Said: Pemerintah Harus Tegas Terhadap Situs-situs Radikal

Jakarta, Habib Syech Bersholawat. Keberadaan situs-situs radikal dengan menyajikan konten yang membahayakan kedaulatan bangsa dan negara dengan menyebarkan aksi-aksi kekerasan mengatasnamakan agama, mengarah pada gerakan terorisme, dan mendukung keberadaan ISIS harus ditindak tegas oleh pemerintah, misalnya dengan cara memblokirnya.

Demikian ditegaskan oleh Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj di Kantor Redaksi Habib Syech Bersholawat usai menerima tamu dari Kerajaan Uni Emirat Arab (UEA) di ruang rapat PBNU lantai 5, Kamis (26/3).

Kiai Said: Pemerintah Harus Tegas Terhadap Situs-situs Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Pemerintah Harus Tegas Terhadap Situs-situs Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Said: Pemerintah Harus Tegas Terhadap Situs-situs Radikal

Tentang keberadaan situs-situs radikal yang mengancam eksistensi NKRI, itu tugas pemerintah untuk mengawasi dan menindak tegas, jelasnya didampingi Rais Syuriah PBNU, KH Saifuddin Amsir.

Kang Said juga mejelaskan, peran NU sangat jelas, ada bom atau tidak ada bom, ada ISIS atau tidak ada ISIS, dan ada teroris atau tidak ada teroris, pihaknya terus menyiarkan Islam damai, toleran, dan Islam ramah kepada seluruh bangsa Indonesia, bahkan untuk dunia.

Habib Syech Bersholawat

Kalau syiar melalui dunia maya, jelas kita punya Habib Syech Bersholawat, situs resmi NU, menyebarkan Islam ramah di tengah situs-situs radikal, kita bagian mencegah lewat ikhtiar tersebut, kalau bagian pemerintah, ya menindak, terangnya menjawab pertanyaan para jurnalis yang ikut menyambangi Kantor Redaksi Habib Syech Bersholawat.

Pengasuh Pondok Pesantren Luhur al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan ini juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terpengaruh oleh informasi-informasi yang menyesatkan, apalagi terhadap situs-situs yang sering menebar teror dan berita-berita radikalisme. (Fathoni)

Habib Syech Bersholawat

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58430/kiai-said-pemerintah-harus-tegas-terhadap-situs-situs-radikal

Habib Syech Bersholawat

Thursday, October 9, 2014

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Jombang, Habib Syech Bersholawat. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid menilai, sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dan masyarakat luas. Hal itu diungkapkan Gus Sholah saat meresmikan berdirinya Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), di Tebuireng, Sabtu (18/3).

Yayasan yang didirikan oleh belasan tokoh pesantren lintas ormas, cendekiawan lintas kampus, dan beberapa pengusaha muslim tersebut dimaksudkan untuk menguatkan peran pesantren dalam tiga ranah. Yaitu, pesantren sebagai benteng pembangunan karakter, pembangunan ekonomi umat, dan salah satu pilar kekuatan kepemimpinan bangsa.

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Dalam sambutannya, Gus Sholah yang ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pembina YP3I mengulas peran pesantren dan ulama dalam sejarah perjalanan bangsa. "Kalau tidak ada kiai dan pesantren, maka patriotisme warga Nusantara --yang kemudian menjadi bangsa Indonesia-- akan hancur berantakan," ungkap Gus Sholah mengutip catatan Douwes Dekker.

Menurut Gus Sholah, harus diakui bahwa kalangan di luar pesantren adalah kelompok yang mulai menumbuhkan rasa kebangsaan dalam Kongres Pemuda II pada 1928. "(Tapi) nasionalisme yang mereka usung adalah nasionalisme yang tidak memberi tempat memadai bagi sesuatu yang berbau keislaman," ujarnya di hadapan ratusan kiai yang memenuhi Aula H. Bachir Pesantren Tebuireng.

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini kemudian mengulas upaya-upaya peminggiran Islam dalam catatan sejarah. "Dalam buku berjudul The Idea of Indonesia, A History karya RE Elson, tidak ada tempat bagi Islam. Nama KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan dan H Agus Salim tidak tertulis dalam buku itu. Buku karya Ricklefs juga bernada sama. Yang tertulis hanya nama HOS Tjokroaminoto," tandasnya

Pada saat itu, imbuh Gus Sholah, pandangan kalangan luar terhadap pesantren dapat disimpulkan dari pidato Bung Karno saat mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari IAIN Ciputat pada 1964. Dalam pidato tanpa teks, Bung Karno mengkritik pesantren dengan menyebutnya sebagai gudang besar yang tidak punya pintu dan jendela, sehingga terasa pengap dan apek.

Terhadap penilaian tersebut, Gus Sholah lalu mengutip pendapat Menteri Agama saat itu. "Menurut KH Saifuddin Zuhri (Menag saat itu), yang menganggap bahwa pesantren tidak punya jendela dan pintu adalah mereka yang tidak tahu di mana letak pintu dan jendela (pesantren) itu," tegasnya, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Terkait tantangan ke depan, Gus Sholah melihat bahwa potensi pesantren dalam pendidikan amat besar, tetapi belum termanfaatkan dengan baik. "Ada potensi lain yang bisa dimanfaatkan tapi hampir belum tersentuh, yaitu dalam aspek ekonomi. Inilah salah satu potensi yang akan menjadi bidang garapan dari YP3I dan pihak lain," tandas lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Potensi lain yang dimiliki pesantren adalah ajaran wasatiyah (moderatisme) yang diajarkan sejak awal penyebaran Islam di wilayah nusantara. "Islam rahmatan lil alamin yang membuat Islam dan paham kebangsaan (Indonesia) bisa terpadu dan tidak memicu konflik, seperti di banyak negara Timur Tengah," tandasnya.

Di akhir pidatonya, Gus Sholah menyoroti hubungan Islam dan negara yang mulai terganggu sejak 2016. Baik karena kasus Al-Maidah maupun adanya anggapan bahwa pemerintah memberi angin kepada keluarga PKI dan yang dianggap. "Muncul anggapan, kalau tidak memilih kepala daerah (dan mungkin kepala negara) nonmuslim, maka keindonesiaan, kebinekaan dan kepancasilaan kita diragukan," pungkasnya.

Selain diisi orasi Gus Sholah, deklarasi YP3I juga dimeriahkan dengan seminar yang dihadiri oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Haddad dan Sekjen Kementerian Agama Nur Syam. Juga pameran produk unggulan dari berbagai pesantren di Indonesia.

Beberapa kiai dan cendekiawan terkemuka yang tampak hadir antara lain Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Sholeh Qosim, Imam Besar Masjid Al-Akbar KH Ahmad Zahro, pengurus Masjid Istiqlal KH Muzammil Basuni, Pengasuh Pesantren Darunnajah Jakarta Shofwan Manaf dan Rektor Universitas Darussalam Gontor KH Fathullah Amal Zarkasyi. Juga, Ketua Umum YP3I Marzuki Alie dan Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Heppy Trenggono. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76274/gus-sholah-tanpa-kiai-dan-pesantren-indonesia-hancur-berantakan

Habib Syech Bersholawat

Thursday, June 5, 2014

Lesbumi Gelar Peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga di Yogyakarta

Jakarta, Habib Syech Bersholawat. Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU menggelar Peringatan ke-500 Sunan Kalijaga pada Rabu-Jumat, 12-14 April 2017. Ketua panitia pelaksana M Jadul Maula mengungkapkan acara diawali dengan ajang Silaturrahim Budayawan LESBUMI NU dari tingkat PC dan PW.

Silaturahim dilangsungkan di Pondok Pesantren Kaliopak, Jl. Wonosari km 11, Klenggotan RT 04 Srimulyo Piyungan Bantul, Yogyakarta. Silaturahim ini juga dalam rangka menyelaraskan kinerja berorganisasi dan juga mensosialisasikan, saling urun rembug tentang implementasi nyata strategi kebudayaan Lesbumi PBNU sebagai hasil Rakernas tahun lalu yang di beri nama SAPTAWIKRAMA, ungkap Kiai Jadul, Selasa (11/4).

Lesbumi Gelar Peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga di Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Gelar Peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga di Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)


Lesbumi Gelar Peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga di Yogyakarta

Pengasuh Pesantren Kaliopak dan sekaligus Wakil Ketua Lesbumi PBNU ini menambahkan gerakan budaya yang dilakukan elemen Lesbumi di daerah masing-masing diharapkan menjadi masukan bersama dan dikonsolidasikan dalam diskusi, dialog dan urun rembug, sehingga lebih terlihat benang merah pergerakan seni budaya Lesbumi.

Habib Syech Bersholawat

Strategi budaya Lesbumi PBNU yang dikenal sebagai Al-Qoid As-Sabah atau SAPTAWIKRAMA nantinya akan disosialisasikan lebih luas ke seluruh jaringan Lesbumi di tingkat PW/PC pada khususnya, dan nahdlyin pada umumnya, lanjut Kiai Jadul.

Selain silaturahim, kegiatan yang bekerjasama dengan PWNU DI Yogyakarta dan Universitas Nahldatul Ulama (UNU) Yogyakarta, dirangkai dengan mujahadah dan khataman Al-Quran, seminar nasional, workshop upacara adat desa, gelar ragam seni tradisi dan kontemporer.

Habib Syech Bersholawat

Selain itu juga akan dilakukan pengobatan tradisional, bazaar sembako murah, pagelaran wayang kulit, lomba quote instagram dan penulisan esai, melukis sketsa bersama, orasi Kebudayaan, serta tausiyah kebangsaan.

Kegiatan-kegiatan tersebut menempati lokasi di Pesantren Budaya Kaliopak dan Kompleks UNU Yogyakarta.

Kiai Jadul menyebut peringatan hari lahir Sunan Kalijaga menjadi penting karena Sunan Kalijaga yang mempunyai nama asli Raden Sahid termasuk figur penting dalam sejarah pembentukan karakter arif umat Islam Nusantara, khususnya di Tanah Jawa, yang berwajah budaya, liat-lentur, toleran, berkeadilan, dan berkeseimbangan.

Sebagai anggota dari Walisongo, Sunan Kalijaga adalah arsitek budaya Islam Jawi (Nusantara), dan peletak dasar ideologi pendirian Kesultanan Mataram. Tidak hanya itu, beliau adalah tokoh terpenting lintas-generasi yang menjaga proses krusial transisi kerajaan-kerajaan nusantara: Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram (Islam), tegas Kiai Jadul.

Di samping itu, tumbuh sebagai tokoh ruhani yang mumpuni, Sunan Kalijaga adalah juga seniman dengan penguasaan khazanah budaya yang mendalam, dan memiliki proyeksi politik kebudayaan yang berkarakter. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76940/lesbumi-gelar-peringatan-500-tahun-sunan-kalijaga-di-yogyakarta

Thursday, April 10, 2014

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia

Beijing, Habib Syech BersholawatPengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memenuhi undangan dari Komunitas Muslim Tiongkok. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama rombongan disambut hangat Kepala Direktori Urusan Agama Pemerintah Tiongkok Wung Zuoan di kantornya di Beijing, Rabu (20/4)

Wung Zuoan mengaku sangat tertarik dengan Islam di Indonesia khususnya NU. "Kami salut dengan perkembangan Islam di Indonesia yang dikenal sebagai Islam yang ramah, toleran dan moderat. Tentunya NU sebagai ormas Islam terbesar mempunyai peranan yang sangat penting. Kami sangat tertarik untuk belajar dari Islam di Indonesia dan juga kepada NU," pungkasnya.

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia

"Hubungan Islam Tiongkok dan Indonesia yang telah lama bersentuhan diawali ketika datangnya Laksamana Cheng Ho ke Nusantara dengan membawa pasukan Muslim, yang kemudian membangun kota Semarang," kata Kang Said, sapaan akrab ketum PBNU.

Habib Syech Bersholawat

PBNU mendorong agama Islam dapat berkembang pesat di Tiongkok. Menurutnya, ada persamaan pandangan antara Indonesia dan Tiongkok bahwa Islam agama yang damai, model Islam seperti ini yang harus dijaga dan dilestarikan.

Habib Syech Bersholawat

Kang Said juga menyinggung soal munculnya ekstremisme. Fenomena tersebut, katanya, menyebar ke mana-mana dan mesti diwaspadai seberapa pun kecilnya. Dan salah satu cara agar Islam tetap moderat dan tidak ekstrim adalah dengan jalan pendidikan," jelas Kang Said

KH Said Aqil Siroj juga berharap konflik berdarah yang terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman tidak sampai merembet ke Indonesia dan Tiongkok. Ia berdoa agar kerusuhan itu segera berakhir. Mungkin kita merasa perlu adanya tukar menukar pandangan seperti ini, untuk menyamakan persepsi, demi terwujudnya Islam yang damai, moderat, toleran, antiradikalisme dan terorisme," tuturnya

Dalam kesempatan ini PBNU mengundang ulama Tiongkok untuk hadir dalam acara International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diinisiasi PBNU. Forum internasional ini akan diadakan 5-9 Mei 2016 di Jakarta Convention Center (JCC). Rencananya, acara tersebut akan dihadiri oleh sekitar 100 pemimpin negara dan organisasi Islam dari seluruh dunia serta para pengurus NU dari tingkat wilayah. (Junaidi/Mahbib)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67479/tiongkok-mengaku-salut-dengan-islam-moderat-di-indonesia

Habib Syech Bersholawat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock