Showing posts with label Pustaka. Show all posts
Showing posts with label Pustaka. Show all posts

Monday, October 10, 2016

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI

Jombang, Habib Syech Bersholawat. Setelah mengikuti apel dan ikrar nusantara bersatu di Alun-alun Jombang bersama ribuan warga setempat, seluruh Pengurus Ansor dan Banser Jombang bergegas menggelar istighotsah dan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara di Masjid Baitul Mukminin, Rabu (30/11).

Kegiatan ini diawali dengan sholat dhuha bersama. Selenjutnya, mereka berikrar untuk memperkuat komitmen terhadap Negara Republik Indonesia (NKRI) serta Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara.

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)


9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI

"Kita nyatakan bahwa NKRI sudah harga mati, ideologi kita adalah Pancasila yang jaya, konstitusi kita adalah UUD 1945 dan tak bisa dikesampingkan adalah kebhinnekaan," kata Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang, H Zulfikar Damam Ikhwanto.

Dalam ikrar tersebut terdapat sembilan butir yang dibacakan secara serentak dan dipimpin langsung oleh Gus Antok, sapaan akrab Zulfikar Damam Ikhwanto. Tampak segenap Pengurus Ansor dan Banser menghayati setiap poin ikrar tersebut.

Habib Syech Bersholawat

Adapun sembilan poin ikrar sebagai berikut :

Habib Syech Bersholawat

1. Berpegang teguh pada aqidah, ajaran, nilai dan tradisi Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyyah.

2. Bertanah air satu tanah air Indonesia, berideologi satu ideologi Pancasila, berkonstitusi satu Undang Undang Dasar 1945, dan bersemboyan satu semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Senantiasa siap siaga membela Tanah Air dan Bangsa Indonesia, mempertahankan kemerdekaan, persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.

4. Melawan setiap usaha yang membahayakan NKRI dan Pancasila serta melawan setiap ideologi yang bertentangan dengan semangat proklamasi Republik Indonesia dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wujud bela negara.

5. Menghormati dan melaksanakan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Indonesia dengan penuh tanggung jawab dan sebaik-baiknya.

6. Menghormati dan Menghargai sesama Warga Negara Indonesia serta menjunjung tinggi norma agama, sosial dan hukum.

7. Menghargai dan menghormati para ulama yang telah berjasa besar terhadap negara, bangsa dan agama, serta melestarikan keteladanannya.

8. Menciptakan dan memelihara rasa aman, tertib, nyaman, tentram dan humanis, demi terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif.

9. Turut berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir-batin yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

(Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73397/9-ikrar-ansor-dan-banser-jombang-untuk-perkuat-komitmen-nkri

Habib Syech Bersholawat

Monday, July 4, 2016

Usai Isi Materi, Dua Menteri Mampir ke Pesantren Al-Mizan

Jatiwangi, Habib Syech Bersholawat. Di sela-sela selesai menyampaiakan materi pada Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU tahun 2012 di Pesantren Kempek, Cirebon, dua Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yakni Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Bapak H Ahmad Helmy Faishal Zaini dan Menteri Negara Perumahan Rakyat H Djan Faridz menyempatkan hadir ke Persantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, Sabtu (15/9/12).

Didampingi Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (PP LPNU). H Muhyidin Arubusman dan Kiai Kharismatik asal Jawa Timur Pengasuh Pesantren Bhumi Shalawat, Sidoarjo, KH Agus Ali Mashuri, kedua menteri tersebut sampai ke Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi sekira jam 16.15 Wib.

Usai Isi Materi, Dua Menteri Mampir ke Pesantren Al-Mizan (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Isi Materi, Dua Menteri Mampir ke Pesantren Al-Mizan (Sumber Gambar : Nu Online)


Usai Isi Materi, Dua Menteri Mampir ke Pesantren Al-Mizan

Sesampainya di Pesantren Al-Mizan, rombongan langsung menuju rumah pengasuh pesantren Al-Mizan dan disambut oleh Pegasuh Pesantren KH Maman Imanulhaq beserta para pengurus Yayasan Al-Mizan Langensari.

Habib Syech Bersholawat

Selain bersilaturrahim, rombongan juga menikmati makan sore khas rumah makan Langensari yaitu sop kikil.

Habib Syech Bersholawat

Sop kikilnya enak sekali, komentar Menteri Negara Perumahan Rakyat, Djan Faridz pada saat makan bersama dengan menteri PDT di rumah Pengasuh Pesantren Al-Mizan.

Selesai silaturrahim, kunjungan menteri dikahiri dengan doa yang dipimpin langsung oleh KH Agus Ali Mashuri dan foto bersama santri Al-Mizan.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor : M Zaenal Muhyidin

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39774/usai-isi-materi-dua-menteri-mampir-ke-pesantren-al-mizan

Habib Syech Bersholawat

Friday, October 24, 2014

Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian

Benin, Afrika, Habib Syech Bersholawat. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dakwah Islam yang berlangsung di Cotonou, Benin, Afrika pada tanggal 5 7 Agustus 2005 mengingatkan umat Islam untuk tetap menampilkan Islam sebagai agama keadilan selain agama perdamaian.

KTT Dakwah Islam tersebut juga menghasilkan sejumlah keputusan penting diantaranya perlunya umat Islam sedunia bersatu menghadapi tantangan global dengan menampilkan islam sebagai rahmat bagi semesta.

Sementara, rekomendasi KTT akan disusun strategi peradaban Islam sebagai strategi dakwah masa depan.

Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)


Tetap Tampilkan Islam Sebagai Agama Keadilan dan Perdamaian

Konferensi berlangsung di negara yang terletak di bagian barat benua afrika itu membahas strategi dakwah terhadap tantangan global yang ditandai dengan merajalelanya berbagai bentuk dan jenis kemungkaran.

Konferensi tersebut dihadiri oleh para tokoh Islam dari berbagai negara di dunia serta anggota majelis Tertinggi Dakwah Islam Sedunia yang berpusat di Tripoli, Libya. (kcm/Die)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3378/tetap-tampilkan-islam-sebagai-agama-keadilan-dan-perdamaian

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Habib Syech Bersholawat

Tuesday, November 19, 2013

Agar Selamat dalam Urusan Agama, Dunia dan Akhirat

Ribuan umat senantiasa datang meminta nasihat kepada Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Diantara nasihat yang disampaikan beliau adalah seseorang itu harus memegang teguh beberapa prinsip agar mendapatkan keselamatan di dalam agama, dunia dan akhirat insya Allah.

Pertama, pegang teguh teladan salaf shalihin baik itu thariqahnya, akhlaknya, maupun amal shalehnya. Pegang teguh dengan kuat dan mantap. Walaupun sampai sulit dan kere (miskin) tetaplah teguh memegang teladan Salaf Shalihin. Gigit kuat dengan gerahammu, jangan dilepas jika kamu ingin selamat dan mendapat ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua, jadikanlah keimanan sebagai Imam bukan akal yang menjadi ujung tombaknya. Hati-hati di akhir zaman ini akan dan sudah banyak muncul paham dan orang-orang yang lebih mengedepankan akal-rasio-logika dibandingkan imannya. Seharusnya iman menjadi imamnya, sedangkan akal dan logika menjadi makmumnya, mengikuti iman. Tinggalkan pendapat orang-orang yang mengedapankan akalnya dibanding imannya. Percuma dan sia-sia waktumu jika menanggapi orang-orang yang demikian, kamu akan rugi dunia akhirat. Karena bagaimana mungkin akal manusia bisa menerima seluruh kebesaran khazanah kerajaan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Hanya keimanan lah yang dapat menerima kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang ketiga, ziarah shalihin atau mengunjungi orang-orang shaleh baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup, dan kuatkan tali ikatan silaturahim. Berziarah (mengunjungi) kaum shalihin jangan hanya ketika ada maunya, kalau ada perlunya saja. Hal itu baik tidak terlarang, tetapi kurang kemanfaatannya untuk jangka panjang. Hanya untuk kebutuhan manfaat sesaat belaka, sungguh sangat disayangkan. Tetapi alangkah baiknya kita berziarah shalihin itu karena mahabbah ilaa mahbub, kecintaan kepada yang dicintai. Kalau hal ini dijalin dengan baik maka ia akan mendapat limpahan madad (pertolongan), sirr asrar (rahasia) dan jaah (essence, intisari) dari ziarahnya. Dan sering silaturahmi itu menimbulkan kecintaan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang yang menjalin hubungan silaturahmi, sehingga rahmat dan berkah serta maghfirah Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadanya. Jauh dari bala’, musibah, penyakit dan diberi kelancaran rezeki. Insya Allah.

Yang keempat, jangan suka membeda-bedakan . Ini penyakit yang timbul dan tumbuh di akhir zaman ini. Jangan beda-bedakan itu suku apa, kabilah apa, bangsa apa, partainya apa, thariqahnya apa, madzhabnya apa dan sebagainya. Itu urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita ini manusia, hambaNya, makhluk ciptaanNya, jangan suka usil ikut campur urusannya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya sekarang berbagai macam bala’ dan musibah bertubi-tubi datang karena ulah manusia itu sendiri. Yang suka sok tahu, sok jago, sok suci, sok pintar. Bukan kembali kepada Allah dan RasulNya, malah ikut campur urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana lagi Maha Berkehendak, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan menghukumi, menentukan secara mutlak kelak di pengadilan Ilahi Yang Maha Adil bagi seluruh makhlukNya. Segala sesuatu misal pengadilan itu semua adalah bentuk ikhtiar manusia belaka di muka bumi ini secara syariat. Ketentuan yang mutlak benar dan salah adalah di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di Hari Kemudian. Keyakinan dan keimanan ini harus ditanam kuat dan kokoh dilubuk sanubari keimanan kita.

Agar Selamat dalam Urusan Agama, Dunia dan Akhirat - Habib Syech Bersholawat
Agar Selamat dalam Urusan Agama, Dunia dan Akhirat - Habib Syech Bersholawat


Agar Selamat dalam Urusan Agama, Dunia dan Akhirat

Dan yang terakhir atau kelima, jangan tinggalkan setiap harinya untuk membaca Al-Qur’an, shalawat kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, taat kepada guru/ syaikh/ mursyid, dan birul walidain (berbakti kepada orangtua). Jadikan hal ini semua awradmu. Jangan tinggal hal tersebut. Membaca Al-Qur’an walau satu ayat setiap harinya. Memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Jadikan hal ini semua awrad (wirid yang dilakukan istiqomah) bagi diri kita demi menggapai kebahagian dan keselamatan di dalam agama, dunia dan akhirat.

Cukup sudah lima hal ini kamu pegang erat-erat, Insya Allah Taufik, Hidayah dan Inayah Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpah dan turun kepadamu.

Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah

Habib Syech Bersholawat

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/agar-selamat-dalam-urusan-agama-dunia.html

Habib Syech Bersholawat

Monday, August 26, 2013

MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya

Seorang guru tidak hanya dituntut untuk mencetak peserta didik yang mempunyai kecerdasan sosial, tetapi juga kecerdasan spiritual. Begitu itu juga dengan keterampilan. Guru atau madrasah juga harus mampu mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual berbasis budaya dalam diri anak didiknya. Hal itulah yang dilakukan oleh Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Jakarta.

Madrasah yang berlokasi di Jalan Karet Pedurenan Masjid, Setia Budi, Jakarta Selatan ini menggulirkan berbagai program untuk mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual kepada peserta didik. Program ini merupakan program yang cukup komprehensif untuk mewujudkan kecerdasan peserta didik dari berbagai aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)


MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya

Program-program tersebut diantaranya adalah shalat berjamaah mingguan yang dilakukan setiap hari Jumat di ruang ibadah yang sangat memadai, juga hapalan surat-surat pendek al-Quran. Selain itu, ada keterampilan seni musik seperti marawis, qasidah, angklung, pianika, dan drumband. Kemudian ada seni melukis, kegiatan muhadloroh, pramuka. Kemudian untuk mengembangkan keterampilan peserta didik dalam dunia IT, madrasah juga menyediakan laboratorium komputer berbasis internet dan ruang audio visual.

Habib Syech Bersholawat

Budaya shalat berjamaah harus ditanamkan sejak dini pada generasi muda. Karena pada shalat berjamaah terkandung nilai kedisiplinan, ketertiban, dan kebersamaan. Seni musik seperti marawis juga dikembangkan guna melestarikan tradisi musik masyarakat Betawi, selain tari ondel-ondel yang juga diajarkan. Agar peserta didik juga mengenal kebudayaan lain, madrasah juga mengajarkan seni musik angklung, beserta keterampilan lain yang telah dijelaskan di atas.

Bagi MI Darul Ulum, bukan sekadar peserta didik mampu melalukan semua keterampilan tersebut, melainkan menghayati makna yang terkandung dari semua keterampilan berbasis budaya tersebut. Hal ini dilakukan agar kelak peserta didik juga mempunyai semangat (ghirah) untuk senantiasa menjaga, merawat, dan melestarikan berbagai keterampilan berbasis budaya tersebut.

Habib Syech Bersholawat

Kepala MI Darul Ulum, Titin Supriatin, SPd mengatakan, bahwa dengan mengembangkan berbagai keterampilan, madrasah semakin diminati oleh masyarakat. Dalam penerimaan peserta didik baru awal Juni 2015 lalu, Madrasah Darul Ulum telah ditutup sejak awal karena kursi telah penuh. Prinsip Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah semakin memasyarakat dengan catatan sebuah madrasah mengembangkan diri, ujar Titin.

Program tersebut, juga disampaikan Titin, karena MI Darul Ulum memiliki visi, yaitu Menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berakhlak mulia. Untuk mewujudkan visi dan misi mulia, MI Darul Ulum merekrut guru-guru unggul sebagai staf pengajarnya. Hal ini bukan berarti menafikan sarjana-sarjana pendidikan yang masih mempunyai pengalaman minim, melainkan para sarjana yang senantiasa mau belajar mengembangkan pendidikan madrasah.

Sejarah singkat Madrasah Darul Ulum

Yayasan Darul Ulum Al-Islamiyah berdiri tahun 1976 di Jakarta. Didirikan di atas tanah wakaf kurang lebih 1.000 meter yang diatasnamakan Alm Haji Basir (1908-1971). Perintis pendirian yayasan adalah pasangan suami istri KH M Machfuz Basir, putera alm H Basir dan istrinya, H Chodidjah Djumali. Sepulang dari belajar di Mesir, pasangan ini giat mengadakan pengajian dan majelis taklim, baik di kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua, di sekitar kampung Pedurenan Masjid, Kelurahan Karet Kuningan Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan.

Cikal bakalnya di tahun 1972 hanya berbentuk pengajian di dalam rumah kediaman warisan orang tua yang dilaksanakan setiap hari, baik pagi, sore maupun malam. Semakin hari jumlah murid semakin banyak dan tidak tertampung lagi. Sehingga di tahun 1976 didirikanlah gedung madrasah dengan memanfaatkan bahan-bahan bangunan bekas bongkaran masjid yang terkena penggusuran.

Saat itu kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sore hari, mengingat pagi hari para siswa sekolah di SD. Namun seiring berjalannya waktu, pengajian sore hari itu diubah menjadi madrasah formal yang menekankan pada materi keagamaan.

Setelah meluluskan angkatan pertama Madrasah Ibtidaiyah (MI) di tahun 1982, Yayasan Darul-Ulum kemudian mendirikan pula jenjang berikutnya, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs). Menyusul kemudian mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 1985.

Selain pendidikan formal, pembinaan keagamaan lewat berbagai majelis taklim juga dikembangkan. Majelis taklim khusus buat laki-laki diadakan tiap malam Kamis dan untuk ibu-ibu diadakan tiap hari Sabtu pagi. Selain yang bersifat pendidikan dan majelis taklim, Yayasan Darul Ulum juga memiliki aktivitas di bidang sosial dan ekonomi, yang fokus pada penyantunan anak-anak yatim, para janda, dhuafa, dan juga muallaf.

Khusus MI Darul Ulum, sampai tahun 2015 ini telah mencetak 33 angkatan. Terakhir acara Haflah Akhirussanah dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2015. Saat ini Ketua Yayasan Darul Ulum dijabat oleh H Ramli Rahmat. (Fathoni)

Foto: Para siswa MI Darul Ulum saat belajar memainkan alat musik angklung.

Dari (Pendidikan Islam) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63887/mi-darul-ulum-jakarta-kembangkan-keterampilan-berbasis-budaya

Habib Syech Bersholawat

Thursday, July 28, 2011

Menyikapi Perbedaan dengan Berdialog

Fenomena konflik kekerasan yang terjadi selama ini, pengafiran, klaim sesat dan lain sebagainya, banyak yang ditengarai karena kurang adanya dialog yang produktif dan sikap toleran dalam memandang pendapat orang atau kelompok lain yang berbeda.

Sikap fanatik dan memandang kelompok lain salah sungguh tidak dapat dibenarkan sama sekali. Apalagi jika sampai memerangi dan memusuhi orang yang berlainan dengan pahamnya. Munculnya berbagai mazhab seharusnya tidak menjadi penyebab perpecahan, saling berseberangan, saling membenci dan mencaci. Tetapi, adanya banyak mazhab tersebut hendaknya dijadikan sebagai penyebab fleksibilitas, penguat hubungan, pemahaman argumen dan memperluas wawasan.

Menyikapi Perbedaan dengan Berdialog (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyikapi Perbedaan dengan Berdialog (Sumber Gambar : Nu Online)


Menyikapi Perbedaan dengan Berdialog

Maka, di sinilah sebetulnya pentingnya membangun budaya dialog yang kini sudah mulai tergeser oleh budaya otot dalam menyikapi perbedaan. Baik dialog interreligius maupun intrareligius. Dalam sejarahnya, Rasulullah SAW tidak menutup pintu dialog dengan orang musyrik, orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Bahkan beliau melakukan dialog dengan golongan-golongan ini di tengah-tengah Masjid Nabawi. Beliau menyambut dan berdialog dengan semuanya.

Budaya dialog juga tumbuh subur di kalangan ulama-ulama klasik. Bahkan, tak jarang terjadi perdebatan sengit di antara mereka dalam mempertahankan pendapatnya. Akan tetapi, perbedaan pandangan dan pemikiran tidak menghalangi mereka di dalam menjaga persaudaraan dan menjalin kasih sayang yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Habib Syech Bersholawat

Buku Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat yang ditulis oleh seorang intelektual muda Indonesia, Al-Hamid Jakfar Al-Qadri, lulusan Sekolah Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut, Yaman ini hadir pada saat yang sangat tepat di tengah meruyaknya aliran pemikiran dan keyakinan yang sedang berkembang di Indonesia. Cara menghadapi pemikiran-pemikiran itu adalah dengan berdialog bukan dengan cara kekerasan.

Ulasan-ulasan yang ada pada buku ini juga merekam pemikiran Al-Habib Umar bin Hafizhguru dari Al-Qadri sekaligus pengasuh Sekolah Darul Musthafadalam upaya membangun persaudaraan dan membina dialog di antara berbagai aliran keyakinan.

Habib Syech Bersholawat

Al-Habib Umar bin Hafizh adalah termasuk salah satu penandatangan dari dua dokumen internasional yang berpengaruh, yaitu Risalah Amman (2005) dan Common Word (2007). Isi dari Risalah Amman mengakui adanya keragaman mazhab dalam Islam, melarang saling mengafirkan di antara mereka, dan menyerukan persaudaraan Muslim dari berbagai mazhab. Sedangkan Common Word adalah surat terbuka yang ditulis oleh para ulama terkemuka dari banyak negaratermasuk Indonesiakepada pemimpin Kristen sebagai bentuk ajakan dialog yang produktif.

Al-Hamid Jakfar Al-Qadri juga menguraikan upaya Al-Habib Umar bin Hafizh dalam membangun persatuan umat Islam. Di antaranya adalah dengan mengadakan simposium ulama berkala internasional. Di Indonesia sendiri, beliau mendirikan forum komunikasi antar ulama. Forum ini mendapat respon positif dari berbagai kalangan, mulai dari para ulama yang berlatar belakang pesantren tradisional hingga para intelektual dan akademisi. (Halaman 37-46)

Di antara kelebihan buku ini, terutama untuk konteks masyarakat Indonesia, adalah solusi yang ditawarkan dalam menyikapi perbedaan pendapat. Pertama, toleran ketika berbeda. Caranya adalah dengan menghormati pendapat yang berbeda, bersikap objektif, tidak memusuhi pemilik pendapat yang berbeda, menyepakati demi menjaga persatuan dan memaklumi perbedaan yang terjadi.

Kedua, tidak saling mengafirkan dan menyesatkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari menyebutkan: "Barangsiapa yang menuduh kafir pada seorang mukmin maka itu sama dengan membunuhnya". Hadis ini memberikan informasi betapa bahayanya pengafiran pada orang lain. (Halaman 21-28)

Secara eksplisit, buku ini hendak mengajak pembaca untuk lebih mengedepankan dialog dalam menyikapi sebuah perbedaan pendapat. Dan menghindari fanatisme yang sampai menimbulkan tindakan anarkis. Dengan cara seperti ini, adanya perbedaan niscaya akan membuahkan rahmat. Bukan justru malah menimbulkan malapetaka.

Judul : Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat

Penulis : Al-Hamid Jakfar Al-Qadri

Penerbit : Mizan, Bandung

Cetakan : I, Desember 2012

Tebal : XVII+117 Halaman

ISBN : 978-979-433-753-0

Peresensi : Zainal Fanani, Anggota Forum Lingkar Pena cabang Hadhramout; mahasiswa Al-Ahgaff University, Tarim, Hadhramout, Yaman.

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43941/menyikapi-perbedaan-dengan-berdialog

Habib Syech Bersholawat

Wednesday, March 16, 2011

Imam Ahmad: Sehelai Rambutmu Lebih Mulia dari Jubah Ulama

Habib Syech Bersholawat - Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi wanita yang ingin mengadu. "Syaikh, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak sambil bekerja sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada. Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan."

Imam Ahmad: Sehelai Rambutmu Lebih Mulia dari Jubah Ulama
Imam Ahmad: Sehelai Rambutmu Lebih Mulia dari Jubah Ulama


Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah menyimak dengan serius penuturannya. Perasaannya miris mendengar keluhan janda itu. Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

"Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual? Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu? Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat," lanjut wanita tersebut.

Imam Ahmad rahimahullah terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri yang tidak peduli halal haram. Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa. Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad bertanya, "Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?"

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, "Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi."

Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. Basyar Al-Hafi adalah gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yang tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabat. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata, "pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis sorban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama,

"Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara,” jelas Imam Ahmad.

"Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau,” lanjut Imam Ahmad. [Habib Syech Bersholawat]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/imam-ahmad-sehelai-rambutmu-lebih-mulia-dari-jubah-ulama.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Habib Syech Bersholawat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Habib Syech Bersholawat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Habib Syech Bersholawat dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock