Showing posts with label Madrasah. Show all posts
Showing posts with label Madrasah. Show all posts

Sunday, February 19, 2017

Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU

Blitar, Habib Syech Bersholawat. Lailatul Ijtima yang diselenggarakan MWCNU Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu malam (27/7) berlangsung beda dengan kegiatan serupa sebelumnya. Setelah istighotsah yang dipimpin oleh KH Dimyati Zaini, biasanya langsung taushiyah, tapi tadi malam tidak.

Taushiyah pada kegiatan yang dirangkai Halal bihalal tersebut diganti dengan paparan napak tilas sejarah para pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama. Para pendiri tersebut mulai dari KH Hasyim Asyary, KH Bisri Sansuri, KH Wahab Hasbullah, KH Asnawi, KH Ridwan. Tidak ketinggalan juga sejarah pengurus PWNU Jawa Timur.

Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Cikut Paparkan Sejarah Islam dan Tokoh NU

Uraian sejarah disampaikan oleh Musytasar MWCNU Udanawu KH Syaikuddin Rohman. Menurut Kiai Cikut, panggilan akrabnya, perjalanan dakwah Islam mulai dari Nabi Muhammad SAW dan sahabat Nabi hingga Wali Songo berlangsung sekitar 7 abad (700 tahun). Sementara dakwah dari Wali Songo hingga NU berdiri dan saat ini, juga sekitar 7abad (700 tahun) lamanya.

Jadi perjalanan agama Islam mulai Nabi Muhammad SAW hingga sampai ke kita semua ini sekitar 14 abad atau 1400 tahun. Sedangkan NU umurnya hingga saat ini hampir seabad, ungkap Kiai Cikut.

Habib Syech Bersholawat

Cerita Kiai Syaikuddin Rohman tentang tokoh-tokoh ulama NU ini sangat menarik para hadirin peserta lailatul ijtima yang terdiri para pengurus ranting se-Udanawu, Muslimat NU, Ansor dan Fatayat NU. Karena, kiai Cikut tidak hanya bercerita saja. Namun didukung dan dilengkapi dengan audio visual gambar-gambar para kiai dan ulama melalui proyektor. Sehingga menambah gayeng cerita yang dipaparkan. Ini gambar Hadrotussyekh KH Hasyim Asyari. Mbah Hasyim ini kakeknya Gus Dur, ungkap Kiai Cikut.

Habib Syech Bersholawat

Ini, lanjutnya, gambar KH Bisri Sansuri. Ini juga kakeknya Gus Dur. Kalau Mbah Hasyim itu kakek dari ayahnya Gus Dur. Mbah Bisri ini kakek dari ibu Gus Dur karena Mbah Hasyim dari Tebuireng dan Mbah Bisri dari Denanyar besanan, jelas Kiai Cikut.

Ia menambahkan, dengan menunjuk foto KH Wahab Hasbulloh. Menurut Kiai Cikut, Kiai Wahab ini adalah kinasih Kiai Hasyim sebab kepandaiannya. Karena Kiai Wahab orangnya alim, cerdik dan pandai, zaman Bung Karno dia diajak kemana-mana.

Mbah Wahab ini orang kecil, tapi semangat berdakwahnya luar biasa. Pernah beliau dalam kondisi sakit tidak bisa berjalan diundang ke Pondok Lirboyo.Karena tidak bisa berjalan, maka beliau dibopong untuk naik ke panggung. Ajaibnya, meski sakit, di atas podium beliau tetap lantang dalam berceramah, ungkapnya.

Semua tokoh NU Jawa Timur juga dipaparkan oleh Kiai Cikut sehingga yang hadir pada acara bulanan NU Udanawu itu gamblang.

Semoga kita para pengurus NU ini bisa meneladani model dakwah dan berjuangnya mulai Nabi Muhammad SAW hingga para pejuang NU tadi. Dan kita dapat barokah dari paparan ini, tutupnya. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70026/kiai-cikut-paparkan-sejarah-islam-dan-tokoh-nu

Habib Syech Bersholawat

Friday, October 24, 2014

Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian

Benin, Afrika, Habib Syech Bersholawat. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dakwah Islam yang berlangsung di Cotonou, Benin, Afrika pada tanggal 5 7 Agustus 2005 mengingatkan umat Islam untuk tetap menampilkan Islam sebagai agama keadilan selain agama perdamaian.

KTT Dakwah Islam tersebut juga menghasilkan sejumlah keputusan penting diantaranya perlunya umat Islam sedunia bersatu menghadapi tantangan global dengan menampilkan islam sebagai rahmat bagi semesta.

Sementara, rekomendasi KTT akan disusun strategi peradaban Islam sebagai strategi dakwah masa depan.

Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)


Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian

Konferensi berlangsung di negara yang terletak di bagian barat benua afrika itu membahas strategi dakwah terhadap tantangan global yang ditandai dengan merajalelanya berbagai bentuk dan jenis kemungkaran.

Konferensi tersebut dihadiri oleh para tokoh Islam dari berbagai negara di dunia serta anggota majelis Tertinggi Dakwah Islam Sedunia yang berpusat di Tripoli, Libya. (kcm/Die)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3378/tetap-tampilkan-islam-sebagai-agama-keadilan-dan-perdamaian

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Monday, February 24, 2014

Inilah Tiga Konsep Mencapai Marifatillah

Sumenep, Habib Syech Bersholawat. Syekh Sayyid Amin ibn Muhammad Ali adzdzhabi al-Jailani al-Hasani menjadi tamu kehormatan di Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Ahad (16/4). Syaikh Sayyid Amin merupakan keturunan ke-22 dari Syeikh Abdul Qadir al-Jailani.

Dalam kesempatan tersebut, di Masjid Jamik Annuqayah, Syaik menyampaikan tiga konsep ajarannya kepada santri. Tujuan konsep tersebut tiada lain adalah mencapai marifatillah.

Inilah Tiga Konsep Mencapai Marifatillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Tiga Konsep Mencapai Marifatillah (Sumber Gambar : Nu Online)


Inilah Tiga Konsep Mencapai Marifatillah

"Yakni, kebaikan budi, rendah hati, dan kebaikan hati. Tidak cukup hanya kita bangun malam untuk shalat dan berpuasa di siang hari," tukasnya.

Penjelasan syaikh disimak secara khidmat oleh ribuan santri. Para kiai dan pengurus Pesantren Annuqayah pun turut mendengarkan taushiyahnya dengan baik. (Hairul Anam/Mukafi Niam)

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77090/inilah-tiga-konsep-mencapai-marifatillah

Thursday, October 31, 2013

Dinilai Akan Memanipulasi Shalat Subuh, Bachtiar Natsir dan GNPF Ditolak Hadir Ansor Bangil

Habib Syech Bersholawat - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI rencananya akan melakukan aksi pengumpulan massa dengan dalih shalat subuh berjamaah di Masjid Al Falah Surabaya pada 28 Januari 2017 mendatang.

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Bangil menuding aksi tersebut memanipulasi kegiatan keagamaan untuk memecah belah keutuhan bangsa. Sebab, aksi tersebut membawa isu atas nama persatuan Islam namun tanpa memikirkan persatuan bangsa.

"Mereka tak henti-hentinya melakukan kegiatan manipulatif atas nama umat Islam, mendompleng acara ibadah yang sakral untuk menarik masyarakat muslim, padahal itu dilakukan tanpa memikirkan dampak bagi keutuhan sebuah bangsa," kata ketua PC GP Ansor Bangil, H. Saad Muafi, SH.

Dinilai Akan Memanipulasi Shalat Subuh, Bachtiar Natsir dan GNPF Ditolak Hadir Ansor Bangil - Habib Syech Bersholawat
Dinilai Akan Memanipulasi Shalat Subuh, Bachtiar Natsir dan GNPF Ditolak Hadir Ansor Bangil - Habib Syech Bersholawat


Dinilai Akan Memanipulasi Shalat Subuh, Bachtiar Natsir dan GNPF Ditolak Hadir Ansor Bangil

Gus Afi, sapaan akrab dia, meminta semua pihak khususnya PW GP Ansor Jawa Timur untuk mengambil langkah tegas membubarkan acara yang berpotensi menciderai kondusifitas Jatim. “Tidak ragu untuk menggalang aliansi menolak kedatangan Bachtiar Natsir dan GNPF di Jawa Timur,” tegasnya.

Habib Syech Bersholawat

Selain itu, dia mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan shalat subuh berjamaah di masjid masing-masing dan tidak tertipu dengan gerakan-gerakan yang menunggangi ibadah keagamaan untuk kepentingan kelompok anti Pancasila dan NKRI. [Habib Syech Bersholawat/ rus/onk]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/dinilai-akan-memanipulasi-shalat-subuh-bachtiar-natsir-dan-gnpf-ditolak-hadir-ansor-bangil.html

Thursday, September 1, 2011

Cara Berpikir Raja Sepatu yang Tolol (Refleksi Kritis Nalar Pendamba Ilusi Khilafah)

Habib Syech Bersholawat - Ini adalah kisah dan riwayat asal-usul Sepatu. Alat modern yang dimiliki hampir oleh setiap manusia yang merayap di bumi ini.

Konon, dulu ada seorang maharaja yang bodoh mengeluh kakinya sakit karena jalan kasar yang dilaluinya. Karena ia punya kekuasaan penuh mengatur kerajaan, ia memerintahkan agar seluruh negeri diberi alas kulit sapi.

Seorang pegawai rendahan istana tertawa ketika raja menyampaikan perintah itu kepadanya. "Yang Mulia, itu adalah gagasan yang gila," serunya. Gila karena tentu akan menghabiskan biaya.

Cara Berpikir Raja Sepatu yang Tolol (Refleksi Kritis Nalar Pendamba Ilusi Khilafah) - Habib Syech Bersholawat
Cara Berpikir Raja Sepatu yang Tolol (Refleksi Kritis Nalar Pendamba Ilusi Khilafah) - Habib Syech Bersholawat


Cara Berpikir Raja Sepatu yang Tolol (Refleksi Kritis Nalar Pendamba Ilusi Khilafah)

Pegawai istana itu menganggap perintah raja adalah pemborosan yang tidak perlu. "Mengapa harus mengeluarkan biaya yang sama sekali tidak perlu? Potong saja dua alas kecil dari kulit sapi untuk melindungi kaki Yang Mulia!" begitu usulnya.

Habib Syech Bersholawat

Akhirnya, karena rasional, gagasan pegawai rendahan istana itu dikerjakan oleh maharaja. Lahirlah gagasan mengenai sepatu. Banyak orang menggunakan sepatu untuk melindungi alas kakinya dari jalan kasar dan bahaya kerikil tajam jalan liar tak bertuan.

Inspirasinya, kisah di atas sebetulnya menunjukkan kepada kita bahwa orang yang sudah mengalami penerangan batin akan mengetahui bahwa untuk membuat dunia menjadi tempat bahagia adalah dengan mengubah cara berpikir, bukan mengubah dunia.

Untuk mengubah Indonesia sebagai negara yang penduduknya bahagia adalah bukan dengan mengubah Pancasila dengan khilafah, tapi mengubah cara berpikir yang tetap menjunjung persatuan dan kesatuan, agar sumber daya ekonomi negeri ini bisa terus digali dan dikembangkan. [Habib Syech Bersholawat/ab] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/cara-berpikir-raja-sepatu-yang-tolol.html

Saturday, August 27, 2011

Islami.co Buka Program Magang bagi Penulis dan Editor

Jakarta, Habib Syech Bersholawat. Situs islam ramah islami.co membuka program magang bagi mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi. Kesempatan ini memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin mendalami literasi keislaman, khususnya di dunia digital.

Pendiri Islami.co, Savic Ali menjelaskan, situs ini didedikasikan untuk menyebarluaskan informasi dan gagasan yang mendukung tumbuhnya masyarakat yang penuh toleransi dan kedamaian. Apalagi, para pegiat di dalamnya merupakan penulis-aktivis yang selama ini bergelut dalam dunia keislaman dan penyebaran islam ramah di dunia digital.

Islami.co Buka Program Magang bagi Penulis dan Editor (Sumber Gambar : Nu Online)
Islami.co Buka Program Magang bagi Penulis dan Editor (Sumber Gambar : Nu Online)


Islami.co Buka Program Magang bagi Penulis dan Editor

"Di gawangi oleh anak-anak muda lulusan pesantren, islami.co adalah bentuk counter-hegemony atas web-web yang sarat provokasi, sehingga bisa meneguhkan Islam sebagai agama yang bukan hanya rahmat bagi pemeluknya, tapi juga umat manusia pada umumnya," ujarnya di Jakarta, Rabu (15/3).

Habib Syech Bersholawat

Untuk itulah, Islami.co mengajak kepada mereka yang ingin berkontribusi terhadap penyebaran Islam ramah dan kebinekkaan di Indonesia untuk bergabung melalui program magang tersebut, dengan syarat-syarat sebagai berikut:

Usia minimal 20 tahunPernah mengenyam pendidikan pesantren/keislamanTertarik dunia digital, literasi, dan jurnalismeAkrab dengan media sosialBersedia bekerja di Jakarta

Habib Syech Bersholawat

Bagi para calon peserta magang dipersilakan mengirimkan biodata diri (curriculum vitae) ke redaksi@islami.co, dengan subjek Penulis atau Editor. Waktu pendaftaran dimulai sejak berita ini tayang sampai 31 Maret 2017.(Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76156/islamico-buka-program-magang-bagi-penulis-dan-editor

Habib Syech Bersholawat

Thursday, April 28, 2011

Benarkah Mukidi Tokoh Karangan Yahudi?

Habib Syech Bersholawat - Di tengah keramaian orang sibuk ngomongin Mukidi, ternyata masih banyak yang bertanya, siapa Mukidi itu? Kejadian itu saya alami. Kemarin malam, saya mendapatkan telpon dari teman lama yang cuma pengen tanya ihwal sosok Mukidi—karena saking penasarannya. Kata dia, di mana-mana orang ngomongin Mukidi. Gak WA, Facebook, Twitter, Instagram, BBM, bahkan hampir di seluruh platform media sosial; semua serba Mukidi. Saya pun tertawa.

Kemudian saya jelaskan. Bahwa Mukidi itu seperti halnya cinta dan Tuhan. Bisa dirasakan kekuatannya, tetapi tidak kelihatan wujud aslinya. Karena ada yang mengatakan bahwa Mukidi itu berasal dari Madura. Versi lain bilang, dia orang Betawi. Di samping ada yang mengatakan Mukidi itu anak Cilacap, namun arek Suroboyoan juga mengakui.

Benarkah Mukidi Tokoh Karangan Yahudi? - Habib Syech Bersholawat
Benarkah Mukidi Tokoh Karangan Yahudi? - Habib Syech Bersholawat


Benarkah Mukidi Tokoh Karangan Yahudi?

Bahkan, TKI yang sekarang menyambut rombongan jamaah haji pun mengatakan kalau Mukidi sekarang mukim di Saudi Arabia. Mengingat humor Mukidi juga ada yang versi Arab. Lalu, siapakah Mukidi itu? Yang jelas, pesan viral Mukidi soal humor kocak, nadanya sama. Membuat orang tertawa. Dan, hal terkonyol lain, ada yang mengatakan bahwa Mukidi itu berasal dari bahasa Mesir Kuno, yang berarti “Aku Yahudi”.

Bayangkan, nada sarkasme kata Yahudi—yang biasanya buat njelek-njelekin kelompok tertentu dengan ucapan, “Oh dasar Yahudi, agen Yahudi antek Amerika, Yahudi liberal kafir,” bisa-bisanya dibuat guyonan dalam konteks Mukidi.

Saya pun dalam singkatnya ingin mengatakan bahwa Mukidi ini orangnya pasti rahmatan lil ‘alamin. Tidak gampang ngamukan dan marah. Bila namanya dibuat bahan guyonan, nggak nesu, bahkan ikhlas, namanya dipakai demi membuat orang lain bahagia.

Habib Syech Bersholawat

Uniknya lagi, belakangan ini, ada yang bilang bahwa nama Mukidi itu aslinya adalah Mukhidi, yang berasal dari kata Wakhidi. Dalam bahasa Arab, Wakhid berarti satu, tunggal, dan sendirian alias jomblo. Loh, kenapa kok tiba-tiba Mukidi jadi berarti jomblo? Teman saya yang nelpon tadi sepertinya tidak terima.

Saya pun mencoba meniru Mukidi, dengan penuh kesabaran, saya jelaskan. Nah, oleh sebagian masyarakat Jawa, masih banyak yang tidak fasih melafadzkan huruf kha’, tetapi diucapkan dengan huruf ‘kaf’. Seperti orang kesulitan mengucapkan kalimat hamdalah. Bukan “Alhamdulillah” yang diucapkan, tetapi “Alkamdulillah atau Ngalkamdulillah”. “Alfatikhah”, tetapi diucapkan “Alpatekah”. “Muhammad” jadi “Mukammat”.

Habib Syech Bersholawat

Tidak aneh misal banyak kita jumpa, nama Abdul Haris, tetapi dipanggil “Dul Karis”. Abdul Hamid, dipanggil “Dul Kamid”, Nama “Hamzah”, dipanggilnya Kang “Kamzah atau Komyah”. Lalu, jangan-jangan Mukidi itu penggerak Islam Nusantara?”Tanya temen saya. Saya pun tertawa. Hahaha.

Sejarah Mukidi

Sejarah Mukidi Menurut karangan saya, konon, dulu Ayah Mukidi adalah seorang pejuang, aktivis, sekaligus ilmuan. Ia tengah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang jomblo absurd melankoli plegmatis.

Ayah Mukidi meyakini bahwa revolusi akan tercipta ketika tidak ada perempuan di sampingnya, alias jomblo. Baginya, perempuan itu penghambat revolusi. Selain itu. Mukidi adalah seorang pembaca sejarah yang baik. Dia ingin meniru suluknya Imam Ath-Thabari (224-310 H), Imam Nawawi (631-676H), Ibnu Taimiyah (661-728 H), Ibnu Khasyab (492-567 H), dan sederet ulama’ lainnya yang memilih hidup njomblo.

Ayah Mukidi ingin mewakafkan dirinya untuk kepentingan umat, dan tidak hanya dimiliki oleh seorang semata. Namun, setelah Ayah Mukidi diledek sama dedek emesh masih belia yang menikah dini, kemudian suka ngasih training motivasi indahnya nikah di usia mudia itu, seakan hati Ayah Mukidi terbakar, tidak terima. Yang mana di usianya yang sudah menginjak kepala tiga tidak bisa nyaingi dedek emesh tersebut. Nggak lucu kalau misal keliling-keliling, dari satu seminar ke seminar yang lain, tapi materinya adalah motivasi indahnya jomblo. Hidup berkah tidak menikah.

Selain itu, ada sebuah tekanan dari kehidupan Ayah Mukidi, yakni menunggu masa ‘iddah Dik Dian Pelangi. Nah, atas dasar itu, akhirnya Ayah Mukidi memberanikan diri untuk mengakhiri masa deadline kejombloannya. Ndelalah kok Tuhan pun memberi amnesti kepada Ayah Mukidi agar segera menikah.

Singkat cerita, didapatkanlah seorang santri putri ngehits yang ia kenal lewat instagram hasil dari kalah debat mengenai persoalan agama. Apalagi santri putri itu bisa mengislamkan tetangga-tetangganya. Ayah Mukidi lalu jatuh cinta. Ciye ciye….

Kemudian, Ayah Mukidi bernadzar, bila di suatu saat nanti ia dititipi oleh Tuhan seorang anak laki-laki, maka akan diberi nama Mukhidi. Nah, nama “Mukhidi” adalah singkatan dari “Mukhammadi”. Ayah Mukidi berharap kelak nanti anaknya bisa menjadi penerus perjuangan Nabi Muhammad. Dengan menebarkan benih rahmat dan kasih sayang. Bukan benih kekerasan dan kebencian.

Ayah Mukidi ingin kelak anaknya bisa menjadi tauladan bagi banyak orang karena sifat sayangnya. Karena dulu ketika di pesantren, Ayah Mukidi pernah mendapatkan petuah dari gurunya yang dirujuk dari sebuah hadis Nabi Saw,.“Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”.

Alhamdulillah, apa yang diinginkan oleh Ayah Mukidi terkabulkan. Ayah Mukhidi kini sudah tua. Melihat sosok Mukhidi, ayahnya pun senang, riang gembira. Ternyata namanya yang tafa’ulan kepada Kanjeng Nabi Saw (singkatan dari Mukhammadi) itu menjadi nyata.

Sebagai seorang beragama, wajah Islam yang ditampilkan oleh Mukidi penuh dengan humor, guyonan. Tidak tegang dan tidak gampang ngamukan. Malahan, siapapun pasti tertawa terpingkal membaca humor Mukidi. Salah satu humor Mukidi terkocak, menurut saya yang ini; judulnya “Surga atau Neraka”.

Bu Guru : “Anak-anak. Siapa yang mau masuk surga?”.

Anak-anak: (Dengan serempak) “Sayaa! Mukidi: (Lagi duduk di belakang hanya diam saja).

Bu Guru : “Siapa yang mau masuk neraka?”

Anak-anak: “Tidak mauu!” Mukidi: (Tetap diam saja).

Bu guru : (Mendekat) “Mukidi, kamu mau masuk surga atau neraka?”

Mukidi : “Tidak kedua-duanya Bu Guru. ”Bu Guru: “Kenapa?”

Mukidi : “Habis waktu ayah saya mau meninggal, beliau berpesan. Mukidi, apapun yang terjadi kamu harus masuk tentara.”

Oleh banyak kalangan, Mukidi bisa diterima siapapun. Baik kalangan marginal, tukang agen LPG, ibu-ibu Kendeng yang tengah berjuang agar wilayahnya tidak dicaplok Semen, hingga ormas yang hobinya sweping sembari teriak-teriak Allahhu Akbar pun disambangi oleh Mukidi.

Mukidi tidak lagi mengenal sekat kawan atau lawan. Dalam kehidupan Mukidi, yang diketahuinya adalah humor, cinta, dan Tuhan. Makanya ketika terjadi aksi pembubaran diskusi buku atau film, serta pembakaran tempat ibadah, ataupun pembumihangusan buku-buku yang dianggap ‘nakal’, Mukidi tidak bisa berfikir.

Kenapa kejadian itu selalu berulang-ulang, sepertihalnya pertanyaan; siapakah Mukidi sebenarnya? [Habib Syech Bersholawat]

Muhammad Autad An Nasher, penulis yang sekaligus sahabat Mukidi ini bisa dijumpai lewat akun twitter @autad

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/benarkah-mukidi-tokoh-karangan-yahudi.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock